Logo
Cybersecurity

Serangan Supply Chain Semakin Marak: Mengapa Third-Party Risk Butuh Continuous Testing

Third-party breaches meningkat dua kali lipat dari 15 menjadi 30 persen dalam satu tahun, menurut Verizon's DBIR. ITSEC Asia, perusahaan cybersecurity terdepan di Indonesia, menjelaskan mengapa continuous testing kini menjadi kebutuhan utama untuk mengatasi supply chain risk.

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Jul 31, 2026
Serangan Supply Chain Semakin Marak: Mengapa Third-Party Risk Butuh Continuous Testing

Pendahuluan
Keterlibatan pihak ketiga dalam data breach meningkat dua kali lipat dari 15 persen menjadi 30 persen dalam satu tahun, lonjakan tahunan terbesar yang pernah tercatat dalam Verizon 2025 Data Breach Investigations Report. Ini bukan tren yang bertahap, melainkan pergeseran struktural dalam cara attacker menjangkau target mereka. Alih-alih membobol perusahaan secara langsung, mereka menyasar vendor, software dependency, atau service provider yang diam-diam berada di dalam trust boundary perusahaan tersebut. Sebagai perusahaan cybersecurity terdepan di Indonesia, ITSEC Asia bekerja sama dengan organisasi di sektor finance, healthcare, dan technology yang baru menyadari bahwa pertahanan internal mereka sendiri ternyata bukan gambaran utuh, karena sebuah breach bisa bermula dari tiga vendor jauhnya dan tetap berujung tepat di meja mereka.


Source: Supply Chain Attack Statistics 2026, Stingrai Research · Supply Chain Attack Statistics for 2026, Swif


Angka-Angka di Balik Pergeseran Ini
Supply chain compromise kini rata-rata menelan biaya 4,91 juta dolar AS dan membutuhkan waktu 267 hari untuk diidentifikasi dan ditangani, lifecycle terpanjang dari semua breach vector yang tercatat dalam IBM's Cost of a Data Breach Report. Artinya, hampir sembilan bulan lamanya sebuah vulnerability yang dibawa masuk oleh vendor, plugin, atau open source package bisa tidak terdeteksi, sementara attacker bergerak lateral melalui sistem-sistem yang saling terhubung. Skala masalah ini terlihat jelas begitu data-data yang terpisah ini dijajarkan satu per satu.

  1. Supply chain breach rata-rata menelan biaya 4,91 juta dolar AS dan butuh 267 hari untuk diidentifikasi dan ditangani, lifecycle terpanjang dari semua breach vector yang tercatat IBM
  2. Sonatype mengidentifikasi lebih dari 454.600 malicious open source package baru sepanjang 2025, lonjakan 75 persen dari tahun sebelumnya
  3. Riset Checkmarx menemukan bahwa 63 persen organisasi mengalami supply chain attack dalam dua tahun terakhir

Jika digabungkan, angka-angka ini menunjukkan bahwa ini bukan lagi kejadian langka yang hanya menimpa perusahaan besar dengan jaringan vendor yang kompleks, melainkan sesuatu yang kini semestinya diantisipasi oleh sebagian besar organisasi.


Source: Supply Chain Attack Statistics for 2026, Swif · Supply Chain Attack Statistics 2026: 65+ Key Facts & Data, AppSec Santa

Mengapa Model Vendor Review Lama Sudah Tidak Lagi Memadai
Sebagian besar organisasi masih mengelola third-party risk dengan cara yang sama seperti dulu, yaitu melalui questionnaire yang dikirim setahun sekali dan compliance checklist yang ditandatangani lalu diarsipkan hingga masa perpanjangan berikutnya. Pendekatan ini berasumsi bahwa security posture vendor pada hari mereka direview akan tetap sama dua belas bulan kemudian, dan pengamatan lebih dekat pada bagaimana vendor access sesungguhnya berperilaku menunjukkan mengapa asumsi tersebut jarang bertahan menghadapi kenyataan.

  1. 60 persen security leader melaporkan peningkatan insiden keamanan pihak ketiga dalam setahun terakhir, menurut survei CISO 2026 dari Panorays
  2. Hanya 15 persen dari CISO tersebut mengaku memiliki visibilitas penuh terhadap third-party risk mereka, naik dari hanya 3 persen setahun sebelumnya
  3. Vendor access saat ini mencakup platform SaaS, API, integrasi cloud, identity provider, dan tim development outsourced, yang seringkali sulit dibedakan dari akses internal

Review tahunan yang bersifat statis sama sekali tidak bisa mengimbangi kecepatan perubahan akses tersebut, beserta risiko yang menyertainya. Continuous testing menutup celah ini dengan memvalidasi permukaan exposure vendor secara berkelanjutan, sehingga bisa menangkap momen ketika sebuah integrasi baru atau dependency yang belum di-patch membuka celah yang tidak akan pernah terdeteksi oleh checklist tahunan hingga semuanya sudah terlambat.

Source: 2026 Study from Panorays: 85% of CISOs Can't See Third-Party Threats, CIO · Third-Party Risk Statistics 2026, DeepStrike


Menutup Celah dengan Continuous Validation
Inilah pergeseran yang sedang dibantu ITSEC Asia untuk dilakukan oleh para kliennya, yaitu mengubah third-party risk management dari sekadar urusan administratif menjadi proses yang tervalidasi secara berkelanjutan. Melalui Bronyx, platform autonomous penetration testing berbasis AI milik ITSEC Asia, organisasi dapat memperluas disiplin continuous testing yang mereka terapkan pada infrastruktur mereka sendiri ke vendor, API, dan software dependency yang terhubung dengannya, sehingga celah yang bisa dieksploitasi di seluruh extended attack surface dapat ditemukan tanpa harus bergantung pada questionnaire self-reported dari vendor. Mengingat sebuah supply chain breach kini rata-rata menelan biaya sekitar 4,91 juta dolar AS dan butuh lebih dari delapan bulan untuk diselesaikan, secara ekonomi jauh lebih menguntungkan untuk menangkap integrasi vendor yang salah konfigurasi atau dependency yang rentan sejak dini, saat masih murah untuk diperbaiki, dibanding baru menyadarinya setelah attacker sudah berada di dalam sistem selama berbulan-bulan. Bagi organisasi Indonesia yang tunduk pada UU PDP, di mana kegagalan pihak ketiga tetap dapat memicu tanggung jawab regulasi perusahaan itu sendiri, perbedaan ini bukan sekadar teori, melainkan perbedaan antara perbaikan rutin dan breach notification.

Source: Supply Chain Attack Statistics for 2026, Swif · Supply Chain Risk in 2026, Cyberlab
 

Diskusikan Third-Party Risk Bersama ITSEC Asia
Ekosistem vendor dan partner bukan lagi kasus pengecualian dalam threat model sebuah organisasi, melainkan jalur default yang sudah digunakan attacker. Kunjungi bronyx.ai atau hubungi tim ITSEC Asia di itsec.asia/contact untuk melihat bagaimana continuous testing berbasis AI dapat memvalidasi vendor dan integrasi yang menjadi tumpuan organisasi Anda, sebelum semuanya berubah menjadi titik masuk berikutnya bagi attacker.

Share this post

You may also like

Cloud Misconfiguration Masih Jadi Penyebab Utama Kebocoran Data: Begini Cara Tetap Aman
Cybersecurity

Cloud Misconfiguration Masih Jadi Penyebab Utama Kebocoran Data: Begini Cara Tetap Aman

Pendahuluan Berapa banyak storage bucket, IAM role, atau API endpoint di lingkungan cloud organisasi Anda yang bisa Anda pastikan sudah dikonfigurasi dengan benar saat ini. Sebagian besar pemimpin keamanan tidak bisa menjawab pertanyaan ini dengan yakin, dan ketidakpastian itulah yang justru dimanfaatkan penyerang. Riset industri terbaru menunjukkan gambaran yang cukup jelas. Verizon Data Breach Investigations Report mengaitkan lima belas persen breach langsung dengan cloud misconfiguration, sementara analisis terpisah dari SentinelOne menemukan bahwa sembilan puluh lima persen kegagalan keamanan cloud berasal dari human error, bukan dari kelemahan platform itu sendiri. Gartner sudah bertahun-tahun menyampaikan hal serupa, memproyeksikan bahwa hingga 2026, sembilan puluh sembilan persen kegagalan keamanan cloud akan menjadi kesalahan pengguna, bukan penyedia layanan. ITSEC Asia, perusahaan cybersecurity terkemuka di Indonesia, bekerja sama dengan organisasi di Indonesia, Singapura, Australia, dan UAE yang tengah berlomba memodernisasi infrastruktur mereka, dan polanya konsisten di mana-mana. Tim bergerak cepat untuk pindah ke cloud, sementara governance yang dibutuhkan untuk mengamankan lingkungan tersebut diam-diam tertinggal di belakang. Source: Cloud Security Statistics 2026: Key Data and Trends Alasan Misconfiguration Masih Mengalahkan Malware

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Agt 07, 2026 5 minutes read
AI Menaikan Standar Talenta Keamanan Siber
Cybersecurity

AI Menaikan Standar Talenta Keamanan Siber

AI semakin sering digunakan dalam pekerjaan keamanan siber sehari-hari. Global Cybersecurity Outlook 2026 dari World Economic Forum mencatat 77% organisasi yang disurvei telah menggunakan AI untuk keamanan siber. Pemanfaatannya antara lain untuk mendeteksi phishing, merespons intrusi dan menganalisis perilaku pengguna. Bagi tim yang setiap hari berhadapan dengan banyak data dan alert, tentu ini membantu. Namun AI tidak membuat kebutuhan terhadap talenta keamanan siber berkurang. Justru standar kemampuan manusianya ikut naik. KALAU MESIN MAKIN PINTAR, MANUSIANYA TIDAK BISA DIAM DI TEMPAT Dalam riset yang sama, 54% organisasi menyebut kurangnya pengetahuan atau kemampuan sebagai hambatan dalam menggunakan AI untuk cybersecurity. Sebanyak 41% juga menyoroti kebutuhan terhadap pengawasan manusia. Di sinilah peran profesional keamanan siber berubah. AI sangat bagus untuk memproses informasi dalam jumlah besar. Namun konteks masih menjadi pekerjaan manusia: apakah aktivitas yang terlihat aneh benar-benar berbahaya, apa dampaknya terhadap bisnis dan tindakan apa yang harus dilakukan saat informasinya belum lengkap. Talenta keamanan siber semakin perlu mampu: * Memverifikasi temuan AI sebelum mengambil tindakan * Mengenali ketika rekomendasi otomatis tidak sesuai kondisi * Menyelidiki aktivitas

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Sep 02, 2026 2 minutes read
Is Using a VPN Really Safe? Here’s the Reality Check.
Cybersecurity

Is Using a VPN Really Safe? Here’s the Reality Check.

INTRODUCTION Today, almost everything we do happens online, from working and studying to shopping and banking. While the internet makes life easier, it also comes with certain risks, especially when it comes to privacy and data security. Many people connect to public Wi-Fi in places like cafés, airports, or hotels without realizing that these networks may not always be secure. In some cases, attackers can monitor or intercept data that travels through these connections. This is where VPN apps become useful. A VPN app helps create a safer internet connection by protecting your data and hiding your online identity. Even if you are using an open network, a VPN can help keep your activity more private. This article will explain what a VPN app is, how it works, and why it has become an important tool for safer internet use. Source: pr.norton.com [https://pr.norton.com/blog/privacy/what-is-a-vpn?utm_], security.org [https://www.security.org/vpn/?utm_], fortinet.com [https://www.fortinet.com/resources/cyberglossary/vpn-wifi?utm_] WHAT IS A VPN APP? A VPN app is a tool that helps protect your internet connection and online activity. VPN stands for Virtual Private Network.

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Mar 13, 2026 6 minutes read

Receive weekly
updates on new posts

Subscribe