Logo
Cybersecurity

Cybersecurity untuk Institusi Keuangan: Memperkuat Ketahanan Siber di Tengah Regulasi OJK

Ketahanan Siber Menjadi Prioritas Baru bagi Industri Jasa Keuangan

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Jun 15, 2026
Cybersecurity untuk Institusi Keuangan: Memperkuat Ketahanan Siber di Tengah Regulasi OJK

Transformasi digital telah mengubah cara industri keuangan beroperasi.

Bank, perusahaan asuransi, multifinance hingga fintech semakin bergantung pada teknologi untuk memberikan layanan yang lebih cepat, efisien dan terintegrasi kepada nasabah.

Namun, di balik percepatan inovasi tersebut, risiko yang dihadapi juga semakin kompleks.

Ancaman siber terus berkembang. Infrastruktur menjadi semakin dinamis. Sementara itu, regulator juga menaruh perhatian yang semakin besar terhadap pentingnya ketahanan operasional dan keamanan informasi.

Bagi institusi keuangan, cybersecurity bukan lagi sekadar isu teknologi.

Cybersecurity telah menjadi bagian dari upaya menjaga kepercayaan nasabah dan keberlangsungan bisnis.

Mengapa Industri Keuangan Menjadi Target Utama Serangan Siber?

Industri jasa keuangan mengelola berbagai aset yang sangat bernilai, seperti:

  • Data nasabah.
  • Informasi transaksi.
  • Sistem pembayaran.
  • Data pribadi.
  • Informasi bisnis yang sensitif.

Hal tersebut menjadikan sektor keuangan sebagai salah satu target yang paling menarik bagi para pelaku ancaman.

Sebuah insiden keamanan tidak hanya berpotensi menyebabkan kerugian finansial, tetapi juga dapat berdampak pada:

  • Gangguan operasional.
  • Hilangnya kepercayaan nasabah.
  • Risiko reputasi.
  • Konsekuensi hukum dan regulasi.

Karena itu, menjaga ketahanan siber menjadi semakin penting bagi keberlangsungan industri keuangan.

Peran OJK dalam Mendorong Ketahanan Siber

Sebagai regulator sektor jasa keuangan di Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus mendorong peningkatan tata kelola teknologi informasi dan manajemen risiko siber.

Pendekatan yang diharapkan tidak hanya berfokus pada kepatuhan semata, tetapi juga pada kemampuan organisasi dalam mengantisipasi, merespons dan memulihkan diri dari insiden siber.

Dalam praktiknya, hal ini mencakup berbagai aspek seperti:

  • Tata kelola keamanan informasi.
  • Manajemen risiko.
  • Pengujian keamanan secara berkala.
  • Penanganan insiden.
  • Ketahanan operasional.
  • Perlindungan data dan layanan kritikal.

Pendekatan yang bersifat berkelanjutan menjadi semakin penting seiring meningkatnya kompleksitas ancaman.

Mengapa Penetration Testing Penting bagi Institusi Keuangan?

Penetration testing membantu organisasi memahami bagaimana seorang attacker dapat memanfaatkan kelemahan yang ada sebelum risiko tersebut berkembang menjadi insiden yang nyata.

Melalui simulasi serangan yang terkontrol, organisasi dapat:

  • Mengidentifikasi kerentanan yang dapat dieksploitasi.
  • Memvalidasi efektivitas kontrol keamanan.
  • Memahami attack path yang mungkin terjadi.
  • Menentukan prioritas remediasi.
  • Memperkuat ketahanan siber secara keseluruhan.

Assessment berkala tetap menjadi bagian penting dalam program keamanan, terutama untuk sistem yang bersifat kritikal dan layanan yang berinteraksi langsung dengan nasabah.

Tantangan Baru Membutuhkan Visibilitas yang Lebih Berkelanjutan

Lingkungan teknologi di sektor keuangan berubah dengan sangat cepat.

Aplikasi baru terus dikembangkan. API semakin banyak digunakan. Infrastruktur cloud terus berkembang.

Akibatnya, risiko baru dapat muncul jauh sebelum assessment berikutnya dilakukan.

Jika organisasi hanya mengandalkan pengujian tahunan, terdapat kemungkinan munculnya blind spot yang tidak terdeteksi.

Karena itu, semakin banyak organisasi mulai mengadopsi pendekatan yang memberikan visibilitas secara lebih berkelanjutan terhadap perubahan risiko.

Continuous Security Validation Membantu Memperkuat Ketahanan Siber

Continuous Security Validation memungkinkan organisasi memvalidasi postur keamanan secara berkelanjutan dan memperoleh visibilitas yang lebih baik terhadap risiko yang terus berkembang.

Pendekatan ini membantu institusi keuangan:

  • Mengurangi blind spot.
  • Mempercepat identifikasi risiko baru.
  • Menentukan prioritas remediasi secara lebih efektif.
  • Memperkuat kontrol keamanan.
  • Meningkatkan operational resilience.

Continuous Security Validation tidak dimaksudkan untuk menggantikan penetration testing tradisional.

Sebaliknya, keduanya saling melengkapi dalam membangun pendekatan keamanan yang lebih matang.

Human + AI Membawa Pendekatan yang Lebih Modern

Ancaman siber saat ini berkembang terlalu cepat untuk hanya mengandalkan proses manual.

Artificial Intelligence menawarkan:

  • Kecepatan.
  • Skalabilitas.
  • Otomatisasi.
  • Visibilitas yang lebih berkelanjutan.

Sementara itu, manusia menawarkan:

  • Pengalaman.
  • Kreativitas.
  • Pemahaman terhadap konteks bisnis.
  • Kemampuan berpikir layaknya attacker.

Pendekatan Human + AI memungkinkan organisasi membangun program offensive security yang lebih efektif dan adaptif terhadap perubahan ancaman.

Cyber Resilience Lebih dari Sekadar Compliance

Memenuhi persyaratan regulasi memang penting.

Namun, tujuan akhirnya bukan sekadar lolos audit.

Ketahanan siber yang sesungguhnya terletak pada kemampuan organisasi untuk terus beroperasi, menjaga kepercayaan nasabah dan beradaptasi terhadap ancaman yang terus berubah.

Institusi keuangan yang mampu menggabungkan penetration testing, Continuous Security Validation dan pendekatan Human + AI akan memiliki fondasi yang lebih kuat dalam menghadapi risiko di masa depan.

Kesimpulan

Transformasi digital membawa peluang besar bagi industri jasa keuangan, tetapi juga menghadirkan tantangan baru dalam keamanan siber.

Penetration testing tetap menjadi fondasi penting dalam program keamanan. Namun, ancaman modern membutuhkan visibilitas yang lebih berkelanjutan.

Dengan menggabungkan assessment tradisional dan Continuous Security Validation, institusi keuangan dapat memperkuat ketahanan operasional, meningkatkan kepercayaan nasabah dan membangun fondasi yang lebih kuat untuk pertumbuhan jangka panjang.

Pada akhirnya, cybersecurity bukan hanya tentang mencegah serangan.

Cybersecurity adalah tentang memastikan organisasi mampu bertahan dan beradaptasi di tengah ancaman yang terus berkembang.


Kenali Bronyx Lebih Dekat

Bronyx adalah platform AI-powered autonomous penetration testing yang dikembangkan oleh ITSEC Asia dengan filosofi Human + AI.

Dengan menggabungkan kemampuan Artificial Intelligence dan keahlian para profesional keamanan siber, Bronyx membantu organisasi melakukan Continuous Security Validation, mengurangi blind spot dan memperoleh visibilitas yang lebih baik terhadap risiko keamanan yang terus berkembang.

Pendekatan ini memungkinkan organisasi beralih dari point-in-time assessment menuju model offensive security yang lebih modern dan berkelanjutan.

👉 Pelajari lebih lanjut mengenai Bronyx: https://bronyx.ai


Membutuhkan Layanan Penetration Testing untuk Industri Jasa Keuangan?

Cybersecurity di sektor keuangan membutuhkan lebih dari sekadar tools.

Pengalaman, pemahaman terhadap regulasi dan kemampuan menganalisis risiko secara mendalam menjadi faktor penting dalam membangun ketahanan siber yang efektif.

ITSEC Asia merupakan perusahaan cybersecurity yang telah memperoleh akreditasi CREST dan dipercaya oleh berbagai organisasi dan institusi di Asia Tenggara.

Tim kami menyediakan layanan:

  • Penetration Testing
  • Vulnerability Assessment
  • Web Application Security Testing
  • API Security Testing
  • Red Team Assessment
  • Cybersecurity Consulting

Baik untuk mendukung kebutuhan regulasi, memperkuat operational resilience maupun meningkatkan postur keamanan secara keseluruhan, ITSEC Asia siap membantu organisasi Anda menghadapi ancaman yang terus berkembang.

👉 Jelajahi layanan cybersecurity ITSEC Asia: https://itsec.asia

Share this post

You may also like

Panduan Mengenai CSOC
Cybersecurity

Panduan Mengenai CSOC

Hacks

CSOC adalah akronim untuk Cyber Security Operation Center (Pusat Operasi Keamanan Siber), tetapi hal ini sedikit membingungkan karena tim CSOC juga dapat disebut sebagai Computer Security Incident Response Team (CSIRT) atau Tim Respons Insiden Keamanan Komputer, Computer Incident Response Center (CIRC) atau Pusat Respons Insiden Komputer, Security Operations Center (SOC) atau Pusat Operasi Keamanan, serta disebut Computer Emergency Response Team (CERT) atau Tim Respons Gawat Darurat Komputer. Untuk kepentingan artikel ini, kita akan tetap menggunakan istilah CSOC. CSOC bekerja dalam urusan pertahanan untuk menghadapi aktivitas tidak sah yang terjadi pada jaringan strategis dan kegiatan yang termasuk di dalamnya adalah: pemantauan, deteksi, analisis, serta kegiatan respons dan restorasi. CSOC adalah tim yang terdiri dari analis keamanan jaringan yang diorganisir untuk pekerjaan mendeteksi, menganalisis, merespons, melaporkan, dan mencegah insiden keamanan jaringan selama 24 jam, 7 hari dalam seminggu, dan 365 hari dalam setahun. Terdapat berbagai jenis CSOC yang dikelompokkan berdasarkan model organisasional dan operasional mereka, bukan berdasarkan seperangkat kemampuan utama mereka, jadi mari kita dalami dan melihat lebih dekat berbagai jenis CSOC. CSOC VIRTUAL Nama

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Jul 10, 2023 — 9 minutes read
Apa yang Membedakan AI-Powered Penetration Testing dari Automated Scanner?
Cybersecurity

Apa yang Membedakan AI-Powered Penetration Testing dari Automated Scanner?

PENDAHULUAN Seberapa banyak temuan yang ditandai oleh vulnerability scanner setiap minggu yang benar-benar terbukti nyata? Riset dari OWASP menunjukkan false positive rate untuk jenis vulnerability umum berada di kisaran 15% hingga 30%, dan riset terpisah dari Snyk menemukan bahwa tim security kini menghabiskan sekitar 70% waktu mereka untuk mengejar alert yang ternyata tidak ada apa-apanya. Kesenjangan antara apa yang dilaporkan oleh tool dan apa yang sebenarnya bisa dieksploitasi bukanlah gangguan kecil. Inilah alasan mengapa sepertiga perusahaan yang disurvei mengaku terlambat merespons serangan sungguhan karena tim mereka sibuk menangani ancaman palsu. ITSEC Asia, perusahaan cybersecurity terkemuka di Indonesia, bekerja sama dengan organisasi di seluruh kawasan yang telah mempelajari hal ini dengan cara yang sulit, dan pertanyaan yang terus muncul cukup sederhana. Jika scanner sudah mencentang semua kotak yang diperlukan, mengapa AI-powered penetration testing masih diperlukan, dan apa sebenarnya yang dilakukannya secara berbeda? Sumber: OWASP false positive research via DEV Community [https://dev.to/kuboidsecurelayer/why-automated-vulnerability-scanners-miss-most-real-security-vulnerabilities-2p96] · Snyk: Minimizing False Positives [https://snyk.io/blog/minimizing-false-positives-enhancing-security-efficiency/] PERBEDAAN MENDASAR: MENGIKUTI ATURAN VERSUS BERNALAR SEPERTI ATTACKER Automated scanner bekerja dengan mencocokkan apa yang dilihatnya terhadap library pola-pola yang

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Jul 03, 2026 — 5 minutes read
Skill Cybersecurity Juga Butuh Perawatan
Cybersecurity

Skill Cybersecurity Juga Butuh Perawatan

Seorang profesional cybersecurity menyelesaikan pelatihan pada hari Jumat. Materi sudah dipelajari, asesmen selesai dan ia kembali bekerja dengan kemampuan baru. Enam bulan kemudian, lingkungannya sudah berbeda. Cloud service berubah. Tim mulai menggunakan AI. Teknik serangan berkembang. Prosedur incident response diperbarui. Tiga sistem baru muncul dan satu aplikasi lama yang katanya akan segera pensiun ternyata masih hidup sehat. Karena itu, pelatihan cybersecurity perlu mulai diperlakukan sebagai proses berkelanjutan, bukan agenda tahunan. FISSEA Fall Forum dari NIST pada 15 September membawa pendekatan tersebut ke format yang cukup konkret. Salah satu sesinya mengajak peserta membangun micro training module, dilanjutkan dengan pembahasan penerapan NICE Workforce Framework melalui pembelajaran interaktif dan latihan skill. Tidak semua pembelajaran harus membutuhkan satu minggu meninggalkan pekerjaan. MATERI KECIL UNTUK MASALAH YANG SPESIFIK CISA sudah menggunakan micro learning dalam program pelatihannya. Program Continuous Diagnostics and Mitigation menyediakan video singkat sekitar 3 sampai 10 menit untuk membangun pemahaman dasar sebelum peserta masuk ke demonstrasi dan aktivitas hands on yang lebih dalam. Format seperti ini cocok untuk kebutuhan cybersecurity yang sangat spesifik. Materi singkat dapat digunakan untuk

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Sep 14, 2026 — 3 minutes read

Receive weekly
updates on new posts

Subscribe