
News, Article, and Solution in Cybersecurity Realms.

Mengapa Pen-Test Tahunan Sudah Tidak Lagi Cukup di Tengah Lanskap Ancaman Siber yang Terus Berubah
Tidak sedikit orang yang rutin melakukan medical check-up setiap tahun untuk memastikan kondisi kesehatannya tetap baik. Namun, tidak ada yang benar-benar berasumsi bahwa hasil pemeriksaan tersebut menjamin semuanya akan baik-baik saja selama setahun penuh. Kondisi tubuh bisa berubah. Pola hidup berubah. Risiko penyakit baru dapat muncul sewaktu-waktu. Karena itu, menjaga kesehatan bukan hanya soal melakukan pemeriksaan tahunan, tetapi juga soal pemantauan dan kebiasaan yang dilakukan secara berkelanjutan. Prinsip yang sama berlaku dalam dunia keamanan siber. Selama bertahun-tahun, penetration test tahunan telah menjadi praktik yang umum dilakukan perusahaan. Organisasi menjadwalkan assessment, menerima laporan, melakukan perbaikan, lalu mengulang proses yang sama pada tahun berikutnya. Pada masanya, pendekatan ini cukup memadai karena lingkungan teknologi belum berubah secepat sekarang. Namun situasinya berbeda saat ini. Cloud semakin banyak digunakan. API menjadi fondasi berbagai layanan digital. Tim pengembang merilis fitur baru secara berkala, sementara integrasi dengan pihak ketiga semakin kompleks. Dalam kondisi seperti ini, permukaan serangan sebuah organisasi juga berubah secara terus-menerus. Sebuah sistem yang dinyatakan aman enam bulan lalu bisa saja memiliki profil risiko yang sangat berbeda hari ini. Hal tersebut



Recent Highlights

ITSEC Asia Ungkap Pola Ransomware yang Berkembang Sebelum Enkripsi Dimulai
ITSEC Asia, perusahaan keamanan siber dan AI di Indonesia dan kawasan Asia Pasifik, merilis whitepaper terbaru bertajuk From Sample to Signal: Uncovering the GodDamn Ransomware Operation. Riset ini menunjukkan bahwa ancaman ransomware perlu dipahami sebagai rangkaian aktivitas yang dapat berkembang jauh sebelum korban melihat tanda paling jelas berupa file yang terenkripsi. Analisis Tim Threat Intelligence ITSEC Asia terhadap GodDamn Ransomware menemukan sejumlah perilaku yang dapat menjadi sinyal serangan, mulai dari eksekusi mencurigakan, perubahan Registry dan service, ARP scanning, SMB probing, modifikasi file dalam jumlah besar hingga pembuatan ransom note. Sampel yang dianalisis juga menunjukkan kemampuan pemrosesan dan enkripsi pada lingkungan Windows dan Linux. Dalam salah satu insiden yang dikaji, aktivitas sebelum ransomware dijalankan mencakup penggunaan remote access, pengumpulan kredensial, network discovery serta lateral movement. Sedikitnya sepuluh host telah terdampak sebelum tahap ransomware deployment berlangsung. Patrick Dannacher, President Director ITSEC Asia, mengatakan bahwa organisasi perlu melihat ransomware sebagai proses intrusi, bukan sekadar malware yang mengenkripsi file. “Ransomware sering kali baru terlihat ketika file sudah terenkripsi dan operasional mulai terganggu. Padahal sebelum itu, penyerang bisa saja

Persiapan Post Quantum Tidak Harus Dimulai dari Menjadi Cryptographer
Tanyakan kepada security team di mana perusahaan menggunakan cryptography. Jawaban pertama biasanya cukup mudah: TLS certificate, VPN, encrypted database dan authentication system. Lalu lanjutkan pertanyaannya. Bagaimana dengan API? Code signing? SSH? Embedded device? Software library? Cloud service? Machine identity? Third party application? Daftarnya bisa memanjang dengan cepat. Ini relevan karena NIST sudah meminta organisasi mulai melakukan migrasi menuju post quantum cryptography. Tiga standar PQC pertama sudah final sejak 2024 dan NIST menyebut product, service serta protocol perlu diperbarui untuk meninggalkan public key algorithm yang rentan terhadap quantum computing. NIST [https://www.nist.gov/pqc?utm_source=chatgpt.com] Workforce challenge-nya muncul bahkan sebelum algoritma pertama diganti. MULAI DENGAN MENEMUKAN CRYPTOGRAPHY Proyek Migration to Post Quantum Cryptography dari NIST mendefinisikan cryptographic inventory sebagai catatan penggunaan cryptography di system, application, service, device dan data flow. Inventory tersebut dapat mencakup algorithm, protocol, key, certificate serta komponen yang bergantung pada semuanya. NIST Pages [https://pages.nist.gov/nccoe-migration-post-quantum-cryptography/?utm_source=chatgpt.com] Membangunnya membutuhkan kemampuan yang lebih luas daripada memahami matematika di balik ML-KEM atau ML-DSA. Tim perlu mampu: * Menemukan cryptography yang tertanam dalam application dan infrastructure * Memahami TLS, SSH, VPN, certificate dan digital signature

Cloud Security Dimulai dari Lapisan di Bawahnya
Seorang cloud security engineer melihat traffic tidak biasa menuju sebuah aplikasi. Access policy terlihat benar. Workload configuration juga normal. Tidak ada sesuatu yang langsung terlihat bermasalah. Investigasi kemudian bergerak ke area yang sedikit lebih rumit. Request tersebut resolve ke mana? Route apa yang dilewati? Identity apa yang digunakan workload? Protocol apa yang membawa koneksinya? Apakah traffic melewati edge service, private network atau cloud environment lain? Cloud console bisa menjawab sebagian pertanyaan tersebut. Sisanya membutuhkan pemahaman network dan infrastructure. Program ITU Academy yang berlangsung sampai 28 September 2026 memberi gambaran menarik tentang betapa terhubungnya teknologi tersebut. Kurikulumnya menggabungkan cloud dan edge computing dengan IPv6, QUIC, DNS, SD-WAN, fixed dan mobile broadband, IoT, AI serta cybersecurity. ITU Academy [https://academy.itu.int/training-courses/full-catalogue/future-fixed-and-mobile-broadband-internet-cloud-computing-and-iotai-1?utm_source=chatgpt.com] Untuk pengembangan tenaga cybersecurity, kombinasi tersebut masuk akal. Cloud security membutuhkan orang yang memahami teknologi di bawah cloud. ABSTRACTION TIDAK MENGHAPUS FUNDAMENTAL Cloud service sangat baik dalam menyembunyikan kompleksitas infrastructure. Memang itu salah satu manfaatnya. Security team tidak selalu mendapatkan kemewahan yang sama. DNS configuration dapat mengarahkan user ke tujuan yang keliru. Routing decision dapat membuka service yang seharusnya
.png)