Logo
Cybersecurity

Cybersecurity Juga Punya People Skills Gap

Memahami apa yang terjadi adalah satu kemampuan. Menjelaskannya dengan cukup jelas agar orang lain bisa mengambil keputusan yang tepat adalah kemampuan lain.

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Sep 25, 2026
Cybersecurity Juga Punya People Skills Gap

Seorang analyst sudah menghabiskan dua jam menginvestigasi aktivitas mencurigakan. Ia memahami urutan kejadiannya, mengetahui sistem yang mungkin terdampak dan memiliki hipotesis yang cukup kuat tentang tindakan attacker.

Kemudian incident manager bertanya, “Sekarang kita harus melakukan apa?”

Jawabannya langsung membutuhkan lebih dari technical knowledge.

Pekerjaan cybersecurity penuh dengan situasi seperti ini. Finding harus dijelaskan. Asumsi perlu diuji. Tim harus bisa berbeda pendapat tanpa membuang waktu. Technical specialist juga perlu berbicara dengan executive, engineer, auditor dan orang yang mungkin belum siap mendengar istilah “lateral movement” sebelum kopi pertama mereka.

Program NICE dari NIST memasukkan kemampuan tersebut sebagai bagian dari pekerjaan cybersecurity. Workplace skills yang mereka identifikasi mencakup communication, collaboration, critical thinking, conflict management, resilience, strategic thinking dan relationship building.

Ini seharusnya ikut memengaruhi cara organisasi melatih tim cybersecurity.

Komunikasi Menentukan Nilai dari Skill Teknis

Bayangkan penetration tester menemukan vulnerability yang serius.

Menemukannya membutuhkan kemampuan teknis. Menjelaskan kenapa vulnerability tersebut berbahaya membutuhkan kemampuan lain.

Tester harus menjelaskan attack path dengan akurat, memisahkan evidence dari asumsi lalu memberikan informasi yang cukup agar developer bisa mereproduksi masalah. Seseorang juga perlu menjelaskan business impact kepada management tanpa membuat situasinya terdengar seperti kiamat atau berubah menjadi kuliah panjang mengenai protocol.

NICE mendefinisikan komunikasi cybersecurity secara luas, mulai dari bekerja dengan anggota tim, menulis report dan membuat presentation sampai berkomunikasi dengan leadership serta external stakeholder. NICE juga memasukkan kemampuan mendengarkan karena komunikasi cepat gagal ketika semua orang hanya menunggu giliran bicara.

Tekanan Membuat People Skills Terlihat

Kemampuan tersebut semakin jelas ketika insiden terjadi.

Incident responder mungkin memiliki evidence yang belum lengkap sementara beberapa tim meminta jawaban secara bersamaan. Engineer bisa tidak setuju dengan keputusan containment karena berpotensi mengganggu production. Management mungkin meminta kepastian ketika kepastian memang belum tersedia.

Kemampuan teknis tetap dibutuhkan. Namun tim juga perlu mampu:

  • Menjelaskan mana yang sudah diketahui, belum diketahui dan masih berupa asumsi
  • Mengajukan pertanyaan yang tepat ketika waktu terbatas
  • Menantang keputusan tanpa menghambat response
  • Menyesuaikan technical detail dengan audience
  • Mendokumentasikan keputusan agar pekerjaan bisa dilanjutkan orang lain
  • Mengetahui kapan perbedaan pendapat perlu dieskalasikan

NICE secara khusus memasukkan conflict management karena pekerjaan cybersecurity sering melibatkan keputusan dengan konsekuensi yang cukup besar.

People Skills Juga Bisa Dilatih

Kemampuan komunikasi tidak perlu dibiarkan bergantung pada personality.

Cyber range exercise dapat meminta analyst memberikan briefing kepada incident manager setelah melakukan investigasi. Peserta penetration testing dapat mempresentasikan finding kepada simulated development team. Dalam latihan cloud security, peserta dapat diminta mempertahankan remediation decision ketika tim lain mengangkat risiko terhadap operasional.

Technical problem tetap menjadi inti latihan. Bedanya, latihan belum selesai sampai peserta mampu memindahkan pemahamannya kepada orang lain.

Pendekatan seperti ini relevan dengan pengembangan praktis di ITSEC Cyber & AI Academy. Skenario realistis dapat mengasah kemampuan teknis sambil meminta peserta menjelaskan finding, mengoordinasikan keputusan dan bekerja dengan informasi yang belum sempurna.

Tim cybersecurity membutuhkan orang yang mampu menemukan masalah sulit.

Mereka juga membutuhkan orang yang bisa membuat masalah tersebut dipahami oleh semua pihak yang bertanggung jawab memperbaikinya.

Pelajari program cybersecurity dan AI berbasis praktik di ITSEC Cyber & AI Academy.

Referensi: NIST NICE: Workplace Skills and the NICE Framework · NIST: Cyber Career Realities Revealed, diumumkan September 2026 · NIST NICE Workforce Framework

Share this post

You may also like

Jika AI Mengambil Alih Tugas Awal di SOC, Di Mana Analis Junior Akan Belajar?
Cybersecurity

Jika AI Mengambil Alih Tugas Awal di SOC, Di Mana Analis Junior Akan Belajar?

Security Operations Centre (SOC) selama ini menjadi tempat bagi banyak profesional cybersecurity untuk membangun pengalaman. Analis junior belajar memeriksa alert, menyelidiki aktivitas mencurigakan, menghubungkan log dan mengenali pola yang sudah terbiasa dilihat oleh rekan senior. Pekerjaannya mungkin berulang, tetapi dari proses itulah ketajaman analisis berkembang. AI mulai mengubah proses tersebut. Sistem otomatis dapat merangkum alert, menghubungkan berbagai peristiwa dan menentukan prioritas ancaman sehingga analis menghabiskan lebih sedikit waktu untuk pemeriksaan rutin. Efisiensi ini menarik, terutama bagi tim yang harus menangani banyak peristiwa keamanan. Namun, ada pertanyaan yang perlu dijawab: bagaimana talenta pemula memperoleh pengalaman jika sebagian pekerjaan awal mereka semakin banyak dilakukan oleh mesin? Laporan pemerintah Inggris, Cyber Security Skills in the UK Labour Market 2026, yang diterbitkan pada 29 September 2026, menemukan bahwa 70% perusahaan cybersecurity menggunakan AI dalam pekerjaan sehari-hari, naik dari 53% pada studi sebelumnya. Sebanyak 73% juga memperkirakan kebutuhan keterampilan AI akan meningkat dalam 12 bulan berikutnya. Riset kualitatif dalam laporan tersebut mengangkat kekhawatiran bahwa otomatisasi dan agentic AI dapat mengurangi sebagian tugas SOC tingkat pemula sehingga kesempatan analis

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Okt 16, 2026 — 3 minutes read
AI Menaikan Standar Talenta Keamanan Siber
Cybersecurity

AI Menaikan Standar Talenta Keamanan Siber

AI semakin sering digunakan dalam pekerjaan keamanan siber sehari-hari. Global Cybersecurity Outlook 2026 dari World Economic Forum mencatat 77% organisasi yang disurvei telah menggunakan AI untuk keamanan siber. Pemanfaatannya antara lain untuk mendeteksi phishing, merespons intrusi dan menganalisis perilaku pengguna. Bagi tim yang setiap hari berhadapan dengan banyak data dan alert, tentu ini membantu. Namun AI tidak membuat kebutuhan terhadap talenta keamanan siber berkurang. Justru standar kemampuan manusianya ikut naik. KALAU MESIN MAKIN PINTAR, MANUSIANYA TIDAK BISA DIAM DI TEMPAT Dalam riset yang sama, 54% organisasi menyebut kurangnya pengetahuan atau kemampuan sebagai hambatan dalam menggunakan AI untuk cybersecurity. Sebanyak 41% juga menyoroti kebutuhan terhadap pengawasan manusia. Di sinilah peran profesional keamanan siber berubah. AI sangat bagus untuk memproses informasi dalam jumlah besar. Namun konteks masih menjadi pekerjaan manusia: apakah aktivitas yang terlihat aneh benar-benar berbahaya, apa dampaknya terhadap bisnis dan tindakan apa yang harus dilakukan saat informasinya belum lengkap. Talenta keamanan siber semakin perlu mampu: * Memverifikasi temuan AI sebelum mengambil tindakan * Mengenali ketika rekomendasi otomatis tidak sesuai kondisi * Menyelidiki aktivitas

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Sep 02, 2026 — 2 minutes read
Alasan Mengapa Bisnis yang Melewatkan Digital Forensics Terus Terkena Serangan Ganda
Cybersecurity

Alasan Mengapa Bisnis yang Melewatkan Digital Forensics Terus Terkena Serangan Ganda

PENDAHULUAN Percakapan tentang keamanan siber selama ini didominasi oleh pencegahan. Organisasi berinvestasi dalam pertahanan perimeter, menerapkan sistem deteksi intrusi, dan melatih karyawan untuk mengenali phishing. Namun menurut IBM Cost of a Data Breach Report 2024, rata-rata waktu untuk mengidentifikasi pelanggaran mencapai 194 hari—hampir setengah tahun aktivitas penyerang yang tidak terdeteksi dalam jaringan. Statistik ini mengungkap kenyataan yang menyakitkan: pencegahan saja bukanlah strategi yang lengkap. Ketika penyerang berhasil masuk (dan dalam lanskap ancaman modern, ini adalah soal kapan, bukan apakah), organisasi membutuhkan cara yang terstruktur dan sistematis untuk memahami apa yang terjadi, sejauh mana dampaknya, dan apa yang harus diubah agar kejadian tidak terulang. Kemampuan tersebut adalah digital forensics. Dan bisnis yang mengabaikannya tidak hanya meninggalkan pertanyaan tanpa jawaban, tetapi juga membuka peluang untuk diserang kembali. Sumber: IBM Cost of a Data Breach Report 2024 [https://newsroom.ibm.com/2024-07-30-ibm-report-escalating-data-breach-disruption-pushes-costs-to-new-highs], Ponemon Institute [https://www.ponemon.org] APA ITU DIGITAL FORENSICS DAN MENGAPA PENTING? Digital forensics adalah proses mengumpulkan, menjaga, menganalisis, dan menyajikan bukti digital dengan cara yang ketat secara teknis dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Ini berlaku untuk berbagai lingkungan digital: endpoint, server, cloud, perangkat

|
Mei 06, 2026 — 7 minutes read

Receive weekly
updates on new posts

Subscribe