Logo
Cybersecurity

Pelatihan Cybersecurity yang Baik Perlu Membiarkan Peserta Salah

Kalau semua skenario latihan selalu berakhir sukses, mungkin yang sedang diuji justru desain kelasnya, bukan kemampuan pesertanya.

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Sep 16, 2026
Pelatihan Cybersecurity yang Baik Perlu Membiarkan Peserta Salah

SOC analyst menerima beberapa alert lalu memilih yang salah untuk diinvestigasi lebih dulu. Penetration tester melewatkan sebuah vulnerability. Seseorang membuat asumsi yang membawa investigasi insiden ke arah yang keliru.

Di lingkungan nyata, kesalahan seperti itu bisa mahal.

Di lingkungan latihan yang terkontrol, kesalahan tersebut justru memberikan data yang berguna.

Webinar NICE dari NIST pada 16 September membahas persiapan talenta cyber melalui reality based education dan pengalaman hands on. Salah satu prinsip yang dibawa cukup menarik: kegagalan dapat menjadi data untuk membaca kesiapan tenaga kerja. Pembahasannya melihat bagaimana pendidikan dan perusahaan dapat menggunakan controlled realism agar peserta mengembangkan kemampuan kerja yang sebenarnya.

Ada perbedaan besar antara berhasil menyelesaikan soal dan menunjukkan bagaimana seseorang bekerja.

Jawaban Benar Belum Menceritakan Seluruh Proses

Asesmen tradisional cukup bagus untuk menjawab satu pertanyaan: apakah peserta mengetahui jawabannya?

Operasi cybersecurity membutuhkan informasi lebih banyak.

Bayangkan dua analyst akhirnya menemukan compromised account yang sama. Analyst pertama langsung melihat authentication pattern yang aneh. Analyst kedua menghabiskan 40 menit memeriksa aktivitas lain sebelum mencapai kesimpulan serupa.

Keduanya mungkin sama sama mendapatkan tanda centang untuk “berhasil menemukan insiden.”

Kemampuannya belum tentu sama.

Latihan realistis dapat menunjukkan:

  • Evidence mana yang diperiksa lebih dulu
  • Cara menentukan prioritas beberapa signal
  • Kapan peserta meminta bantuan atau melakukan eskalasi
  • Apakah asumsi diperiksa sebelum mengambil tindakan
  • Bagaimana respons setelah keputusan awal ternyata salah
  • Apakah peserta mampu menjelaskan pelajaran dari kesalahannya

Poin terakhir cukup relevan. Profesional cybersecurity tidak akan selalu membuat keputusan pertama yang benar. Mereka perlu mampu menyadari ketika evidence berubah lalu menyesuaikan tindakan.

Kesalahan Perlu Dirancang dengan Baik

Pelatihan yang baik bukan berarti membuat skenario mustahil lalu melihat peserta kesulitan.

Controlled failure membutuhkan informasi realistis, ruang untuk judgment dan konsekuensi yang tetap aman di dalam simulasi.

Lab penetration testing dapat menyediakan beberapa attack path yang terlihat menjanjikan tetapi hanya satu yang benar benar relevan. Simulasi SOC bisa mencampurkan benign alert dengan insiden nyata. Skenario cloud security dapat membiarkan peserta melakukan perbaikan yang menyelesaikan satu masalah tetapi tanpa sengaja membuat masalah baru.

Setelah itu, instruktur memiliki bahan diskusi yang jauh lebih berguna daripada sekadar nilai.

Kenapa memilih jalur tersebut? Evidence apa yang akhirnya mengubah keputusan? Kapan seharusnya eskalasi dilakukan?

Kesalahan mulai berubah menjadi pembelajaran.

Temukan Gap Sebelum Menentukan Pelatihannya

Pendekatan seperti ini juga membantu organisasi menggunakan investasi pelatihan dengan lebih tepat.

Kalau tim selalu mampu menemukan ancaman tetapi kesulitan menentukan prioritas, mengirim mereka kembali ke kelas security dasar kemungkinan tidak menyelesaikan masalah. Kalau analyst bagus dalam investigasi tetapi informasi sering hilang saat handover, gap-nya berada di tempat lain.

NICE Framework mendukung pendekatan berbasis pekerjaan tersebut dengan mendefinisikan role melalui task, knowledge dan skill, bukan hanya nama jabatan.

Lingkungan praktis seperti cyber range dapat membuat gap tersebut terlihat. Di ITSEC Cyber & AI Academy, skenario hands on dapat memberi peserta ruang untuk mencoba keputusan, melihat konsekuensinya lalu memperbaiki kemampuan melalui latihan berulang.

Tidak ada perusahaan yang ingin karyawannya mendapatkan pelajaran cybersecurity termahal untuk pertama kalinya ketika insiden sungguhan sedang berlangsung.

Jauh lebih murah untuk salah di ruang latihan.

Pelajari program cybersecurity dan AI berbasis praktik di ITSEC Cyber & AI Academy.

Referensi: NIST NICE: Preparing Today’s Students for Tomorrow’s Cyber Careers, 16 September 2026 · NIST NICE Webinar Series · NIST NICE Workforce Framework for Cybersecurity

Share this post

You may also like

Kesenjangan Talenta Siber yang Tak Bisa Lagi Diabaikan Indonesia
Cybersecurity

Kesenjangan Talenta Siber yang Tak Bisa Lagi Diabaikan Indonesia

Seiring bisnis, pemerintah dan berbagai organisasi mempercepat transformasi digital, kebutuhan terhadap tenaga profesional cybersecurity terus meningkat. Di saat yang sama, kemampuan yang dibutuhkan untuk melindungi sistem digital juga semakin berkembang. Cloud security, threat intelligence, security operations, penetration testing dan artificial intelligence kini menjadi bagian dari keterampilan yang dibutuhkan oleh profesional cybersecurity. Kesenjangan antara jumlah talenta yang tersedia dan kemampuan yang dibutuhkan industri semakin sulit diabaikan. KEBUTUHAN CYBERSECURITY BERKEMBANG LEBIH CEPAT DARIPADA KETERAMPILAN Tenaga kerja cybersecurity secara global menghadapi persoalan kekurangan talenta sekaligus kesenjangan keterampilan. Menurut 2025 ISC2 Cybersecurity Workforce Study, 95% profesional cybersecurity yang disurvei memiliki setidaknya satu kebutuhan keterampilan di dalam tim mereka. Sebanyak 59% menyebut kebutuhan tersebut berada pada tingkat kritis atau signifikan. Studi yang sama menemukan bahwa 88% responden pernah mengalami setidaknya satu dampak cybersecurity yang signifikan akibat kekurangan keterampilan. Bagi Indonesia, persoalannya bukan sekadar mengisi posisi kosong di tim cybersecurity. Organisasi membutuhkan profesional yang mampu menerapkan pengetahuan mereka untuk menghadapi persoalan keamanan yang nyata. Kebutuhan keterampilan tersebut juga terus berubah. World Economic Forum Future of Jobs Report 2025 menempatkan jaringan dan cybersecurity sebagai

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Agt 24, 2026 4 minutes read
Cybersecurity in 2026 The Rise of Strategic Resilience and Practical Protection
Cybersecurity

Cybersecurity in 2026 The Rise of Strategic Resilience and Practical Protection

Cybersecurity in 2026 is defined by a fundamental shift in mindset. The question organizations now face is no longer “Can we prevent every attack?” but “Can we survive, adapt, and continue operating when an attack inevitably happens?” As cyber threats grow faster, more automated, and more business-disruptive, security is evolving from a purely technical function into a core pillar of organizational resilience. This evolution marks the rise of strategic resilience and practical protection, where cybersecurity is measured not by perfection, but by preparedness, prioritization, and recovery. MEASURING CYBERSECURITY BY BUSINESS IMPACT, NOT TECHNICAL METRICS For years, cybersecurity focused on building stronger walls: firewalls, intrusion prevention, and threat blocking. In 2026, that approach alone is no longer sufficient. Attacks are inevitable, and the real differentiator is how well an organization absorbs impact and recovers. Business resilience reframes cybersecurity as a continuity challenge. Downtime, data unavailability, and operational disruption now represent direct financial and reputational risk. As a result, leadership teams increasingly evaluate security through questions like: How quickly can we detect incidents? How

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Feb 09, 2026 4 minutes read
Talenta Cybersecurity Perlu Mengerti Bagaimana Sistem Dibangun
Cybersecurity

Talenta Cybersecurity Perlu Mengerti Bagaimana Sistem Dibangun

Karier cybersecurity selama ini sering dibayangkan dari sisi pertahanan: memonitor sistem, mendeteksi aktivitas mencurigakan, menginvestigasi insiden lalu memperbaiki vulnerability. Pekerjaan tersebut tetap dibutuhkan. Namun security semakin bergerak ke tahap yang lebih awal. ENISA sedang memperbarui European Cybersecurity Skills Framework agar peran cybersecurity semakin selaras dengan secure digital product lifecycle, teknologi seperti AI dan perkembangan regulasi. Framework tersebut memetakan pekerjaan cybersecurity ke dalam 12 profil profesional lengkap dengan tanggung jawab, pengetahuan dan kompetensi yang dibutuhkan. NIST juga membuat perubahan yang menarik. NICE Framework Components versi 2.2.0 menambahkan Cybersecurity Supply Chain Risk Management sebagai work role serta DevSecOps sebagai competency area. Perubahan itu menunjukkan cybersecurity semakin dekat dengan proses membangun teknologi. SECURITY MULAI MASUK KE PROSES PRODUKSI Layanan digital modern jarang dibuat dari satu kumpulan kode yang seluruhnya dibangun sendiri. Sistem bisa menggunakan cloud infrastructure, open-source package, API, layanan eksternal, development pipeline otomatis dan software dari berbagai pihak. Setiap dependency membawa keputusan keamanan baru. Karena itu, talenta cybersecurity semakin perlu memahami pertanyaan seperti: * Dari mana software dependency berasal dan bagaimana memverifikasinya? * Bagaimana credential dan secret dikelola

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Sep 09, 2026 3 minutes read

Receive weekly
updates on new posts

Subscribe