Logo
Cybersecurity

Tim Security Perlu Memahami Bagaimana Software Sampai ke Production

Menemukan vulnerability tetap dibutuhkan. Mencegah code, dependency dan configuration yang lemah mencapai production membutuhkan kemampuan yang lebih luas.

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Okt 05, 2026
Tim Security Perlu Memahami Bagaimana Software Sampai ke Production

Seorang security professional melakukan review aplikasi dan menemukan vulnerability. Development team memperbaikinya. Masalah dianggap selesai.

Kemudian kelemahan serupa muncul lagi pada release berikutnya.

Biasanya ini pertanda bahwa sumber masalah berada lebih dalam daripada satu bagian code. Build process mungkin menerima dependency yang tidak aman. Security check dilakukan terlalu terlambat. Container configuration mungkin disalin dari template lama. Developer baru menerima feedback ketika release hampir selesai.

National Cybersecurity Center of Excellence dari NIST sedang memberi perhatian lebih besar pada bagian tersebut. Update DevSecOps yang diterbitkan pada 24 September mencakup CI/CD pipeline automation, containerized application deployment serta functional scenario yang menunjukkan aktivitas security sepanjang software development lifecycle. NIST

Implikasinya bagi workforce cukup konkret. Application security professional semakin perlu memahami perjalanan software dari mesin developer sampai production.

Security Mulai Masuk Lebih Dalam ke Pipeline

Security testing secara tradisional bisa dilakukan mendekati akhir development. DevSecOps membawa security activity ke dalam proses yang sudah digunakan developer untuk build, test dan deploy software.

Artinya, praktisi perlu bekerja lintas disiplin.

Kemampuan DevSecOps yang relevan antara lain:

  • Memahami perjalanan source code melalui CI/CD pipeline
  • Menentukan posisi automated security testing
  • Melacak dependency dan software component
  • Memahami proses pembuatan container serta deployment configuration
  • Menentukan finding yang harus menghentikan release
  • Menangani credential dan secret selama build
  • Memberikan security feedback kepada developer dengan cukup cepat

Proyek DevSecOps NIST memetakan praktik dari Secure Software Development Framework ke sebuah reference model yang menunjukkan bagaimana security task dapat diterapkan dalam modern development pipeline. NCCoE

NICE juga sudah menambahkan DevSecOps sebagai competency area resmi dalam cybersecurity workforce framework versi 2.2.0. NIST

Pengetahuan mengenai software delivery akhirnya menjadi bagian yang semakin jelas dari pengembangan skill cybersecurity.

Automation Tetap Membutuhkan Judgment

Sebuah pipeline dapat menjalankan puluhan pemeriksaan sebelum software masuk production. Bukan berarti setiap alert harus menghentikan release.

Seseorang tetap harus memahami konteksnya.

Vulnerable component mungkin tidak pernah bisa dijangkau dari aplikasi. Finding lain mungkin berada pada internet-facing function yang memproses sensitive information. Failed configuration test bisa menunjukkan penyimpangan kecil atau exposure serius.

Security professional membutuhkan pemahaman development yang cukup untuk membahas finding bersama engineer dan risk judgment untuk menentukan mana yang perlu ditangani segera.

Tanpa kemampuan tersebut, automation hanya menghasilkan security finding dengan kecepatan mesin. Backlog tentu akan sangat senang.

Jalankan Pipeline-nya Saat Training

DevSecOps sulit dipahami hanya melalui diagram.

Latihan yang lebih realistis dapat memberikan peserta source code, CI/CD pipeline, automated test, container build dan deployment environment. Masukkan insecure dependency atau configuration lalu minta peserta mencari titik tempat control seharusnya mendeteksinya.

Setelah itu, ubah pipeline, jalankan build lagi dan lihat hasilnya.

Siklus praktik seperti ini relevan dengan pembelajaran di ITSEC Cyber & AI Academy. Profesional cybersecurity dapat mengembangkan kemampuan application security, testing dan secure delivery melalui sistem yang mendekati environment yang akan mereka hadapi saat bekerja.

Vulnerability report memberi tahu tim apa yang pernah salah.

Skill DevSecOps membantu mereka memperbaiki proses yang membuat masalah tersebut bisa lolos.

Pelajari program cybersecurity dan AI berbasis praktik di ITSEC Cyber & AI Academy.

Referensi

  1. NIST NCCoE, “New NIST NCCoE Resources on DevSecOps and October 28 Webinar on Agentic AI,” 24 September 2026
  2. NIST NCCoE, “Secure Software Development, Security, and Operations (DevSecOps) Practices Live Document,” 24 Maret 2026, diperbarui secara berkala
  3. NIST NICE, “NICE Releases NICE Framework Components v2.2.0,” 28 April 2026
Share this post

You may also like

Indonesia Makin Banyak Membeli Teknologi Keamanan Siber. Apakah SDM-nya Sudah Siap?
Cybersecurity

Indonesia Makin Banyak Membeli Teknologi Keamanan Siber. Apakah SDM-nya Sudah Siap?

Indonesia terus meningkatkan investasi di bidang keamanan siber seiring perusahaan semakin bergantung pada cloud, AI, dan layanan digital. Platform keamanan juga semakin canggih. Namun, kemampuan orang yang mengoperasikan teknologi tersebut harus berkembang dengan kecepatan yang sama. Kesenjangan ini semakin sulit diabaikan. Menurut 2025 ISC2 Cybersecurity Workforce Study, 95% profesional keamanan siber melaporkan adanya kebutuhan keterampilan tertentu di organisasi mereka. AI menjadi kebutuhan keterampilan terbesar dengan 41% responden, disusul cloud security sebesar 36%. Artinya, persoalannya bukan sekadar kekurangan tenaga keamanan siber. Organisasi membutuhkan SDM dengan keterampilan spesifik untuk mengamankan teknologi yang semakin kompleks. TEKNOLOGI BARU MEMBUTUHKAN KETERAMPILAN BARU Perusahaan yang memindahkan infrastrukturnya ke cloud membutuhkan profesional yang memahami arsitektur cloud, identity and access management, serta kerentanan khusus pada lingkungan cloud. Organisasi yang menggunakan AI membutuhkan SDM yang memahami cara mengamankan sistem AI sekaligus bagaimana teknologi tersebut dapat dimanfaatkan oleh penyerang. Tim keamanan yang menggunakan lebih banyak alat otomatisasi juga tetap membutuhkan analis yang mampu memeriksa alert dan membedakan serangan nyata dari false positive. Keterampilan yang semakin dibutuhkan organisasi antara lain: * AI dan AI security * Cloud security

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Agu 27, 2026 — 3 minutes read
Perlindungan Data dan Hukum Cybersecurity di Wilayah Asia-Pasifik
Cybersecurity

Perlindungan Data dan Hukum Cybersecurity di Wilayah Asia-Pasifik

Info

Selain untuk penjualan dan perdagangan, sebagian besar pengguna internet menggunakannya untuk bersosialisasi dan berinteraksi dengan rekan-rekan secara online, misalnya, ada 3,80 miliar pengguna jaringan media sosial pada Januari 2020, jumlah ini telah meningkat sekitar 9 persen sejak tahun lalu. Kemajuan internet dan teknologi komunikasi terkait memungkinkan akses mudah ke informasi dari mana saja di muka bumi ini, misalnya, pedagang online yang beroperasi di Thailand dapat menawarkan layanannya kepada pelanggan yang tinggal di Uni Eropa dan Amerika Serikat. Untuk menangani penyebaran informasi pribadi baik berupa informasi keuangan, medis, dan jenis informasi pribadi lainnya di seluruh dunia melalui internet, peraturan hukum yang sesuai harus diselesaikan untuk melindungi data pribadi warga negara dan aset digital organisasi saat bekerja online. Menyusul implementasi Peraturan Perlindungan Data Umum (General Data Protection Regulation/GDPR) di Uni Eropa (mulai berlaku pada 25 Mei 2018), yang mengatur perlindungan data dan privasi di negara-negara Uni Eropa serta mengatur transfer data pribadi di luar wilayah Uni Eropa dan EEA , semakin banyak negara di dunia mulai meninjau dan memperkuat undang-undang perlindungan data dan

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Jul 10, 2023 — 11 minutes read
API Security Testing: Mengapa API Menjadi Target Baru yang Semakin Diminati Attacker?
Cybersecurity

API Security Testing: Mengapa API Menjadi Target Baru yang Semakin Diminati Attacker?

Di balik hampir setiap aplikasi modern, terdapat API yang memungkinkan berbagai sistem saling terhubung dan bertukar data. Mulai dari mobile banking, platform e-commerce, aplikasi ride-hailing hingga layanan berbasis cloud, API telah menjadi komponen penting yang mendukung pengalaman digital yang cepat dan terintegrasi. Namun, semakin besar peran API dalam bisnis, semakin besar pula perhatian para pelaku ancaman terhadapnya. Dalam beberapa tahun terakhir, serangan yang memanfaatkan kelemahan API terus meningkat. Bagi attacker, API menawarkan akses langsung ke data, layanan dan fungsi bisnis yang bernilai tinggi. Karena itulah API Security Testing menjadi semakin penting dalam strategi keamanan aplikasi modern. APA ITU API SECURITY TESTING? API Security Testing adalah proses pengujian keamanan yang bertujuan untuk mengidentifikasi dan memvalidasi kelemahan pada Application Programming Interface (API) sebelum dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Berbeda dengan Web Application Penetration Testing yang berfokus pada antarmuka pengguna, API Security Testing lebih berfokus pada komunikasi antar sistem dan bagaimana mekanisme tersebut dapat dimanipulasi oleh attacker. Tujuannya bukan hanya menemukan celah keamanan, tetapi memahami bagaimana sebuah kerentanan dapat memengaruhi data, layanan dan proses bisnis. MENGAPA API

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Jun 15, 2026 — 5 minutes read

Receive weekly
updates on new posts

Subscribe