Logo
Events

AICX 2026 oleh ITSEC Asia: Indonesia Perlu Bersiap Menghadapi Ancaman Siber Quantum

Para pembicara dari ITB, BRIN dan KORIKA dalam AICX 2026 oleh ITSEC Asia menyerukan persiapan dini menuju kriptografi pasca kuantum, seiring teknologi kuantum mulai menjadi bagian dari infrastruktur kepercayaan bagi AI.

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Okt 21, 2026
AICX 2026 oleh ITSEC Asia: Indonesia Perlu Bersiap Menghadapi Ancaman Siber Quantum

ITSEC Asia, perusahaan terkemuka di bidang keamanan siber dan AI di Indonesia, mempertemukan para ahli dari kalangan akademisi, peneliti dan industri dalam AICX 2026 untuk membahas kesiapan Indonesia menghadapi perkembangan komputasi kuantum. Komputer kuantum saat ini memang belum mampu memecahkan enkripsi RSA yang digunakan secara luas. Namun, organisasi perlu mulai bersiap karena data terenkripsi yang dikumpulkan hari ini berpotensi menjadi sasaran dekripsi di masa depan seiring kemajuan teknologi kuantum.

Risiko ini dikenal sebagai “harvest now, decrypt later”, yaitu ketika pihak yang tidak bertanggung jawab mengumpulkan data terenkripsi saat ini dengan harapan dapat membukanya di kemudian hari. Untuk mengantisipasi risiko tersebut, organisasi perlu memahami sistem kriptografi yang mereka gunakan, mengidentifikasi data yang membutuhkan perlindungan jangka panjang serta merencanakan transisi menuju metode enkripsi yang dirancang untuk menghadapi serangan berbasis komputasi kuantum.

Isu ini menjadi fokus sesi panel AICX 2026 bertajuk “Beyond the Cryptographic Cliff: Quantum, Cyber and The Next Defense” yang diselenggarakan ITSEC Asia di Bali Beach Convention Center, Sanur, Bali. Diskusi tersebut menghadirkan perspektif dari kalangan akademisi, peneliti dan ekosistem teknologi mengenai dampak komputasi kuantum terhadap keamanan siber serta kesiapan Indonesia menghadapi perkembangan tersebut.

“Persiapan menghadapi ancaman kuantum harus dimulai sekarang, bukan menunggu hingga komputer kuantum mampu memecahkan sistem enkripsi yang kita andalkan. Organisasi perlu memetakan sistem kriptografi yang digunakan, mengidentifikasi data paling kritis dan mulai merencanakan transisi menuju post-quantum cryptography. Proses migrasi ini membutuhkan waktu. Semakin awal kita mempersiapkannya, semakin baik kesiapan kita dalam melindungi aset digital. Hal yang sama berlaku untuk AI. Model dan data yang sedang dikembangkan organisasi saat ini membutuhkan perlindungan yang tetap relevan di era kuantum,” ujar Marek Bialoglowy, Vice President Director/CTO sekaligus Co-Founder ITSEC Asia.

Prof. Andriyan Bayu Suksmono, Guru Besar di Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB), menekankan pentingnya mempersiapkan diri terhadap kemungkinan perkembangan teknologi kuantum yang lebih cepat dari perkiraan.

“Kita harus sangat berhati-hati dalam menghadapi isu ini. Sejumlah prediksi memperkirakan terobosan komputasi kuantum akan terjadi pada 2030 hingga 2035, sementara prediksi lainnya menyebutkan waktu yang lebih lama. Menurut saya, kita perlu mempersiapkan diri dengan mengacu pada skenario paling awal, yaitu 2030. AICX 2026 oleh ITSEC Asia menjadi momentum untuk mempercepat pemahaman dan adopsi komputasi kuantum di Indonesia karena forum ini mempertemukan akademisi dan industri dalam satu ruang diskusi,” ujarnya.

Salah satu pendekatan untuk mengantisipasi risiko tersebut adalah post-quantum cryptography (PQC), yaitu metode kriptografi yang dirancang untuk menghadapi serangan dari komputer kuantum. Prof. Andriyan menjelaskan bahwa algoritma PQC dapat diterapkan pada perangkat yang digunakan saat ini, termasuk ponsel, komputer dan server. Pendekatan lainnya adalah quantum key distribution (QKD), yang memanfaatkan prinsip kuantum untuk mendukung distribusi kunci komunikasi yang aman.

Dr. Mohammad Hamzah Fauzi, Kepala Pusat Riset Fisika Kuantum di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menyoroti perubahan pesat dalam ekspektasi terhadap perkembangan teknologi kuantum.

“Pada 2018, saya menghadiri sebuah konferensi di Montpellier, Prancis. Saat itu, seorang fisikawan terkemuka ditanya kapan kita akan memiliki komputer kuantum yang benar-benar bermanfaat. Jawabannya adalah, ‘Tidak dalam masa hidup saya.’ Kini, prediksi tersebut mulai terbantahkan oleh kemajuan yang terus kita capai. Agar kemajuan ini dapat dirasakan oleh para pengguna, pusat riset seperti kami membutuhkan mitra dari industri keamanan. Kami senang ada perusahaan seperti ITSEC Asia yang bersedia bekerja sama dengan kami dalam hal ini,” ujarnya.

Persiapan menghadapi era kuantum juga membutuhkan investasi dalam riset, pendidikan dan pengembangan talenta. Penguasaan teknologi ini memerlukan kolaborasi lintas disiplin, mulai dari fisika dan rekayasa hingga keamanan informasi dan pengembangan sistem digital.

Prof. Dr. Ir. Hammam Riza, Ketua Kolaborasi Riset dan Inovasi Industri Kecerdasan Artifisial Indonesia (KORIKA), menyoroti relevansi teknologi kuantum bagi fondasi teknologi Indonesia di masa depan.

“Peta jalan AI saat ini belum mencakup teknologi kuantum, tetapi kuantum akan menjadi bagian dari infrastruktur kepercayaan bagi AI. Komputasi kuantum hanyalah salah satu dari teknologi baru yang perlu dikuasai Indonesia. Kami menyambut baik langkah ITSEC Asia, perusahaan yang telah bergerak di persimpangan AI dan keamanan, untuk mengangkat isu kuantum sejak sekarang, bukan setelah peta jalan selesai disusun,” ujarnya.

Bagi Indonesia, tantangannya adalah memastikan kesiapan keamanan siber, kebijakan, riset dan talenta berkembang seiring dengan kemajuan teknologi. Kolaborasi antara industri, pemerintah, akademisi dan komunitas riset akan menjadi kunci dalam membangun ketahanan digital jangka panjang.

“AICX mempertemukan isu kuantum, AI dan keamanan siber dalam satu diskusi karena ketiganya perlu dipersiapkan dan diamankan secara bersama. Kami berterima kasih kepada ITB, BRIN dan KORIKA atas kontribusi keahlian mereka. ITSEC Asia akan terus bekerja sama dengan para mitra untuk meningkatkan kesiapan Indonesia menghadapi era kuantum,” tambah Marek.

Melalui AICX 2026, ITSEC Asia mendorong dialog lintas sektor mengenai tantangan keamanan yang muncul seiring perkembangan AI dan teknologi baru. Diskusi tentang komputasi kuantum menegaskan pentingnya langkah antisipatif untuk memperkuat pertahanan digital Indonesia dalam menghadapi risiko teknologi di masa depan.

Share this post

You may also like

Agentic AI Sudah Hadir. Siapkah Perusahaan Indonesia Membiarkan AI Bertindak?
Events

Agentic AI Sudah Hadir. Siapkah Perusahaan Indonesia Membiarkan AI Bertindak?

Dalam beberapa tahun terakhir, banyak perusahaan mengenal kecerdasan artifisial sebagai teknologi yang diberi pertanyaan atau instruksi. Tulis ini. Ringkas dokumen itu. Analisis data ini. Agentic AI mengubah hubungan tersebut. AI agent dapat merencanakan pekerjaan, berinteraksi dengan beberapa aplikasi, mengambil keputusan hingga menjalankan tindakan tanpa selalu menunggu instruksi manusia di setiap tahap. Gartner memperkirakan 40% aplikasi perusahaan akan memiliki AI agent khusus untuk tugas tertentu pada akhir 2026, naik dari kurang dari 5% pada 2025. Baca proyeksi Gartner [https://www.gartner.com/en/newsroom/press-releases/2025-08-26-gartner-predicts-40-percent-of-enterprise-apps-will-feature-task-specific-ai-agents-by-2026-up-from-less-than-5-percent-in-2025?utm_source=chatgpt.com] Pertanyaan inilah yang menjadi pembahasan utama dalam Techpresso: “Agentic AI, Are We Ready?” yang diselenggarakan Medcom.id pada 10 September 2026. Diskusi menghadirkan Nezar Patria, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Hammam Riza, Tenaga Ahli Bidang Kecerdasan Artifisial dan Transformasi Digital Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Patrick Dannacher, Presiden Direktur PT ITSEC Asia Tbk (IDX: CYBR). Pembahasan melihat kesiapan Indonesia dari sisi regulasi, infrastruktur, riset dan keamanan siber. Baca liputan Medcom.id [https://www.medcom.id/teknologi/news-teknologi/VNxAaVqb-agentic-ai-masuk-era-baru-siapkah-indonesia-dari-sisi-regulasi-infrastruktur-dan-keamanan?utm_source=chatgpt.com] PERTANYAANNYA BERUBAH KETIKA AI MULAI BERTINDAK Dalam diskusi tersebut, Patrick menggunakan perbandingan sederhana. Ketika seorang karyawan mendapat akses ke sistem perusahaan, organisasi biasanya menentukan apa yang boleh dilihat,

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Sep 11, 2026 — 4 minutes read
ITSEC Asia dan PT Len Industri (Persero) Satukan Kekuatan Teknologi dan Talenta
Events

ITSEC Asia dan PT Len Industri (Persero) Satukan Kekuatan Teknologi dan Talenta

PT ITSEC Asia Tbk (ITSEC Asia) (IDX: CYBR) bersama anak perusahannya ITSEC Cyber & AI Academy menjalin kolaborasi strategis dengan PT Len Industri (Persero) untuk memperkuat pengembangan teknologi dan talenta di bidang keamanan siber dan kecerdasan artifisial (AI). Kerja sama ini mencakup dua fokus utama, yaitu riset dan pengembangan serta penyediaan solusi keamanan siber dan pengembangan kompetensi melalui program pendidikan dan pelatihan cybersecurity dan AI. Kolaborasi tersebut ditandai dengan penandatanganan dua Nota Kesepahaman di Bandung pada 30 April 2026. Nota Kesepahaman pertama antara PT Len Industri (Persero) dan ITSEC Asia berfokus pada pengembangan teknologi dan solusi keamanan siber, sedangkan Nota Kesepahaman kedua dengan ITSEC Cyber & AI Academy mencakup program pendidikan, pelatihan dan pengembangan kompetensi di bidang keamanan siber dan AI. Kerja sama ini dilakukan di tengah meningkatnya perhatian terhadap ancaman keamanan siber sebagai bagian dari tantangan keamanan nasional. Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto baru-baru ini mengingatkan bahwa ancaman modern tidak lagi terbatas pada perang konvensional, tetapi juga mencakup perang siber dan perang informasi. Presiden Prabowo juga menekankan pentingnya penguasaan AI, sistem

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Jul 24, 2026 — 3 minutes read
ITSEC Asia Perkuat Ekosistem Siber & AI Indonesia melalui Pengembangan Talenta dan Solusi AI
Events

ITSEC Asia Perkuat Ekosistem Siber & AI Indonesia melalui Pengembangan Talenta dan Solusi AI

PT ITSEC Asia Tbk (ITSEC Asia) (IDX: CYBR) menegaskan pentingnya percepatan pengembangan talenta keamanan siber di Indonesia melalui dukungan langsung kepada Firoos Ghathfaan Ramadhan, pelajar berusia 14 tahun asal Subang yang berhasil mengidentifikasi kerentanan keamanan pada platform berskala global. Di tengah meningkatnya ancaman siber dan kebutuhan industri yang terus berkembang, keberadaan talenta muda seperti Firoos menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk bersaing di tingkat global. Namun potensi tersebut memerlukan dukungan nyata agar dapat berkembang secara berkelanjutan. Sebagai bagian dari Cyber Talent Indonesia Program, ITSEC Asia memberikan dukungan perangkat kerja untuk menunjang aktivitas riset dan pengembangan kemampuan teknis Firoos. Langkah ini tidak hanya menjadi bentuk apresiasi atas pencapaiannya, tetapi juga mencerminkan komitmen perusahaan dalam mendorong lahirnya lebih banyak talenta siber unggul di Indonesia. President Director ITSEC Asia, Patrick Dannacher menyampaikan bahwa tantangan utama saat ini tidak hanya terletak pada teknologi, tetapi juga kesiapan talenta. “Kita sering bicara soal ancaman siber, tapi jarang membahas kesiapan talenta. Faktanya, talenta muda Indonesia sudah mampu bersaing di level global. Yang belum kita bangun secara

|
Mei 22, 2026 — 2 minutes read

Receive weekly
updates on new posts

Subscribe