Logo
Cybersecurity

SOC Tidak Bisa Menangani Krisis Siber Sendirian

Tim teknis mungkin menjadi pihak pertama yang menemukan insiden. Beberapa menit kemudian, masalahnya sudah melibatkan banyak fungsi lain.

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Sep 15, 2026
SOC Tidak Bisa Menangani Krisis Siber Sendirian

Bayangkan ransomware terdeteksi pukul 10.30 pada Selasa pagi.

SOC menemukan aktivitas mencurigakan dan mulai melakukan investigasi. IT kemudian perlu mengisolasi sistem. Manajemen ingin mengetahui apakah operasional harus dihentikan. Legal membutuhkan fakta. Tim komunikasi mungkin harus menyiapkan respons. Seseorang juga perlu menentukan apakah pelanggan atau regulator harus diberi tahu.

Sebelum jam makan siang, cybersecurity sudah berubah menjadi pekerjaan organisasi.

Kondisi seperti ini tercermin dalam pelatihan incident response yang saat ini dibuka oleh ITU Academy. Peserta menghadapi tiga skenario realistis: ransomware pada sekolah, kebocoran data pelajar dan serangan terhadap sistem pendidikan tingkat nasional. Mereka kemudian menjalankan siklus incident response melalui collaborative tabletop exercise.

Prinsipnya berlaku jauh di luar sektor pendidikan. Kemampuan incident response bergantung pada kemampuan banyak orang mengambil keputusan bersama.

Skill Teknis Hanya Salah Satu Bagian

SOC yang baik dapat mendeteksi aktivitas berbahaya, menganalisis evidence dan merekomendasikan containment. Namun tim tersebut tetap membutuhkan organisasi yang tahu apa yang harus dilakukan setelah menerima informasi itu.

Karena itu, kemampuan incident response tersebar di beberapa fungsi:

  • SOC dan security melakukan investigasi, containment dan menjaga evidence.
  • IT dan infrastructure memahami sistem terdampak serta dependency untuk recovery.
  • Manajemen mengambil keputusan operasional dan risiko dengan informasi terbatas.
  • Legal dan compliance melihat kewajiban regulasi dan kontraktual.
  • Komunikasi menyiapkan informasi yang akurat untuk karyawan, pelanggan atau stakeholder lain.

Mereka tidak membutuhkan tingkat keahlian cybersecurity yang sama.

Namun mereka perlu memahami situasi yang sama.

ITU Regional CyberDrill for the Americas 2026 menggunakan pendekatan tersebut. Pesertanya mencakup technical dan management officials dari CIRT, CERT dan SOC bersama otoritas cybersecurity, kementerian, regulator serta akademisi. Target latihannya mencakup technical capability, komunikasi, incident management dan koordinasi.

Tabletop Exercise Menemukan Pertanyaan yang Sering Terlambat Ditanyakan

Format tabletop exercise terlihat sederhana. Berikan satu skenario insiden lalu tanyakan apa yang akan dilakukan tim.

Kemudian terus bertanya.

Siapa yang boleh memutuskan sistem kritis dimatikan? Siapa menghubungi regulator? Apakah layanan bisa dipulihkan? Siapa memberi briefing kepada CEO? Bagaimana kalau orang yang biasanya memberikan approval sedang tidak bisa dihubungi?

Incident response plan yang terlihat rapi mulai menunjukkan lubangnya.

Justru itu gunanya.

Simulasi dapat menemukan ownership yang tidak jelas, contact list lama, jalur eskalasi yang hilang dan asumsi yang selama ini terlihat masuk akal di dalam dokumen.

Pelatihan cyber disaster response ITU menggunakan tabletop scenario, hands on exercise dan debrief untuk melatih komunikasi serta pengambilan keputusan ketika menghadapi serangan siber.

Lebih murah menemukan masalah tersebut di ruang latihan daripada ketika ransomware sedang bergerak ke server berikutnya.

Latih Orang di Sekitar Teknologinya

Cyber range tetap berguna untuk melatih SOC analyst dan incident responder. Tahap berikutnya adalah menghubungkan latihan teknis dengan orang yang harus mengambil keputusan berdasarkan hasil investigasi tersebut.

Skenario dapat dimulai dari analyst yang menemukan aktivitas mencurigakan lalu berlanjut ke handover kepada manajemen, keputusan operasional oleh IT dan briefing singkat kepada tim komunikasi.

Model pembelajaran seperti ini relevan dengan ITSEC Cyber & AI Academy, tempat scenario based training dapat membantu peserta menghubungkan kemampuan teknis dengan koordinasi dan judgment yang dibutuhkan ketika insiden benar benar terjadi.

SOC mungkin menjadi ruangan pertama tempat alarm berbunyi.

Organisasi yang siap tahu apa yang harus dilakukan oleh ruangan lainnya.

Pelajari program cybersecurity dan AI berbasis praktik di ITSEC Cyber & AI Academy.

Referensi: ITU Academy: Incident Response for Secure School Connectivity · ITU: 16th Regional CyberDrill for the Americas 2026 · ITU Academy: Cyber Disaster Response Simulation Exercises

Share this post

You may also like

Kesenjangan Talenta Siber yang Tak Bisa Lagi Diabaikan Indonesia
Cybersecurity

Kesenjangan Talenta Siber yang Tak Bisa Lagi Diabaikan Indonesia

Seiring bisnis, pemerintah dan berbagai organisasi mempercepat transformasi digital, kebutuhan terhadap tenaga profesional cybersecurity terus meningkat. Di saat yang sama, kemampuan yang dibutuhkan untuk melindungi sistem digital juga semakin berkembang. Cloud security, threat intelligence, security operations, penetration testing dan artificial intelligence kini menjadi bagian dari keterampilan yang dibutuhkan oleh profesional cybersecurity. Kesenjangan antara jumlah talenta yang tersedia dan kemampuan yang dibutuhkan industri semakin sulit diabaikan. KEBUTUHAN CYBERSECURITY BERKEMBANG LEBIH CEPAT DARIPADA KETERAMPILAN Tenaga kerja cybersecurity secara global menghadapi persoalan kekurangan talenta sekaligus kesenjangan keterampilan. Menurut 2025 ISC2 Cybersecurity Workforce Study, 95% profesional cybersecurity yang disurvei memiliki setidaknya satu kebutuhan keterampilan di dalam tim mereka. Sebanyak 59% menyebut kebutuhan tersebut berada pada tingkat kritis atau signifikan. Studi yang sama menemukan bahwa 88% responden pernah mengalami setidaknya satu dampak cybersecurity yang signifikan akibat kekurangan keterampilan. Bagi Indonesia, persoalannya bukan sekadar mengisi posisi kosong di tim cybersecurity. Organisasi membutuhkan profesional yang mampu menerapkan pengetahuan mereka untuk menghadapi persoalan keamanan yang nyata. Kebutuhan keterampilan tersebut juga terus berubah. World Economic Forum Future of Jobs Report 2025 menempatkan jaringan dan cybersecurity sebagai

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Agt 24, 2026 4 minutes read
Talenta Cybersecurity Perlu Mengerti Bagaimana Sistem Dibangun
Cybersecurity

Talenta Cybersecurity Perlu Mengerti Bagaimana Sistem Dibangun

Karier cybersecurity selama ini sering dibayangkan dari sisi pertahanan: memonitor sistem, mendeteksi aktivitas mencurigakan, menginvestigasi insiden lalu memperbaiki vulnerability. Pekerjaan tersebut tetap dibutuhkan. Namun security semakin bergerak ke tahap yang lebih awal. ENISA sedang memperbarui European Cybersecurity Skills Framework agar peran cybersecurity semakin selaras dengan secure digital product lifecycle, teknologi seperti AI dan perkembangan regulasi. Framework tersebut memetakan pekerjaan cybersecurity ke dalam 12 profil profesional lengkap dengan tanggung jawab, pengetahuan dan kompetensi yang dibutuhkan. NIST juga membuat perubahan yang menarik. NICE Framework Components versi 2.2.0 menambahkan Cybersecurity Supply Chain Risk Management sebagai work role serta DevSecOps sebagai competency area. Perubahan itu menunjukkan cybersecurity semakin dekat dengan proses membangun teknologi. SECURITY MULAI MASUK KE PROSES PRODUKSI Layanan digital modern jarang dibuat dari satu kumpulan kode yang seluruhnya dibangun sendiri. Sistem bisa menggunakan cloud infrastructure, open-source package, API, layanan eksternal, development pipeline otomatis dan software dari berbagai pihak. Setiap dependency membawa keputusan keamanan baru. Karena itu, talenta cybersecurity semakin perlu memahami pertanyaan seperti: * Dari mana software dependency berasal dan bagaimana memverifikasinya? * Bagaimana credential dan secret dikelola

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Sep 09, 2026 3 minutes read
Cybersecurity Indonesia: Ancaman Siber Meningkat dan Pentingnya Strategi Keamanan Digital yang Tepat
Cybersecurity

Cybersecurity Indonesia: Ancaman Siber Meningkat dan Pentingnya Strategi Keamanan Digital yang Tepat

cybersecurity indonesia
cyber security indonesia
cybersecurity di indonesia
cyber security di indonesia
cybersecurity in indonesia
cyber security in indonesia

Indonesia kini menghadapi peningkatan risiko ransomware, phishing, kebocoran data hingga eksploitasi infrastruktur digital yang dapat berdampak terhadap operasional bisnis, layanan publik dan kepercayaan pelanggan. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai sektor seperti pemerintahan, finansial, manufaktur, pendidikan hingga layanan digital menjadi target utama serangan siber. Sebagai perusahaan cybersecurity Indonesia, ITSEC Asia menghadirkan layanan keamanan siber untuk membantu organisasi meningkatkan cyber resilience dan menghadapi ancaman digital modern. -------------------------------------------------------------------------------- MENGAPA CYBERSECURITY INDONESIA MENJADI PRIORITAS NASIONAL? Cybersecurity Indonesia kini bukan lagi sekadar kebutuhan teknis. Keamanan siber telah menjadi bagian penting dari ketahanan bisnis dan ekosistem digital nasional. Pertumbuhan ekonomi digital Indonesia mendorong organisasi untuk mengadopsi teknologi secara lebih cepat. Namun di saat yang sama, ancaman siber juga berkembang melalui: * Serangan ransomware terhadap perusahaan dan institusi * Kebocoran data pelanggan dan data sensitif * Serangan phishing berbasis AI dan social engineering * Ancaman terhadap cloud infrastructure * Eksploitasi aplikasi web dan mobile * Serangan terhadap critical infrastructure Laporan global menunjukkan ransomware terus meningkat secara signifikan pada 2025 dengan banyak sektor industri menjadi target utama. Indonesia juga menghadapi tantangan besar

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Mei 07, 2026 3 minutes read

Receive weekly
updates on new posts

Subscribe