Logo
Cybersecurity

Satu Sistem yang Compromised Jarang Berhenti di Satu Sistem

Insiden modern dapat bergerak melalui dependency. Tim security perlu memahami ke mana dampaknya bisa menyebar berikutnya.

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Sep 30, 2026
Satu Sistem yang Compromised Jarang Berhenti di Satu Sistem

Sebuah business application berhenti bekerja.

Server-nya baik. Network terlihat normal. Authentication masih tersedia. Kemudian tim menemukan bahwa external service yang digunakan aplikasi tersebut sedang bermasalah.

Diagram insidennya langsung membesar.

ENISA Threat Landscape 2026 yang diterbitkan pada 22 September dan dibahas kembali dalam webinar khusus pada 29 September menempatkan masalah ini sebagai salah satu temuan utama. ENISA menyebut keterhubungan digital ecosystem membuat dampak cyber risk semakin mudah menyebar dan masih menemukan serangan terhadap dependency, termasuk supply chain serta third party. ENISA

Bagi workforce development, ada kebutuhan skill yang cukup konkret: profesional cybersecurity perlu memahami dependency selain memahami asset.

Asset List Belum Menunjukkan Seluruh Risiko

Mengetahui system yang dimiliki perusahaan tentu berguna.

Mengetahui apa saja yang dibutuhkan system tersebut agar tetap bekerja adalah persoalan lain.

Customer portal mungkin bergantung pada identity provider, DNS, cloud infrastructure, payment service, API, software library dan managed service. Beberapa aplikasi lain bisa saja menggunakan komponen yang sama.

Satu shared dependency terganggu dan blast radius dapat membesar dengan cepat.

Tim security perlu mampu mengidentifikasi:

  • External service yang mendukung critical business function
  • Application yang menggunakan infrastructure atau provider yang sama
  • Asal software dan data yang digunakan
  • Dependency yang memiliki privileged access
  • Dampak ketika dependency tidak tersedia
  • Alternative process yang tersedia ketika service gagal
  • Siapa yang bertanggung jawab atas hubungan dengan third party saat investigasi atau recovery

Pertanyaan terakhir kadang menjadi jauh lebih rumit ketika ditanyakan pukul dua pagi.

Incident Response Membutuhkan Dependency View

Pemahaman dependency mengubah cara tim melakukan investigasi.

Bayangkan unusual activity muncul di tiga application secara bersamaan. Kalau semuanya diperiksa secara terpisah, tim bisa menjalankan tiga investigation. Kalau diketahui ketiganya menggunakan identity service yang sama, ada hipotesis lain yang bisa diperiksa jauh lebih cepat.

Hal serupa berlaku saat recovery.

Mengembalikan server belum tentu mengembalikan business process jika external service yang dibutuhkan masih unavailable. Application bisa sehat secara teknis tetapi tetap tidak dapat digunakan karena authentication, API atau data provider bermasalah.

Dalam Threat Landscape 2026, ENISA menyebut 73% organisasi yang menjadi target dalam incident yang dianalisis merupakan essential atau important entities menurut klasifikasi NIS2. Analisis tersebut juga menunjukkan bahwa cyber dependency dapat memperbesar skala dan dampak insiden di infrastructure yang saling terhubung. ENISA

Cyber resilience membutuhkan orang yang mampu berpikir melewati batas satu sistem atau satu organisasi.

Masukkan Dependency ke Dalam Latihan

Kemampuan tersebut bisa dibuat sangat konkret dalam training.

Berikan simulated organization dengan beberapa application, shared infrastructure dan external service. Sediakan architecture dasarnya, tetapi jangan tunjukkan seluruh dependency.

Kemudian mulai incident dari salah satu supplier.

Peserta harus menemukan service mana yang bergantung padanya, menentukan evidence yang tersedia, menilai business impact lalu memutuskan tim atau external party mana yang perlu dilibatkan.

Versi yang lebih sulit dapat memasukkan recovery decision yang memperbaiki satu system tetapi justru mengganggu dependency lain.

Skenario seperti ini relevan untuk pembelajaran praktis di ITSEC Cyber & AI Academy, tempat cyber range dapat menghubungkan technical investigation dengan architecture, incident response serta operational decision making.

Tim security sudah terbiasa bertanya, “Apa yang terjadi?”

Pertanyaan berikutnya sering lebih berguna: “Apa lagi yang bergantung pada sistem ini?”

Pelajari program cybersecurity dan AI berbasis praktik di ITSEC Cyber & AI Academy.

Referensi: ENISA Threat Landscape 2026, 22 September 2026 · ENISA: How Dependencies Weaken Digital Resilience · ENISA Threat Landscape Webinar, 29 September 2026

Share this post

You may also like

Cybersecurity in 2026 The Rise of Strategic Resilience and Practical Protection
Cybersecurity

Cybersecurity in 2026 The Rise of Strategic Resilience and Practical Protection

Cybersecurity in 2026 is defined by a fundamental shift in mindset. The question organizations now face is no longer “Can we prevent every attack?” but “Can we survive, adapt, and continue operating when an attack inevitably happens?” As cyber threats grow faster, more automated, and more business-disruptive, security is evolving from a purely technical function into a core pillar of organizational resilience. This evolution marks the rise of strategic resilience and practical protection, where cybersecurity is measured not by perfection, but by preparedness, prioritization, and recovery. MEASURING CYBERSECURITY BY BUSINESS IMPACT, NOT TECHNICAL METRICS For years, cybersecurity focused on building stronger walls: firewalls, intrusion prevention, and threat blocking. In 2026, that approach alone is no longer sufficient. Attacks are inevitable, and the real differentiator is how well an organization absorbs impact and recovers. Business resilience reframes cybersecurity as a continuity challenge. Downtime, data unavailability, and operational disruption now represent direct financial and reputational risk. As a result, leadership teams increasingly evaluate security through questions like: How quickly can we detect incidents? How

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Feb 09, 2026 — 4 minutes read
Standar Talenta Cybersecurity Pemula Mulai Berubah
Cybersecurity

Standar Talenta Cybersecurity Pemula Mulai Berubah

Dulu, jalur awal karier cybersecurity cukup mudah ditebak. Pelajari jaringan. Pahami access control. Kenali security operations. Setelah punya pengalaman, barulah masuk ke teknologi yang lebih baru dan rumit. AI mulai mengacak urutan itu. Pada 1 September 2026, ISC2 mulai menggunakan pembaruan materi untuk sertifikasi entry-level Certified in Cybersecurity, perubahan besar pertama sejak sertifikasi tersebut diluncurkan pada 2022. Konsep dasar AI kini masuk ke dalam materi, termasuk mengenali aset AI, ancaman otomatis dan tata kelola teknologi baru yang aman. Panduan AI terbaru mereka juga menunjukkan arah yang sama. Profesional cybersecurity semakin perlu memahami AI governance, keamanan model, integritas data, prompt engineering, manajemen risiko AI dan keamanan sistem yang menggunakan AI. Daftarnya lumayan panjang untuk topik yang belum lama ini masih dianggap spesialis. KEAMANAN AI MULAI TURUN KE LEVEL PEMULA Alasannya cukup praktis. Sistem berbasis AI mulai masuk ke operasional perusahaan sehari-hari. Di sisi lain, AI juga dapat digunakan untuk phishing, rekayasa sosial dan serangan yang semakin otomatis. Indonesia sudah menghadapi perubahan tersebut. Pada 20 Agustus, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengingatkan bahwa AI telah mengubah

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Sep 03, 2026 — 3 minutes read
Karyawan Mau Meningkatkan Skill Cybersecurity. Cara Melatihnya Perlu Ikut Berubah.
Cybersecurity

Karyawan Mau Meningkatkan Skill Cybersecurity. Cara Melatihnya Perlu Ikut Berubah.

Cybersecurity training punya reputasi yang agak sulit. Bagi sebagian karyawan, bentuknya masih berupa modul tahunan, beberapa peringatan yang sudah familiar lalu kuis yang jawabannya terasa sangat dekat dengan slide sebelumnya. Sementara itu, situasi di tempat kerja sudah jauh lebih rumit. Data terbaru ENISA untuk Cybersecurity Month menunjukkan 74% karyawan yang disurvei menerima email, pesan, panggilan suara atau link mencurigakan selama enam bulan terakhir. Phishing masih paling banyak ditemui, tetapi ada pula upaya pencurian data pribadi, password, AI-generated scam, malware dan ransomware. ENISA [https://www.enisa.europa.eu/news/cybersecurity-month-work-employees-skills-under-the-looking-glass] Di sisi lain, hanya 45% responden mengatakan organisasinya rutin memberikan informasi atau update mengenai cybersecurity. Masalahnya ternyata bukan karena orang tidak ingin belajar. Sebanyak 85% karyawan menyatakan tertarik meningkatkan skill cybersecurity mereka. ENISA [https://www.enisa.europa.eu/news/cybersecurity-month-work-employees-skills-under-the-looking-glass] Ada gap antara kebutuhan, minat dan cara training diberikan. SALAH SATU HAMBATAN TERBESAR TERNYATA WAKTU Di antara responden yang melihat adanya hambatan dalam meningkatkan kemampuan cybersecurity, 26% menyebut sulitnya mencari waktu di tengah pekerjaan, lebih tinggi dibanding biaya training sebesar 16%. Hambatan lain adalah kurangnya informasi mengenai training serta dukungan employer. ENISA [https://www.enisa.europa.eu/news/cybersecurity-month-work-employees-skills-under-the-looking-glass] Artinya, program cybersecurity harus bisa hidup berdampingan dengan

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Okt 02, 2026 — 3 minutes read

Receive weekly
updates on new posts

Subscribe