Logo
Cybersecurity

Apa yang Dilakukan oleh Information Security Process Manager dan Mengapa Kebanyakan Organisasi Salah

Hanya 37% organisasi yang memiliki pemilik proses keamanan yang formal. ITSEC Asia, pemimpin keamanan siber di Indonesia, menguraikan peran Manajer Proses Keamanan Informasi dan mengapa peran ini menjadi pembeda antara program keamanan yang benar-benar berfungsi dan yang sekadar ada.

|
Mei 25, 2026
Apa yang Dilakukan oleh Information Security Process Manager dan Mengapa Kebanyakan Organisasi Salah

Pendahuluan

Ada sebuah angka yang patut direnungkan: organisasi yang mendeteksi pelanggaran keamanan dengan program AI dan otomatisasi keamanan dapat menghemat rata-rata USD 2,2 juta dibandingkan mereka yang tidak menggunakannya. Namun peran operasional yang bertanggung jawab untuk membangun, memiliki, dan terus meningkatkan proses deteksi dan respons tersebut, yakni Manajer Proses Keamanan Informasi, tetap menjadi salah satu posisi yang paling kurang terdefinisi secara formal dalam keamanan perusahaan. Kebanyakan organisasi sudah memiliki alatnya. Sangat sedikit yang memiliki kepemilikan terstruktur yang membuat alat-alat tersebut bekerja bersama sebagai sebuah sistem. ITSEC Asia, pemimpin keamanan siber di Indonesia dengan operasi di Singapura, Australia, dan UEA, bekerja langsung dengan organisasi untuk mengisi celah ini: mengubah investasi keamanan yang terfragmentasi menjadi program yang terkelola, terukur, dan benar-benar efektif.

Sumber: IBM Cost of a Data Breach Report 2024

Apa yang Sebenarnya Dikelola oleh Peran Ini

Manajer Proses Keamanan Informasi adalah arsitek operasional dari sebuah program keamanan. Jika seorang CISO menetapkan arah dan seorang analis keamanan menjalankan tugas-tugas individual, maka Manajer Proses bertanggung jawab untuk mendefinisikan, mendokumentasikan, meningkatkan, dan mengatur proses-proses yang menghubungkan strategi dengan pelaksanaan. Ini mencakup kepemilikan atas alur kerja deteksi ancaman organisasi, pengelolaan umpan balik antara temuan respons insiden dan pembaruan kontrol, serta memastikan bahwa kerangka kerja seperti NIST Cybersecurity Framework 2.0 dan MITRE ATT&CK diterjemahkan dari dokumen referensi menjadi praktik operasional nyata.

Cakupannya lebih luas dari yang diakui oleh kebanyakan deskripsi pekerjaan. Tata kelola program perburuan ancaman (threat hunting) berada dalam peran ini, karena perburuan ancaman bukan keterlibatan satu kali melainkan disiplin berulang berbasis hipotesis yang membutuhkan kepemilikan terstruktur agar bisa berkembang. Proses penilaian kompromi (compromise assessment), yang menentukan apakah sebuah organisasi sudah pernah diretas dan apa yang berubah setelah sebuah insiden, memerlukan manajemen formal yang sama. Model Kematangan Perburuan Ancaman dari SANS Institute menggambarkan bagaimana organisasi bergerak dari investigasi reaktif dan ad hoc menuju program perburuan terstruktur dengan hipotesis yang terdefinisi, prosedur yang terdokumentasi, dan hasil yang terukur. Kemajuan kematangan tersebut tidak terjadi secara kebetulan. Itu terjadi ketika ada seseorang yang memiliki prosesnya.

Sumber: NIST Cybersecurity Framework 2.0 · MITRE ATT&CK Framework · SANS Institute: Threat Hunting Maturity Model

Mengapa Perburuan Ancaman dan Penilaian Kompromi Kini Menjadi Fungsi Inti

Waktu jeda penyerang (attacker breakout time), jendela antara akses awal dan pergerakan lateral melalui jaringan, telah menyusut menjadi hanya 62 menit untuk intrusi tercepat yang pernah teramati, dengan rata-rata di bawah tiga jam. Sistem deteksi berbasis tanda tangan dan pemindaian kerentanan berkala beroperasi pada skala waktu yang tidak lagi sesuai dengan realitas ancaman tersebut. Seorang Manajer Proses Keamanan Informasi yang memahami dinamika ini bertanggung jawab untuk memastikan bahwa kemampuan deteksi proaktif, khususnya perburuan ancaman dan penilaian kompromi, tertanam dalam operasi keamanan standar organisasi, bukan diperlakukan sebagai aktivitas opsional atau sesekali saja.

Penilaian kompromi menjawab pertanyaan yang sering enggan ditanyakan organisasi secara langsung: apakah ada penyerang di lingkungan sistem kami saat ini? Jika dilakukan dengan benar, penilaian ini memberikan dasar forensik yang memberi tahu tim keamanan seperti apa kondisi normal itu, yang merupakan fondasi tempat hipotesis perburuan ancaman dibangun. Kedua fungsi ini menghasilkan logika deteksi yang mengalir kembali ke dalam alat otomatis Pusat Operasi Keamanan, yang berarti setiap siklus perburuan dan setiap penilaian meningkatkan postur deteksi organisasi secara keseluruhan. Peran Manajer Proses adalah memastikan umpan balik tersebut benar-benar tertutup, bukan sekadar menghasilkan temuan yang hanya tersimpan dalam laporan yang tidak ditindaklanjuti siapa pun. Untuk sektor-sektor yang menanggung risiko tidak proporsional, termasuk layanan kesehatan, jasa keuangan, dan infrastruktur kritis, waktu tinggal penyerang yang tidak terdeteksi, bukan biaya respons pelanggaran, adalah pendorong utama kerugian akibat pelanggaran. Mengelola waktu tinggal adalah masalah proses sebelum menjadi masalah teknologi.

Sumber: CrowdStrike Global Threat Report 2024 · IBM Cost of a Data Breach Report 2024 · Ponemon Institute Data Breach Research 2024

Kerangka Kerja, Standar, dan Tekanan Regulasi yang Membentuk Peran Ini

Lingkungan eksternal telah membuat Manajemen Proses Keamanan Informasi semakin tidak opsional dalam beberapa tahun terakhir. NIST CSF 2.0 secara eksplisit meningkatkan fungsi Govern, dengan mengakui bahwa strategi keamanan siber harus tertanam dalam tata kelola risiko perusahaan, bukan terisolasi di dalam IT. Regulator yang mengawasi jasa keuangan dan infrastruktur kritis, termasuk BSSN melalui strategi keamanan siber nasional Indonesia dan Arahan NIS2 Uni Eropa di tingkat internasional, semakin mengharapkan organisasi untuk menunjukkan kemampuan deteksi yang aktif dan terdokumentasi, bukan sekadar pertahanan perimeter. Para auditor dan regulator meminta bukti proses, bukan sekadar bukti kepemilikan alat.

Kerangka kerja MITRE ATT&CK memberi Manajer Proses Keamanan Informasi kosakata terstruktur untuk dokumentasi tersebut. Ketika sebuah perburuan ancaman dirancang, ia dapat dipetakan ke teknik ATT&CK yang spesifik, sehingga cakupan program deteksi proaktif organisasi menjadi terlihat, dapat dikomunikasikan kepada pimpinan, dan dapat diaudit. Ketika sebuah celah teridentifikasi, remediasinya dapat dilacak terhadap kerangka kerja yang sama. Pendekatan berbasis bukti yang terstruktur terhadap manajemen proses keamanan semacam ini semakin menjadi ciri khas yang membedakan organisasi yang berhasil memuaskan regulator dan pulih dari insiden dengan bersih, dari mereka yang tertangkap tanpa jawaban yang memadai ketika investigasi pelanggaran dimulai.

Sumber: NIST Cybersecurity Framework 2.0 · MITRE ATT&CK Framework · BSSN National Cybersecurity Strategy

Bangun Kemampuan Proses Sebelum Insiden Membuatnya Mendesak

Organisasi yang mengalami pelanggaran paling merusak jarang sekali adalah mereka yang memiliki alat paling buruk. Mereka adalah yang beroperasi tanpa kepemilikan proses yang formal: tidak ada yang melacak apakah perburuan ancaman terjadi secara sistematis, tidak ada yang memastikan bahwa temuan penilaian kompromi diterjemahkan menjadi deteksi yang diperbarui, tidak ada yang mengatur umpan balik yang mengubah pengeluaran keamanan menjadi pengurangan risiko yang terukur. Peran Manajer Proses Keamanan Informasi hadir untuk menutup celah tersebut, dan organisasi yang berinvestasi dalam fungsi ini sebelum sebuah insiden memaksanya adalah mereka yang pulih lebih cepat, menghabiskan lebih sedikit biaya, dan menunjukkan kematangan keamanan yang sejati kepada regulator dan dewan direksi.

ITSEC Asia menyediakan kemampuan perburuan ancaman, penilaian kompromi, forensik digital, dan respons insiden bagi organisasi di seluruh Indonesia, Singapura, Australia, dan UEA. Jika organisasi Anda ingin menilai kematangan proses saat ini, membangun kepemilikan formal atas alur kerja deteksi dan respons, atau membangun kemampuan keamanan proaktif sebelum sebuah insiden membuatnya diperlukan, bicaralah langsung dengan para spesialis kami.

👉 Konsultasikan dengan spesialis keamanan kami https://itsec.asia/contact

Share this post

You may also like

Web Application Penetration Testing: Mengapa Aplikasi Web Masih Menjadi Target Utama Serangan Siber?
Cybersecurity

Web Application Penetration Testing: Mengapa Aplikasi Web Masih Menjadi Target Utama Serangan Siber?

Hampir seluruh organisasi modern bergantung pada aplikasi web. Mulai dari portal pelanggan, platform e-commerce, internet banking hingga sistem internal perusahaan, aplikasi web telah menjadi fondasi dari transformasi digital. Namun, semakin besar peran sebuah aplikasi, semakin tinggi pula nilainya di mata para pelaku ancaman. Tidak mengherankan jika aplikasi web masih menjadi salah satu pintu masuk yang paling sering dimanfaatkan dalam berbagai insiden keamanan siber. Karena itulah Web Application Penetration Testing menjadi bagian penting dalam strategi keamanan modern. APA ITU WEB APPLICATION PENETRATION TESTING? Web Application Penetration Testing adalah proses pengujian keamanan yang bertujuan untuk mengidentifikasi dan memvalidasi kelemahan pada aplikasi web sebelum dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Berbeda dengan vulnerability scanning yang sebagian besar dilakukan secara otomatis, penetration testing berupaya mensimulasikan teknik yang digunakan oleh attacker untuk memahami bagaimana sebuah kerentanan dapat memengaruhi keamanan aplikasi dan bisnis secara keseluruhan. Tujuannya bukan hanya menemukan celah keamanan, tetapi memahami dampak yang mungkin ditimbulkan apabila celah tersebut berhasil dieksploitasi. MENGAPA APLIKASI WEB MENJADI TARGET YANG MENARIK? APLIKASI WEB TERHUBUNG LANGSUNG DENGAN INTERNET Sebagian besar aplikasi web dapat diakses

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Jun 15, 2026 5 minutes read
Think Your System Is Secure? Penetration Testing Can Prove It
Cybersecurity

Think Your System Is Secure? Penetration Testing Can Prove It

INTRODUCTION Today, almost every organization relies on digital systems to run daily operations, from websites and cloud applications to payment systems and internal databases.  However, as digital infrastructure grows, so do cybersecurity risks. Attackers constantly look for vulnerabilities in applications, networks, and systems that they can exploit to gain unauthorized access or steal sensitive data (Cloudflare, 2024). Because of this growing threat landscape, organizations need ways to test their defenses before real attackers attempt to breach them. One of the most effective methods is penetration testing, often called pen testing, where cybersecurity professionals simulate attacks to identify security weaknesses before malicious actors do (IBM, 2024). In simple terms, penetration testing is authorized hacking designed to improve security rather than cause damage. Source: Cloudflare.com [https://www.cloudflare.com/learning/security/glossary/what-is-penetration-testing/], ibm.com [https://www.ibm.com/think/topics/penetration-testing] WHAT IS PENETRATION TESTING? Penetration testing is a cybersecurity assessment where security experts simulate cyberattacks on systems to identify vulnerabilities that attackers could exploit. These experts that are often known as penetration testers or ethical hackers use techniques similar to real attackers, but with permission from the organization and with the goal

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Apr 02, 2026 6 minutes read
Fraud Management in Digital Era: How to Detect, Prevent, and Respond Before Losses Escalate
Cybersecurity

Fraud Management in Digital Era: How to Detect, Prevent, and Respond Before Losses Escalate

INTRODUCTION In 2025, a large-scale fraud operation uncovered by INTERPOL revealed how sophisticated Business Email Compromise (BEC) scams have become. A transnational criminal group targeted a Japanese company by impersonating a legitimate business partner through hacked or spoofed email accounts. The communication looked completely normal with the same tone, same format, and same context. The attackers sent updated banking details for a supposed transaction, convincing the company to transfer funds to a fraudulent account based in Thailand. Because the email matched ongoing business conversations, there was no immediate suspicion. By the time the fraud was detected, millions had already been moved across multiple accounts. Fraud is no longer just about stolen wallets or obvious scams. In today’s digital world, it has evolved into something far more sophisticated, quiet, convincing, and often invisible. Powered by advanced technologies like Deepfake Technology and automated systems, modern fraud can replicate voices, mimic identities, and blend seamlessly into everyday digital interactions. What makes it dangerous is not just the technology, but how naturally it fits into

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Apr 10, 2026 6 minutes read

Receive weekly
updates on new posts

Subscribe