Logo
Cybersecurity

“Punya Skill Cybersecurity” Masih Kurang Jelas Untuk Bermanfaat

Dua orang bisa memahami topik security yang sama dengan kedalaman berbeda. Workforce planning akan lebih akurat kalau perbedaannya bisa diukur.

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Okt 07, 2026
“Punya Skill Cybersecurity” Masih Kurang Jelas Untuk Bermanfaat

Bayangkan dua SOC analyst yang sama-sama mencantumkan incident response sebagai skill.

Orang pertama mampu mengikuti investigation procedure, mengumpulkan evidence dan melakukan escalation terhadap suspicious event. Orang kedua mampu menghadapi serangan yang belum familiar, menghubungkan evidence dari beberapa system, menguji hipotesis awal lalu membantu tim menentukan containment.

Keduanya memang memiliki skill incident response.

Level kemampuannya jelas berbeda.

ENISA sedang mencoba menjawab masalah tersebut melalui revisi European Cybersecurity Skills Framework. ECSF saat ini membagi pekerjaan cybersecurity ke dalam 12 professional role profiles yang menjelaskan responsibility, skill, knowledge serta hubungan antar-role. Versi berikutnya akan menambahkan proficiency levels untuk mendukung workforce assessment, career development dan training pathways. ENISA

Perubahan yang terdengar sederhana ini bisa membuat pembacaan skills gap jauh lebih akurat.

Daftar Skill Menunjukkan Apa. Level Menunjukkan Seberapa Jauh.

Ambil contoh penetration testing.

Pemula mungkin memahami reconnaissance, menggunakan testing methodology yang sudah tersedia dan mereproduksi vulnerability umum dalam controlled environment.

Praktisi dengan pengalaman lebih jauh seharusnya mampu memilih methodology yang sesuai, menyesuaikan testing dengan architecture yang belum familiar, membaca hasil yang ambigu serta menjelaskan business relevance dari sebuah finding.

Praktisi tingkat lanjut mungkin sudah mampu merancang assessment kompleks, mengevaluasi attack path yang tidak biasa dan membimbing tester lain.

Menuliskan “penetration testing” di samping ketiga nama tersebut menghilangkan sebagian besar informasi yang sebenarnya dibutuhkan.

Perbedaan level dapat terlihat dari kemampuan seseorang untuk:

  • Menjelaskan konsep dengan panduan
  • Menjalankan task yang sudah terdefinisi secara mandiri
  • Menghadapi situasi baru atau ambigu
  • Merancang pendekatan untuk environment yang kompleks
  • Melakukan review terhadap pekerjaan praktisi lain
  • Mengajar atau membimbing anggota tim

Dengan struktur seperti ini, training gap menjadi jauh lebih mudah ditemukan.

Skills Gap Bisa Bersembunyi di Dalam Tim

Perusahaan bisa memiliki lima incident responder tetapi tetap mempunyai gap pada incident response.

Mungkin semua orang mampu melakukan initial triage tetapi hanya satu yang bisa memimpin complex investigation. Bisa juga ada beberapa cloud security practitioner yang mampu melakukan configuration review tetapi belum ada yang mampu merancang security architecture lintas environment.

Headcount tidak akan menunjukkan masalah tersebut.

ENISA merancang ECSF sebagai common language yang dapat digunakan employer, cybersecurity professional, educator dan HR untuk memahami role serta competency. Dua belas role profile yang ada membantu mendefinisikan pekerjaan setiap fungsi. Proficiency level akan membantu menunjukkan seberapa dalam dan mandiri pekerjaan tersebut dapat dilakukan. ENISA

Karena itu, pertanyaan workforce planning bisa dibuat lebih spesifik.

Bukan sekadar “Apakah kita punya skill ini?” tetapi “Kita punya skill ini pada level berapa dan berapa orang yang mampu bekerja pada level tersebut?”

Training Perlu Membawa Orang Naik Level

Ketika capability memiliki level, training bisa dirancang lebih presisi.

Peserta yang memahami vulnerability assessment tetapi masih kesulitan menginterpretasikan finding tidak membutuhkan program yang sama dengan orang yang sudah mampu menjalankan assessment secara mandiri. Yang pertama mungkin membutuhkan structured lab. Yang kedua membutuhkan skenario lebih kompleks dengan informasi tidak lengkap dan instruksi yang lebih sedikit.

Prinsip tersebut relevan dengan pembelajaran hands-on di ITSEC Cyber & AI Academy. Practical environment dapat membantu organisasi melihat bagaimana peserta menjalankan task, menemukan area yang masih membutuhkan guidance lalu membangun training path dengan tingkat kesulitan dan kemandirian yang meningkat secara bertahap.

Karier cybersecurity bukan kumpulan kotak skill yang tinggal dicentang.

Yang lebih berguna adalah mengetahui seberapa baik seseorang benar-benar bisa melakukan pekerjaannya.

Pelajari program cybersecurity dan AI berbasis praktik di ITSEC Cyber & AI Academy.

Referensi

  1. ENISA, “European Cybersecurity Skills Framework (ECSF),” diperbarui 28 September 2026
  2. ENISA, “European Cybersecurity Skills Framework,” informasi framework dan revisi terkini, diakses Oktober 2026
  3. ENISA, “European Cybersecurity Skills Conference 2026,” 4–5 November 2026
  4. ENISA, “European Cybersecurity Skills Framework Role Profiles,” 19 September 2022
Share this post

You may also like

Kesenjangan Talenta Siber yang Tak Bisa Lagi Diabaikan Indonesia
Cybersecurity

Kesenjangan Talenta Siber yang Tak Bisa Lagi Diabaikan Indonesia

Seiring bisnis, pemerintah dan berbagai organisasi mempercepat transformasi digital, kebutuhan terhadap tenaga profesional cybersecurity terus meningkat. Di saat yang sama, kemampuan yang dibutuhkan untuk melindungi sistem digital juga semakin berkembang. Cloud security, threat intelligence, security operations, penetration testing dan artificial intelligence kini menjadi bagian dari keterampilan yang dibutuhkan oleh profesional cybersecurity. Kesenjangan antara jumlah talenta yang tersedia dan kemampuan yang dibutuhkan industri semakin sulit diabaikan. KEBUTUHAN CYBERSECURITY BERKEMBANG LEBIH CEPAT DARIPADA KETERAMPILAN Tenaga kerja cybersecurity secara global menghadapi persoalan kekurangan talenta sekaligus kesenjangan keterampilan. Menurut 2025 ISC2 Cybersecurity Workforce Study, 95% profesional cybersecurity yang disurvei memiliki setidaknya satu kebutuhan keterampilan di dalam tim mereka. Sebanyak 59% menyebut kebutuhan tersebut berada pada tingkat kritis atau signifikan. Studi yang sama menemukan bahwa 88% responden pernah mengalami setidaknya satu dampak cybersecurity yang signifikan akibat kekurangan keterampilan. Bagi Indonesia, persoalannya bukan sekadar mengisi posisi kosong di tim cybersecurity. Organisasi membutuhkan profesional yang mampu menerapkan pengetahuan mereka untuk menghadapi persoalan keamanan yang nyata. Kebutuhan keterampilan tersebut juga terus berubah. World Economic Forum Future of Jobs Report 2025 menempatkan jaringan dan cybersecurity sebagai

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Agu 24, 2026 — 4 minutes read
Cybersecurity Roadmap: Mengapa Penting dalam Mengelola Risiko Enterprise Saat Ini
Cybersecurity

Cybersecurity Roadmap: Mengapa Penting dalam Mengelola Risiko Enterprise Saat Ini

PENDAHULUAN Banyak organisasi telah berinvestasi besar pada berbagai tools keamanan, namun tetap kesulitan menjelaskan postur keamanan mereka secara menyeluruh. Hal ini sering kali bukan disebabkan oleh kurangnya teknologi, melainkan karena tidak adanya arah yang jelas. Seiring semakin kompleksnya lingkungan digital, keputusan keamanan kini tersebar di berbagai area mulai dari cloud platform, endpoint jarak jauh, integrasi pihak ketiga, hingga sistem berbasis AI. Berdasarkan temuan yang disoroti oleh World Economic Forum [https://www.weforum.org/], risiko siber saat ini bukan lagi soal satu celah keamanan, melainkan akumulasi dari upaya keamanan yang terfragmentasi di lingkungan yang saling terhubung. Tanpa perencanaan yang jelas, inisiatif keamanan cenderung bersifat reaktif. Kontrol keamanan ditambahkan sebagai respons terhadap insiden, audit, atau rekomendasi vendor, bukan sebagai bagian dari strategi yang terkoordinasi. Di sinilah Cybersecurity Roadmap menjadi sangat krusial. Roadmap menyediakan kerangka terstruktur untuk menetapkan prioritas, menyusun tahapan peningkatan keamanan, serta menyelaraskan keamanan dengan risiko bisnis. Panduan industri seperti NIST Cybersecurity Framework (CSF) [https://www.nist.gov/cyberframework] menekankan bahwa pendekatan ini membantu organisasi beralih dari tindakan keamanan yang terisolasi menuju postur pertahanan yang terpadu dan resilien. APA ITU CYBERSECURITY ROADMAP? Cybersecurity Roadmap adalah

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Jan 22, 2026 — 5 minutes read
Cloud Security Dimulai dari Lapisan di Bawahnya
Cybersecurity

Cloud Security Dimulai dari Lapisan di Bawahnya

Seorang cloud security engineer melihat traffic tidak biasa menuju sebuah aplikasi. Access policy terlihat benar. Workload configuration juga normal. Tidak ada sesuatu yang langsung terlihat bermasalah. Investigasi kemudian bergerak ke area yang sedikit lebih rumit. Request tersebut resolve ke mana? Route apa yang dilewati? Identity apa yang digunakan workload? Protocol apa yang membawa koneksinya? Apakah traffic melewati edge service, private network atau cloud environment lain? Cloud console bisa menjawab sebagian pertanyaan tersebut. Sisanya membutuhkan pemahaman network dan infrastructure. Program ITU Academy yang berlangsung sampai 28 September 2026 memberi gambaran menarik tentang betapa terhubungnya teknologi tersebut. Kurikulumnya menggabungkan cloud dan edge computing dengan IPv6, QUIC, DNS, SD-WAN, fixed dan mobile broadband, IoT, AI serta cybersecurity. ITU Academy [https://academy.itu.int/training-courses/full-catalogue/future-fixed-and-mobile-broadband-internet-cloud-computing-and-iotai-1?utm_source=chatgpt.com] Untuk pengembangan tenaga cybersecurity, kombinasi tersebut masuk akal. Cloud security membutuhkan orang yang memahami teknologi di bawah cloud. ABSTRACTION TIDAK MENGHAPUS FUNDAMENTAL Cloud service sangat baik dalam menyembunyikan kompleksitas infrastructure. Memang itu salah satu manfaatnya. Security team tidak selalu mendapatkan kemewahan yang sama. DNS configuration dapat mengarahkan user ke tujuan yang keliru. Routing decision dapat membuka service yang seharusnya

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Sep 28, 2026 — 3 minutes read

Receive weekly
updates on new posts

Subscribe