Logo
Cybersecurity

Berhenti Menganggap Skills Gap Cybersecurity sebagai Satu Kekurangan Besar

SOC, cloud security dan penetration testing sama-sama berada di bawah payung cybersecurity. Skill yang kurang di masing-masing area belum tentu sama.

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Sep 21, 2026
Berhenti Menganggap Skills Gap Cybersecurity sebagai Satu Kekurangan Besar

“Cybersecurity talent shortage” terdengar jelas sampai organisasi harus menentukan apa yang sebenarnya perlu dilakukan.

Rekrut lebih banyak orang. Latih lebih banyak lulusan. Lakukan upskilling.

Baik. Skill apa yang perlu dilatih?

NIST membawa pertanyaan tersebut ke program pengembangan tenaga cybersecurity terbaru mereka. Pada 18 September, NIST mengumumkan pendanaan lebih dari US$1,7 juta untuk sembilan proyek Regional Alliances and Multistakeholder Partnerships to Stimulate Cybersecurity Education and Workforce Development atau RAMPS di delapan negara bagian AS.

Bagian yang menarik bukan angka pendanaannya, melainkan cara program tersebut dirancang.

Setiap proyek harus menghubungkan kebutuhan tenaga cybersecurity dari bisnis dan organisasi lokal dengan learning objective yang mengacu pada NICE Workforce Framework. Kebutuhan itu kemudian diterjemahkan menjadi curriculum development, internship, apprenticeship, hands-on project dan bentuk pembelajaran lain.

Artinya, pelatihan dimulai dari kemampuan yang memang belum tersedia.

Satu Shortage Bisa Berisi Banyak Gap

Bayangkan tiga organisasi sedang mencari talenta cybersecurity.

Institusi keuangan mungkin membutuhkan orang yang mampu menginvestigasi identity abuse dan menangani insiden. Perusahaan yang banyak menggunakan cloud bisa kesulitan mencari orang yang memahami cloud configuration, IAM dan security automation. Organisasi yang membangun layanan digital mungkin membutuhkan application security dan penetration testing.

Ketiganya bisa melaporkan “cybersecurity skills gap.”

Memberikan program pelatihan yang sama kepada semuanya memang praktis. Hasilnya belum tentu berguna.

Workforce assessment yang lebih tajam perlu bertanya:

  • Pekerjaan cybersecurity apa yang saat ini sulit dilakukan?
  • Role mana yang terlalu bergantung pada satu atau dua specialist?
  • Teknologi baru akan menciptakan kebutuhan skill apa?
  • Di area mana karyawan memahami teori tetapi kurang pengalaman praktik?
  • Skill mana yang cukup sering dibutuhkan sehingga layak dibangun secara internal?

Pertanyaan tersebut mengubah masalah talenta yang abstrak menjadi kebutuhan yang bisa dilatih.

Petakan Pekerjaannya Sebelum Menentukan Kelas

NICE Framework membantu karena cybersecurity dijelaskan melalui work role, task, knowledge dan skill. Perusahaan dan penyedia pendidikan bisa membahas kemampuan dengan lebih spesifik daripada menggunakan satu label besar seperti “cybersecurity specialist.”

Program RAMPS yang baru mengikuti logika serupa. NIST menyebut proyek tersebut mempertemukan employer, institusi pendidikan dan organisasi pengembangan ekonomi agar pelatihan sesuai dengan kebutuhan tenaga di masing-masing wilayah.

Prinsip yang sama bisa digunakan dalam corporate training.

Sebelum mengambil pelatihan cybersecurity yang terlalu luas, petakan dulu pekerjaannya. Kalau SOC analyst kesulitan melakukan cloud investigation, latih area tersebut. Kalau penetration tester membutuhkan kemampuan API testing, buat latihan yang memang berfokus pada API. Kalau manager kesulitan mengambil keputusan ketika insiden terjadi, sertifikasi teknis tambahan mungkin tidak banyak membantu rapat berikutnya.

Gap yang spesifik membutuhkan latihan yang spesifik.

Dekatkan Pelatihan dengan Pekerjaan

Setelah kemampuan yang dibutuhkan sudah jelas, bentuk pelatihannya lebih mudah ditentukan.

Calon SOC analyst dapat berlatih menginvestigasi simulated incident. Peserta yang membangun kemampuan penetration testing dapat bekerja langsung dengan aplikasi latihan. Sementara peserta cloud security dapat mencari dan memperbaiki misconfiguration dalam environment simulasi.

Pendekatan tersebut sejalan dengan pembelajaran di ITSEC Cyber & AI Academy, tempat hands-on environment dapat digunakan untuk menghubungkan learning objective dengan pekerjaan yang nantinya benar-benar dilakukan peserta.

Skills gap cybersecurity memang ada. Menyebut semuanya sebagai satu ruang kosong yang sangat besar justru membuat masalahnya lebih sulit diselesaikan.

Tentukan kemampuan yang kurang terlebih dahulu. Baru latih orang untuk mengisinya.

Pelajari program cybersecurity dan AI berbasis praktik di ITSEC Cyber & AI Academy.

Referensi: NIST: Pendanaan US$1,7 Juta untuk Cybersecurity Workforce Development, 18 September 2026 · NIST NICE · ENISA European Cybersecurity Skills Conference 2026

Share this post

You may also like

Indonesia Makin Banyak Membeli Teknologi Keamanan Siber. Apakah SDM-nya Sudah Siap?
Cybersecurity

Indonesia Makin Banyak Membeli Teknologi Keamanan Siber. Apakah SDM-nya Sudah Siap?

Indonesia terus meningkatkan investasi di bidang keamanan siber seiring perusahaan semakin bergantung pada cloud, AI, dan layanan digital. Platform keamanan juga semakin canggih. Namun, kemampuan orang yang mengoperasikan teknologi tersebut harus berkembang dengan kecepatan yang sama. Kesenjangan ini semakin sulit diabaikan. Menurut 2025 ISC2 Cybersecurity Workforce Study, 95% profesional keamanan siber melaporkan adanya kebutuhan keterampilan tertentu di organisasi mereka. AI menjadi kebutuhan keterampilan terbesar dengan 41% responden, disusul cloud security sebesar 36%. Artinya, persoalannya bukan sekadar kekurangan tenaga keamanan siber. Organisasi membutuhkan SDM dengan keterampilan spesifik untuk mengamankan teknologi yang semakin kompleks. TEKNOLOGI BARU MEMBUTUHKAN KETERAMPILAN BARU Perusahaan yang memindahkan infrastrukturnya ke cloud membutuhkan profesional yang memahami arsitektur cloud, identity and access management, serta kerentanan khusus pada lingkungan cloud. Organisasi yang menggunakan AI membutuhkan SDM yang memahami cara mengamankan sistem AI sekaligus bagaimana teknologi tersebut dapat dimanfaatkan oleh penyerang. Tim keamanan yang menggunakan lebih banyak alat otomatisasi juga tetap membutuhkan analis yang mampu memeriksa alert dan membedakan serangan nyata dari false positive. Keterampilan yang semakin dibutuhkan organisasi antara lain: * AI dan AI security * Cloud security

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Agu 27, 2026 — 3 minutes read
Apa yang Membedakan AI-Powered Penetration Testing dari Automated Scanner?
Cybersecurity

Apa yang Membedakan AI-Powered Penetration Testing dari Automated Scanner?

PENDAHULUAN Seberapa banyak temuan yang ditandai oleh vulnerability scanner setiap minggu yang benar-benar terbukti nyata? Riset dari OWASP menunjukkan false positive rate untuk jenis vulnerability umum berada di kisaran 15% hingga 30%, dan riset terpisah dari Snyk menemukan bahwa tim security kini menghabiskan sekitar 70% waktu mereka untuk mengejar alert yang ternyata tidak ada apa-apanya. Kesenjangan antara apa yang dilaporkan oleh tool dan apa yang sebenarnya bisa dieksploitasi bukanlah gangguan kecil. Inilah alasan mengapa sepertiga perusahaan yang disurvei mengaku terlambat merespons serangan sungguhan karena tim mereka sibuk menangani ancaman palsu. ITSEC Asia, perusahaan cybersecurity terkemuka di Indonesia, bekerja sama dengan organisasi di seluruh kawasan yang telah mempelajari hal ini dengan cara yang sulit, dan pertanyaan yang terus muncul cukup sederhana. Jika scanner sudah mencentang semua kotak yang diperlukan, mengapa AI-powered penetration testing masih diperlukan, dan apa sebenarnya yang dilakukannya secara berbeda? Sumber: OWASP false positive research via DEV Community [https://dev.to/kuboidsecurelayer/why-automated-vulnerability-scanners-miss-most-real-security-vulnerabilities-2p96] · Snyk: Minimizing False Positives [https://snyk.io/blog/minimizing-false-positives-enhancing-security-efficiency/] PERBEDAAN MENDASAR: MENGIKUTI ATURAN VERSUS BERNALAR SEPERTI ATTACKER Automated scanner bekerja dengan mencocokkan apa yang dilihatnya terhadap library pola-pola yang

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Jul 03, 2026 — 5 minutes read
Cloud Misconfiguration Masih Jadi Penyebab Utama Kebocoran Data: Begini Cara Tetap Aman
Cybersecurity

Cloud Misconfiguration Masih Jadi Penyebab Utama Kebocoran Data: Begini Cara Tetap Aman

Pendahuluan Berapa banyak storage bucket, IAM role, atau API endpoint di lingkungan cloud organisasi Anda yang bisa Anda pastikan sudah dikonfigurasi dengan benar saat ini. Sebagian besar pemimpin keamanan tidak bisa menjawab pertanyaan ini dengan yakin, dan ketidakpastian itulah yang justru dimanfaatkan penyerang. Riset industri terbaru menunjukkan gambaran yang cukup jelas. Verizon Data Breach Investigations Report mengaitkan lima belas persen breach langsung dengan cloud misconfiguration, sementara analisis terpisah dari SentinelOne menemukan bahwa sembilan puluh lima persen kegagalan keamanan cloud berasal dari human error, bukan dari kelemahan platform itu sendiri. Gartner sudah bertahun-tahun menyampaikan hal serupa, memproyeksikan bahwa hingga 2026, sembilan puluh sembilan persen kegagalan keamanan cloud akan menjadi kesalahan pengguna, bukan penyedia layanan. ITSEC Asia, perusahaan cybersecurity terkemuka di Indonesia, bekerja sama dengan organisasi di Indonesia, Singapura, Australia, dan UAE yang tengah berlomba memodernisasi infrastruktur mereka, dan polanya konsisten di mana-mana. Tim bergerak cepat untuk pindah ke cloud, sementara governance yang dibutuhkan untuk mengamankan lingkungan tersebut diam-diam tertinggal di belakang. Source: Cloud Security Statistics 2026: Key Data and Trends Alasan Misconfiguration Masih Mengalahkan Malware

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Agu 07, 2026 — 5 minutes read

Receive weekly
updates on new posts

Subscribe