Logo
Cybersecurity

Aplikasi Pihak Ketiga yang Anda Setujui Bisa Memiliki Akses Lebih Luas dari Dugaan

Integrasi yang dipercaya perusahaan dapat menjadi jalur masuk ke lingkungan cloud jika identitas aplikasi dan hak aksesnya disalahgunakan.

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Nov 03, 2026
Aplikasi Pihak Ketiga yang Anda Setujui Bisa Memiliki Akses Lebih Luas dari Dugaan

Sebuah aplikasi dari penyedia layanan eksternal dihubungkan ke sistem internal karena perlu bertukar data. Administrator menyetujui permintaan aksesnya, integrasi berjalan dan pekerjaan selesai. Beberapa bulan kemudian, aplikasi tersebut mungkin masih memiliki izin untuk membaca data sensitif atau menjalankan fungsi administratif yang sebenarnya tidak lagi dibutuhkan.

Akses seperti ini sering luput dari pemeriksaan rutin. Aplikasi pihak ketiga tidak selalu membutuhkan karyawan untuk login secara interaktif setiap kali mengakses layanan cloud. Application identity dapat menggunakan izin yang sudah diberikan untuk bekerja di latar belakang. Karena itu, pemeriksaan akun pengguna saja belum tentu menunjukkan seluruh akses yang dimiliki organisasi.

Australian Signals Directorate's Australian Cyber Security Centre (ASD's ACSC) menerbitkan peringatan yang terakhir ditinjau pada 26 Oktober 2026 mengenai kampanye serangan yang melibatkan penyalahgunaan identitas aplikasi pihak ketiga. Identitas tersebut digunakan untuk mengakses lingkungan cloud pelanggan melalui izin yang sebelumnya telah diberikan. Aktivitas yang dilaporkan mencakup upaya mempertahankan akses dan mengubah hak istimewa. ACSC juga menjelaskan bahwa AI dapat meningkatkan kecepatan dan skala operasi semacam ini.

Kelemahan dasarnya sebenarnya sudah dikenal: akses yang dipercaya dapat disalahgunakan jika izinnya terlalu luas. AI mempercepat kemungkinan penyalahgunaan tersebut. Karena itu, integrasi aplikasi perlu masuk dalam ruang lingkup pengujian keamanan perusahaan.

Uji hubungan aksesnya, bukan hanya aplikasinya

Pengujian aplikasi web biasanya memeriksa endpoint yang terbuka, autentikasi dan logika aplikasi. Semua itu tetap diperlukan. Namun, ada celah yang bisa terlewat jika pengujian tidak memeriksa identitas dan izin yang menghubungkan aplikasi dengan layanan lain.

Pengujian yang terotorisasi sebaiknya mencakup lingkungan cloud milik organisasi dan jalur integrasi yang telah disetujui. Pertanyaannya adalah sejauh mana identitas aplikasi yang disusupi dapat menjangkau sistem lain, tindakan apa yang dapat dilakukan dan apakah aktivitas tersebut akan terdeteksi.

Ada empat area yang perlu diperiksa:

  • Inventaris aplikasi: Identifikasi app registration, service principal, OAuth grant, API credential dan sertifikat yang masih aktif. Hapus integrasi yang sudah tidak diperlukan.

  • Cakupan izin: Bandingkan izin yang diberikan dengan fungsi bisnis aplikasi. Tinjau persetujuan berisiko tinggi dan hak administratif yang terlalu luas.

  • Jalur akses: Periksa apakah identitas aplikasi dapat menjangkau data sensitif, menjalankan fungsi istimewa atau mengakses layanan lain di luar kebutuhan awalnya.

  • Deteksi dan pencabutan akses: Pastikan log mencatat persetujuan akses yang tidak biasa, penambahan kredensial dan perubahan hak akses. Dalam rencana pengujian yang disetujui, uji apakah akses dapat dicabut dan kredensial terkait dapat ditangani dengan benar.

ACSC merekomendasikan pembatasan izin aplikasi, persetujuan administrator untuk izin OAuth berisiko tinggi, perlindungan kredensial aplikasi serta pemantauan identitas non-manusia bersama akun pengguna. Panduan cloud security mereka juga menjelaskan bahwa tanggung jawab keamanan cloud dibagi antara penyedia dan pelanggan, sementara organisasi tetap bertanggung jawab melindungi datanya sendiri.

Peran AI-assisted penetration testing

NIST melalui Technical Guide to Information Security Testing and Assessment menjelaskan pendekatan terstruktur untuk merencanakan pengujian teknis, menganalisis hasil dan menentukan strategi mitigasi. Panduan tersebut juga mengingatkan bahwa setiap teknik pengujian memiliki manfaat dan keterbatasan.

AI-assisted penetration testing dapat membantu tim keamanan memperluas proses pemeriksaan terhadap target yang telah diotorisasi dan menemukan jalur akses yang perlu diteliti lebih lanjut. Hasilnya tetap bergantung pada ruang lingkup, akses yang tersedia dan jenis sistem yang didukung oleh platform. Sistem milik penyedia eksternal harus tetap berada di luar ruang lingkup kecuali ada izin terpisah.

Bagi perusahaan, pertanyaan utamanya adalah seberapa jauh akses sebuah integrasi dapat menjangkau sistem lain dan apakah risikonya sudah dipahami. Daftar izin hanya menunjukkan apa yang diberikan. Pengujian perlu menunjukkan konsekuensi dari izin tersebut.

Bronyx AI, platform autonomous penetration testing berbantuan AI dari ITSEC, relevan bagi organisasi yang ingin mengevaluasi penggunaan AI dalam program pengujian keamanan. Mulailah dengan menetapkan aset dan jalur identitas yang boleh diuji, memastikan batas otorisasi dan menilai hasilnya berdasarkan prioritas risiko perusahaan.

Pelajari Bronyx AI di https://bronyx.ai/.

Referensi

  1. Australian Signals Directorate's Australian Cyber Security Centre (ASD's ACSC), AI-enabled attacks highlight supply chain and cloud security risks, terakhir ditinjau 26 Oktober 2026. https://www.cyber.gov.au/blog/ai-enabled-attacks-highlight-supply-chain-and-cloud-security-risks

  2. Australian Signals Directorate's Australian Cyber Security Centre (ASD's ACSC), Cloud computing security for tenants, diterbitkan 18 Desember 2014, terakhir ditinjau 18 Januari 2024. https://www.cyber.gov.au/publication/cloud-computing-security-for-tenants

  3. National Institute of Standards and Technology (NIST), Technical Guide to Information Security Testing and Assessment, Special Publication 800-115, September 2008. https://csrc.nist.gov/pubs/sp/800/115/final

Share this post

You may also like

Yang Harus Ditanyakan CISO Sebelum Memilih Penyedia Jasa Penetration Testing di 2026
Cybersecurity

Yang Harus Ditanyakan CISO Sebelum Memilih Penyedia Jasa Penetration Testing di 2026

PENDAHULUAN Berapa persen dari laporan pentest terakhir Anda yang benar-benar terbukti dapat dieksploitasi, dan berapa persen yang hanya daftar temuan hasil scanner otomatis yang tidak pernah divalidasi siapa pun? Sebagian besar CISO tidak bisa menjawab pertanyaan ini dengan yakin, dan itulah masalahnya. Buyers guide yang terbit tahun ini menunjukkan pola yang layak direnungkan. Jika penawaran penetration testing datang dengan harga empat sampai lima ribu dolar atau kurang, kemungkinan besar itu adalah automated vulnerability scan yang dibungkus label pentest, bukan pekerjaan manual yang dilakukan tester berpengalaman. Kesenjangan antara apa yang dijual sebagai penetration test dan apa yang sebenarnya diberikan inilah yang membuat proses seleksi jauh lebih penting daripada yang biasanya diperlakukan oleh tim procurement. ITSEC Asia, perusahaan keamanan siber terkemuka di Indonesia, bekerja sama dengan organisasi di Indonesia, Singapura, Australia, dan UAE yang telah melalui proses evaluasi seperti ini, dan pertanyaan yang membedakan engagement yang benar-benar berguna dari sekadar checkbox exercise yang mahal jauh lebih spesifik daripada yang biasanya ditanyakan dalam RFP. Sumber: Six Questions to Ask a Penetration Testing Vendor [https://www.drummondgroup.com/blog/six-questions-to-ask-a-penetration-testing-vendor/] PERTANYAAN YANG SEBENARNYA

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Jul 17, 2026 — 5 minutes read
Punya Prosedur Respons Insiden Belum Berarti Tim Siap Menghadapinya
Cybersecurity

Punya Prosedur Respons Insiden Belum Berarti Tim Siap Menghadapinya

Sebuah dokumen prosedur respons insiden bisa terlihat sangat rapi. Tim sudah punya daftar kontak, alur eskalasi dan langkah pemulihan. Namun, ketika sebuah akun penting diretas dan aktivitas mencurigakan mulai menyebar, pertanyaan muncul bersamaan: apakah serangan masih berlangsung, apakah data pelanggan terdampak dan siapa yang berwenang memutuskan penghentian layanan? Dalam situasi seperti itu, menghafal prosedur saja tidak cukup. Tim harus mampu menafsirkan informasi yang belum lengkap, menentukan prioritas dan berkoordinasi tanpa membuang waktu. Karena itu, simulasi insiden siber seharusnya menjadi bagian dari pengembangan talenta keamanan siber. Simulasi memberi kesempatan bagi karyawan untuk mempraktikkan pengetahuan mereka dalam skenario terkendali sebelum menghadapi insiden nyata. KETERAMPILAN HARUS DIUJI DALAM SITUASI YANG MENYERUPAI KENYATAAN Pada Februari 2026, European Union Agency for Cybersecurity (ENISA) menerbitkan Cybersecurity Exercise Methodology. Panduan ini membantu organisasi merancang, menjalankan dan mengevaluasi latihan keamanan siber. Prosesnya mencakup penilaian hasil latihan agar kelemahan yang ditemukan bisa diterjemahkan menjadi perbaikan konkret. Panduan ENISA [https://www.enisa.europa.eu/news/cybersecurity-preparedness-diy-build-your-own-cybersecurity-exercise?utm_source=chatgpt.com] dapat menjadi acuan bagi organisasi yang ingin menghubungkan pelatihan dengan kesiapan operasional. Kebutuhan ini terasa dalam pekerjaan sehari-hari. Analis SOC mungkin mampu membaca peringatan keamanan, tetapi belum

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Okt 28, 2026 — 3 minutes read
Skills Gap Cybersecurity Bisa Berawal dari Job Design yang Keliru
Cybersecurity

Skills Gap Cybersecurity Bisa Berawal dari Job Design yang Keliru

Job description cybersecurity kadang cukup ambisius. Perusahaan membutuhkan seseorang yang memahami cloud security, mampu menginvestigasi insiden, menguji aplikasi, mengelola risk, memahami regulasi, mengatur security tools dan kalau terjadi masalah bisa menjelaskannya kepada manajemen. Pengalaman lima tahun lebih disukai. Kandidat seperti itu tentu menarik. Proses mencarinya mungkin sedikit panjang. European Cybersecurity Skills Framework dari ENISA memberikan gambaran yang lebih realistis. Framework tersebut membagi pekerjaan cybersecurity menjadi 12 professional profile, termasuk Cyber Incident Responder, Cybersecurity Architect, Penetration Tester, Cybersecurity Risk Manager, Digital Forensics Investigator dan Cyber Threat Intelligence Specialist. Setiap profile memiliki task, knowledge dan competency yang berbeda. Pada saat yang sama, mereka saling bergantung. Cara melihat skills gap pun perlu ikut berubah. PERIKSA PEKERJAANNYA SEBELUM MENYALAHKAN TALENT POOL Beberapa role tentu bisa overlap, terutama dalam tim yang lebih kecil. User manual ECSF sendiri dibuat fleksibel agar organisasi dapat menyesuaikan pembagian tanggung jawab dengan kebutuhan mereka. Masalah muncul ketika overlap berubah menjadi tumpukan pekerjaan. Sebelum membuka lowongan, organisasi bisa memeriksa: * Task mana yang memang harus dimiliki role tersebut? * Kemampuan mana yang seharusnya berada pada anggota

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Sep 22, 2026 — 3 minutes read

Receive weekly
updates on new posts

Subscribe