Mencari Talenta Cybersecurity Berpengalaman, Siapa yang Melatih Pemula?
Perusahaan membutuhkan tenaga yang siap bekerja, sedangkan talenta baru membutuhkan kesempatan untuk membuktikan kemampuannya. Keduanya perlu dipertemukan melalui jalur pengembangan yang jelas.

Bagi pencari kerja di bidang teknis, ada satu pertanyaan yang cukup membingungkan: bagaimana mendapatkan pengalaman jika sebagian lowongan sudah meminta pengalaman sebelumnya? Di bidang cybersecurity, persoalan ini menjadi tantangan tersendiri karena organisasi membutuhkan profesional yang mampu melindungi sistem, menyelidiki insiden dan mengelola risiko.
Riset pemerintah Inggris memberikan gambaran mengenai persoalan tersebut. Dalam laporan Cyber Security Skills in the UK Labour Market 2026 yang diterbitkan pada 29 September 2026, jumlah lulusan cybersecurity meningkat 14% dari tahun akademik 2022/23 ke 2023/24, mencapai 7.950 orang. Namun, pendaftaran program apprenticeship khusus cybersecurity turun 15% antara tahun akademik 2023/24 dan 2024/25. Laporan yang sama memperkirakan pertumbuhan tenaga kerja cybersecurity Inggris hanya mencapai 2% dibandingkan tahun sebelumnya. GOV.UK
Artinya, bertambahnya jumlah lulusan belum otomatis menjamin tersedianya kandidat yang siap menjalankan pekerjaan operasional. Perusahaan membutuhkan bukti kemampuan praktis, sementara talenta pemula membutuhkan lingkungan untuk mengembangkan kemampuan tersebut.
Ketika materi pelatihan belum cukup
Cybersecurity memiliki banyak spesialisasi. Analis security operations menyelidiki aktivitas mencurigakan, penetration tester menguji kelemahan sistem dalam lingkungan yang diizinkan, sedangkan spesialis governance menilai kontrol dan risiko. Masing-masing membutuhkan kombinasi pengetahuan, pertimbangan teknis dan pengalaman yang berbeda.
Analisis lowongan dalam laporan pemerintah Inggris memperlihatkan tantangan bagi kandidat pemula. Dari lowongan cybersecurity inti yang mencantumkan persyaratan pengalaman minimum, 34% meminta pengalaman dua hingga tiga tahun, sementara 16% meminta pengalaman nol hingga satu tahun. Angka ini hanya mencakup lowongan dengan persyaratan pengalaman yang dinyatakan, tetapi tetap menunjukkan mengapa sebagian kandidat kesulitan mendapatkan pekerjaan pertama mereka. GOV.UK
Sertifikat dapat menunjukkan bahwa seseorang telah mempelajari suatu bidang. Namun, sertifikat saja belum membuktikan kemampuannya menyelidiki peringatan keamanan, mendokumentasikan bukti atau menjelaskan temuan teknis kepada manajemen.
Solusinya bukan meninggalkan pendidikan formal. Yang dibutuhkan adalah hubungan yang lebih erat antara pembelajaran dan pekerjaan praktis sebelum seseorang memasuki peran cybersecurity penuh waktu.
Membuat langkah pertama lebih terarah
Organisasi dan penyedia pelatihan dapat membantu memperkecil kesenjangan tersebut melalui tiga pendekatan:
- Gunakan simulasi yang realistis. Peserta berlatih menyelidiki insiden, membaca log, menilai kerentanan dan menyusun dokumentasi dalam lingkungan terkendali.
- Tetapkan kompetensi sesuai peran. Kandidat SOC analyst membutuhkan bukti kemampuan yang berbeda dari calon penetration tester atau spesialis tata kelola keamanan.
- Sediakan jalur masuk dengan pendampingan. Magang, apprenticeship, rotasi analis junior dan proyek dengan mentor memberi kesempatan kepada talenta pemula untuk menerapkan kemampuan sekaligus mempelajari praktik profesional.
National Institute of Standards and Technology (NIST) di Amerika Serikat menyediakan rujukan melalui NICE Workforce Framework for Cybersecurity. Kerangka tersebut menggambarkan pekerjaan cybersecurity berdasarkan tugas, pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan. Panduan NIST mengenai tingkat kemahiran juga menekankan kemampuan yang dapat ditunjukkan dalam pekerjaan, bukan hanya pengetahuan akademis atau lamanya seseorang bekerja. NIST
Dengan pendekatan ini, perusahaan dapat menilai kandidat secara lebih terarah. Pertanyaannya tidak berhenti pada pelatihan apa yang sudah diselesaikan, tetapi juga pekerjaan apa yang mampu dilakukan dan bagian mana yang masih memerlukan supervisi.
Menyiapkan jalur dari pendidikan ke pekerjaan
Bagi pengembangan talenta cybersecurity di Indonesia, peluangnya adalah membangun transisi yang lebih terencana dari pendidikan menuju dunia kerja. Penyedia pelatihan dapat menghubungkan materi dengan fungsi pekerjaan yang jelas. Perusahaan dapat menyiapkan tugas yang sesuai untuk pemula serta menetapkan standar kompetensi awal. Peserta dapat membangun portofolio yang menunjukkan hasil kerja, proses berpikir dan kemampuan dokumentasi mereka.
ITSEC Cyber & AI Academy dapat mendukung proses tersebut melalui pembelajaran cybersecurity dan AI yang terstruktur serta berorientasi pada pengembangan kompetensi profesional. Tujuannya membantu peserta membangun pengetahuan dan keterampilan praktis sebagai bekal untuk melangkah ke tahap karier berikutnya.
Industri membutuhkan tenaga berpengalaman. Namun, tenaga berpengalaman yang dibutuhkan beberapa tahun mendatang harus mulai dikembangkan hari ini.
Ingin mengembangkan keterampilan cybersecurity dan AI? Pelajari kesempatan belajar di ITSEC Cyber & AI Academy.
Referensi
- UK Department for Science, Innovation and Technology. Cyber security skills in the UK labour market 2026. Diterbitkan 29 September 2026. Baca laporan resmi
- National Institute of Standards and Technology (NIST). Identifying Proficiency: NICE Framework Work Roles & Levels of Responsibility. Dibuat 23 Januari 2026; diperbarui 13 Maret 2026. Baca panduan NIST
- National Institute of Standards and Technology (NIST). Workforce Framework for Cybersecurity (NICE Framework). Diterbitkan 16 November 2020. Baca publikasi kerangka kerja
.png)


