Logo
Cybersecurity

Tim Incident Response Punya Skenario AI yang Perlu Dilatih

Tim security sudah terbiasa menginvestigasi compromised account dan suspicious endpoint. Sistem AI membawa jenis evidence, failure mode dan keputusan containment yang mungkin belum pernah mereka latih.

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Okt 07, 2026
Tim Incident Response Punya Skenario AI yang Perlu Dilatih

Sebuah AI assistant yang terhubung dengan internal data tiba tiba memberikan informasi yang seharusnya tidak muncul.

Apa yang harus dikumpulkan investigator lebih dulu?

Evidence tradisional tetap dibutuhkan. Namun investigasi mungkin juga harus memeriksa prompt, model output, retrieval source, system instruction, access permission serta catatan tindakan yang dilakukan melalui connected tools. Mematikan satu endpoint belum tentu menjelaskan data apa yang sempat diakses model atau informasi apa yang sudah dihasilkan.

Data workforce terbaru menunjukkan banyak tim belum pernah benar benar melatih situasi seperti ini.

Riset State of Cybersecurity 2026 dari ISACA yang melibatkan lebih dari 1.800 profesional cybersecurity global menemukan hanya 8% organisasi rutin melakukan AI specific response exercise. Pada riset yang sama, 45% responden melihat LLM SecOps sebagai skills gap, naik 12 poin persentase dibanding 2025 dan 21 poin dibanding 2024. ISACA

AI security sudah mulai menjadi pekerjaan operasional.

AI Membawa Jenis Evidence Baru

NIST mengadakan AI Incident Management Workshop pada Mei karena penggunaan AI dalam critical infrastructure, cybersecurity dan operational environment mulai menciptakan kategori insiden baru. Pembahasannya mencakup definisi incident, lifecycle, taxonomy, existing playbook serta gap dalam cybersecurity dan AI risk management guidance. NIST

Bagi security practitioner, kemampuan pertama yang dibutuhkan adalah memahami evidence apa yang tersedia di sekitar sistem AI.

Tergantung implementasinya, investigator mungkin harus memeriksa:

  • Prompt, output dan conversation history
  • Retrieval source serta data yang diakses sistem
  • Model dan application configuration
  • Identity serta permission record
  • Connected API, tools dan automated action
  • Monitoring data sebelum dan sesudah perilaku abnormal
  • Human approval atau intervention

Investigasinya bisa melibatkan cybersecurity, AI engineering, data, privacy dan business team sekaligus.

Cukup ramai untuk jenis insiden yang belum pernah dilatih.

Containment Juga Menjadi Lebih Rumit

Bayangkan AI agent yang dapat membaca dokumen, mengirim pesan dan memperbarui business application. Kemudian muncul suspicious behaviour.

Apakah seluruh sistem harus dimatikan? Cukup cabut satu tool permission? Batasi akses ke data tertentu? Rollback configuration? Atau jalankan sistem dalam reduced mode agar investigator masih bisa mengamati perilakunya?

Semua pilihan tersebut memiliki konsekuensi teknis dan bisnis.

ISACA juga menemukan keterlibatan security team dalam AI semakin besar. Sebanyak 51% responden mengatakan mereka atau timnya terlibat dalam development, onboarding atau implementation AI solution, naik dari 40% pada 2025 dan 29% pada 2024. ISACA

Artinya, orang yang menjaga keamanannya semakin perlu memahami cara merespons kegagalan pada sistem yang ikut mereka implementasikan.

Masukkan Insiden AI ke Dalam Simulasi

Latihan bisa dimulai dengan simulated AI assistant yang tiba tiba mengambil confidential information di luar scope normalnya.

Peserta mendapatkan log, prompt, access record dan system configuration. Mereka harus mencari penyebabnya, menentukan kemungkinan blast radius, menjaga evidence lalu memilih containment yang tepat tanpa menghentikan business process secara berlebihan.

Setelah itu, buat situasinya sedikit lebih sulit.

AI mungkin sudah memanggil application lain. Output mungkin sudah disalin user sebelum alert muncul. Perilaku awalnya mungkin tidak langsung bisa direproduksi.

Skenario seperti ini cocok dengan pembelajaran hands on di ITSEC Cyber & AI Academy, tempat kemampuan AI dan cybersecurity dapat dilatih melalui investigasi dan pengambilan keputusan yang mendekati situasi operasional.

Kalau latihan AI incident response pertama dilakukan saat insiden AI pertama benar benar terjadi, jadwal training-nya sudah agak terlambat.

Pelajari program cybersecurity dan AI berbasis praktik di ITSEC Cyber & AI Academy.

Referensi

  1. ISACA, “Only 8 Percent of Organizations Conduct Regular AI-Specific Response Exercises, ISACA Research Finds,” 22 September 2026
  2. NIST, “NIST Workshop on AI Incident Management,” dibuat 31 Maret 2026, diperbarui 27 Mei 2026
Share this post

You may also like

Cybersecurity untuk Institusi Keuangan: Memperkuat Ketahanan Siber di Tengah Regulasi OJK
Cybersecurity

Cybersecurity untuk Institusi Keuangan: Memperkuat Ketahanan Siber di Tengah Regulasi OJK

Transformasi digital telah mengubah cara industri keuangan beroperasi. Bank, perusahaan asuransi, multifinance hingga fintech semakin bergantung pada teknologi untuk memberikan layanan yang lebih cepat, efisien dan terintegrasi kepada nasabah. Namun, di balik percepatan inovasi tersebut, risiko yang dihadapi juga semakin kompleks. Ancaman siber terus berkembang. Infrastruktur menjadi semakin dinamis. Sementara itu, regulator juga menaruh perhatian yang semakin besar terhadap pentingnya ketahanan operasional dan keamanan informasi. Bagi institusi keuangan, cybersecurity bukan lagi sekadar isu teknologi. Cybersecurity telah menjadi bagian dari upaya menjaga kepercayaan nasabah dan keberlangsungan bisnis. MENGAPA INDUSTRI KEUANGAN MENJADI TARGET UTAMA SERANGAN SIBER? Industri jasa keuangan mengelola berbagai aset yang sangat bernilai, seperti: * Data nasabah. * Informasi transaksi. * Sistem pembayaran. * Data pribadi. * Informasi bisnis yang sensitif. Hal tersebut menjadikan sektor keuangan sebagai salah satu target yang paling menarik bagi para pelaku ancaman. Sebuah insiden keamanan tidak hanya berpotensi menyebabkan kerugian finansial, tetapi juga dapat berdampak pada: * Gangguan operasional. * Hilangnya kepercayaan nasabah. * Risiko reputasi. * Konsekuensi hukum dan regulasi. Karena itu, menjaga ketahanan siber menjadi semakin

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Jun 15, 2026 — 5 minutes read
Standar Talenta Cybersecurity Pemula Mulai Berubah
Cybersecurity

Standar Talenta Cybersecurity Pemula Mulai Berubah

Dulu, jalur awal karier cybersecurity cukup mudah ditebak. Pelajari jaringan. Pahami access control. Kenali security operations. Setelah punya pengalaman, barulah masuk ke teknologi yang lebih baru dan rumit. AI mulai mengacak urutan itu. Pada 1 September 2026, ISC2 mulai menggunakan pembaruan materi untuk sertifikasi entry-level Certified in Cybersecurity, perubahan besar pertama sejak sertifikasi tersebut diluncurkan pada 2022. Konsep dasar AI kini masuk ke dalam materi, termasuk mengenali aset AI, ancaman otomatis dan tata kelola teknologi baru yang aman. Panduan AI terbaru mereka juga menunjukkan arah yang sama. Profesional cybersecurity semakin perlu memahami AI governance, keamanan model, integritas data, prompt engineering, manajemen risiko AI dan keamanan sistem yang menggunakan AI. Daftarnya lumayan panjang untuk topik yang belum lama ini masih dianggap spesialis. KEAMANAN AI MULAI TURUN KE LEVEL PEMULA Alasannya cukup praktis. Sistem berbasis AI mulai masuk ke operasional perusahaan sehari-hari. Di sisi lain, AI juga dapat digunakan untuk phishing, rekayasa sosial dan serangan yang semakin otomatis. Indonesia sudah menghadapi perubahan tersebut. Pada 20 Agustus, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengingatkan bahwa AI telah mengubah

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Sep 03, 2026 — 3 minutes read
Mengapa Cybersecurity Awareness Penting bagi Organisasi Modern
Cybersecurity

Mengapa Cybersecurity Awareness Penting bagi Organisasi Modern

PENDAHULUAN Seiring organisasi terus mengadopsi layanan cloud, model kerja jarak jauh, dan teknologi berbasis AI, risiko siber tidak lagi terbatas pada kerentanan teknis semata. Penyerang kini semakin berfokus pada manusia memanfaatkan perilaku, kepercayaan, dan alur kerja sehari-hari untuk mendapatkan akses tidak sah ke sistem dan data. Serangan phishing, social engineering, dan teknik impersonasi semakin canggih, bahkan mampu melewati kontrol keamanan yang sudah maju. Dalam lanskap ancaman yang terus berkembang ini, cybersecurity awareness menjadi faktor krusial dalam menentukan seberapa efektif organisasi dapat mencegah, mendeteksi, dan merespons insiden siber. Artikel ini membahas mengapa cybersecurity awareness penting, tantangan yang dihadapi organisasi dalam membangunnya, serta bagaimana awareness mendukung keamanan siber yang lebih kuat. APA ITU CYBERSECURITY AWARENESS? Cybersecurity awareness merujuk pada kemampuan individu dalam sebuah organisasi untuk mengenali risiko siber dan bertindak secara aman saat berinteraksi dengan sistem digital, data, dan teknologi. Pada konteks enterprise, cybersecurity awareness tidak hanya menjadi tanggung jawab tim IT atau keamanan. Awareness berlaku bagi seluruh karyawan, mitra, dan pemangku kepentingan yang memiliki akses ke sumber daya organisasi atau menangani informasi sensitif. Cybersecurity awareness umumnya mencakup: ● Mengenali

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Jan 19, 2026 — 4 minutes read

Receive weekly
updates on new posts

Subscribe