Logo
Cybersecurity

Jika AI Mengambil Alih Tugas Awal di SOC, Di Mana Analis Junior Akan Belajar?

Otomatisasi dapat mempercepat pekerjaan tim keamanan. Namun, jika analis junior kehilangan kesempatan mengerjakan tugas yang sebelumnya melatih mereka, organisasi berisiko melemahkan jalur pengembangan talenta sendiri.

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Okt 16, 2026
Jika AI Mengambil Alih Tugas Awal di SOC, Di Mana Analis Junior Akan Belajar?

Security Operations Centre (SOC) selama ini menjadi tempat bagi banyak profesional cybersecurity untuk membangun pengalaman. Analis junior belajar memeriksa alert, menyelidiki aktivitas mencurigakan, menghubungkan log dan mengenali pola yang sudah terbiasa dilihat oleh rekan senior. Pekerjaannya mungkin berulang, tetapi dari proses itulah ketajaman analisis berkembang.

AI mulai mengubah proses tersebut. Sistem otomatis dapat merangkum alert, menghubungkan berbagai peristiwa dan menentukan prioritas ancaman sehingga analis menghabiskan lebih sedikit waktu untuk pemeriksaan rutin. Efisiensi ini menarik, terutama bagi tim yang harus menangani banyak peristiwa keamanan. Namun, ada pertanyaan yang perlu dijawab: bagaimana talenta pemula memperoleh pengalaman jika sebagian pekerjaan awal mereka semakin banyak dilakukan oleh mesin?

Laporan pemerintah Inggris, Cyber Security Skills in the UK Labour Market 2026, yang diterbitkan pada 29 September 2026, menemukan bahwa 70% perusahaan cybersecurity menggunakan AI dalam pekerjaan sehari-hari, naik dari 53% pada studi sebelumnya. Sebanyak 73% juga memperkirakan kebutuhan keterampilan AI akan meningkat dalam 12 bulan berikutnya. Riset kualitatif dalam laporan tersebut mengangkat kekhawatiran bahwa otomatisasi dan agentic AI dapat mengurangi sebagian tugas SOC tingkat pemula sehingga kesempatan analis junior untuk berkembang menjadi profesional berpengalaman ikut menyusut. GOV.UK

Temuan ini merupakan gambaran dari Inggris, bukan ukuran kondisi Indonesia. Namun, persoalan pengembangan talenta yang diangkatnya relevan bagi organisasi yang sedang mengadopsi otomatisasi.

Pekerjaan rutin adalah tempat pertimbangan teknis dibangun

Alert yang ternyata tidak berbahaya tetap bisa menjadi bahan belajar. Mengapa sistem menandainya? Log mana yang dapat mengonfirmasi aktivitas tersebut? Bukti apa yang bisa mengubah kesimpulan? Kapan sebuah temuan harus dieskalasikan?

Pertanyaan seperti ini membangun kebiasaan investigasi yang tidak otomatis terbentuk hanya karena seseorang membaca rangkuman AI. Jika analis junior selalu menerima kesimpulan yang sudah jadi, mereka mungkin terampil memproses jawaban tanpa memahami cara menguji kebenarannya.

Karena itu, organisasi perlu membedakan otomatisasi pekerjaan dari penghilangan kesempatan belajar. SOC dapat mengotomatisasi pengelompokan awal alert sambil tetap menugaskan analis junior untuk memeriksa kasus tertentu, memvalidasi bukti dan menjelaskan alasan di balik kesimpulannya kepada mentor.

Rancang pelatihan mengikuti perubahan pekerjaan

Ada tiga pendekatan yang dapat membantu menjaga jalur pengembangan talenta:

  • Pertahankan investigasi dengan supervisi. Berikan alert tertentu kepada analis junior untuk diselidiki sebelum mereka membandingkan hasilnya dengan rekomendasi AI dan penilaian analis senior.
  • Latih kemampuan verifikasi. Minta peserta menemukan konteks yang belum tersedia, menguji penjelasan alternatif dan mendokumentasikan alasan menerima atau menolak rekomendasi otomatis.
  • Tetapkan tahapan kompetensi. Kembangkan kemampuan analis secara bertahap dari triase alert menuju investigasi, koordinasi insiden dan pekerjaan deteksi yang lebih kompleks.

NICE Framework dari National Institute of Standards and Technology (NIST) di Amerika Serikat dapat menjadi rujukan untuk menyusun tahapan tersebut. Komponen kerangka kerja yang diperbarui pada 28 April 2026 menggambarkan pekerjaan cybersecurity melalui peran, area kompetensi serta pernyataan tugas, pengetahuan dan keterampilan. Organisasi dapat menggunakannya untuk menentukan kemampuan yang perlu dikuasai analis junior dan bukti yang menunjukkan kesiapan mereka naik ke tahap berikutnya. NIST

Tujuannya bukan mempertahankan setiap pekerjaan manual selamanya. Organisasi perlu memastikan bahwa otomatisasi tidak diam-diam menghilangkan pengalaman yang dibutuhkan seseorang untuk menangani insiden yang lebih kompleks.

Ukur kemampuan tanpa selalu bergantung pada AI

Penilaian pelatihan sebaiknya mencakup skenario ketika peserta harus memeriksa bukti, menjelaskan ketidakpastian dan mengambil keputusan sebelum melihat rekomendasi AI. Latihan lain dapat menguji kemampuan menggunakan AI untuk mempercepat investigasi sambil tetap bertanggung jawab atas hasilnya.

Bagi pengembangan tenaga cybersecurity di Indonesia, pendekatan ini membantu organisasi mengadopsi AI sekaligus menyiapkan profesional yang kelak akan mengawasi, memvalidasi dan meningkatkan kemampuan operasional keamanan.

ITSEC Cyber & AI Academy mendukung pengembangan kompetensi cybersecurity dan AI melalui pembelajaran terstruktur. Menghubungkan fondasi teknis dengan latihan realistis membantu peserta bersiap menghadapi pekerjaan yang menggunakan AI sebagai alat bantu, sementara pertimbangan teknis tetap menjadi tanggung jawab manusia.

Kembangkan keterampilan praktis cybersecurity dan AI bersama ITSEC Cyber & AI Academy.

Referensi

  1. UK Department for Science, Innovation and Technology. Cyber security skills in the UK labour market 2026. Diterbitkan 29 September 2026. Baca laporan resmi
  2. National Institute of Standards and Technology (NIST). NICE Releases NICE Framework Components v2.2.0. Diterbitkan 28 April 2026. Baca pengumuman NIST
Share this post

You may also like

Tim Security Perlu Memahami Bagaimana Software Sampai ke Production
Cybersecurity

Tim Security Perlu Memahami Bagaimana Software Sampai ke Production

Seorang security professional melakukan review aplikasi dan menemukan vulnerability. Development team memperbaikinya. Masalah dianggap selesai. Kemudian kelemahan serupa muncul lagi pada release berikutnya. Biasanya ini pertanda bahwa sumber masalah berada lebih dalam daripada satu bagian code. Build process mungkin menerima dependency yang tidak aman. Security check dilakukan terlalu terlambat. Container configuration mungkin disalin dari template lama. Developer baru menerima feedback ketika release hampir selesai. National Cybersecurity Center of Excellence dari NIST sedang memberi perhatian lebih besar pada bagian tersebut. Update DevSecOps yang diterbitkan pada 24 September mencakup CI/CD pipeline automation, containerized application deployment serta functional scenario yang menunjukkan aktivitas security sepanjang software development lifecycle. NIST [https://www.nist.gov/news-events/news/2026/09/new-nist-nccoe-resources-devsecops-and-october-28-webinar-agentic-ai?utm_source=chatgpt.com] Implikasinya bagi workforce cukup konkret. Application security professional semakin perlu memahami perjalanan software dari mesin developer sampai production. SECURITY MULAI MASUK LEBIH DALAM KE PIPELINE Security testing secara tradisional bisa dilakukan mendekati akhir development. DevSecOps membawa security activity ke dalam proses yang sudah digunakan developer untuk build, test dan deploy software. Artinya, praktisi perlu bekerja lintas disiplin. Kemampuan DevSecOps yang relevan antara lain: * Memahami perjalanan source code melalui CI/CD

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Okt 05, 2026 — 3 minutes read
Think Your System Is Secure? Penetration Testing Can Prove It
Cybersecurity

Think Your System Is Secure? Penetration Testing Can Prove It

INTRODUCTION Today, almost every organization relies on digital systems to run daily operations, from websites and cloud applications to payment systems and internal databases.  However, as digital infrastructure grows, so do cybersecurity risks. Attackers constantly look for vulnerabilities in applications, networks, and systems that they can exploit to gain unauthorized access or steal sensitive data (Cloudflare, 2024). Because of this growing threat landscape, organizations need ways to test their defenses before real attackers attempt to breach them. One of the most effective methods is penetration testing, often called pen testing, where cybersecurity professionals simulate attacks to identify security weaknesses before malicious actors do (IBM, 2024). In simple terms, penetration testing is authorized hacking designed to improve security rather than cause damage. Source: Cloudflare.com [https://www.cloudflare.com/learning/security/glossary/what-is-penetration-testing/], ibm.com [https://www.ibm.com/think/topics/penetration-testing] WHAT IS PENETRATION TESTING? Penetration testing is a cybersecurity assessment where security experts simulate cyberattacks on systems to identify vulnerabilities that attackers could exploit. These experts that are often known as penetration testers or ethical hackers use techniques similar to real attackers, but with permission from the organization and with the goal

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Apr 02, 2026 — 6 minutes read
Mengapa Cybersecurity Awareness Penting bagi Organisasi Modern
Cybersecurity

Mengapa Cybersecurity Awareness Penting bagi Organisasi Modern

PENDAHULUAN Seiring organisasi terus mengadopsi layanan cloud, model kerja jarak jauh, dan teknologi berbasis AI, risiko siber tidak lagi terbatas pada kerentanan teknis semata. Penyerang kini semakin berfokus pada manusia memanfaatkan perilaku, kepercayaan, dan alur kerja sehari-hari untuk mendapatkan akses tidak sah ke sistem dan data. Serangan phishing, social engineering, dan teknik impersonasi semakin canggih, bahkan mampu melewati kontrol keamanan yang sudah maju. Dalam lanskap ancaman yang terus berkembang ini, cybersecurity awareness menjadi faktor krusial dalam menentukan seberapa efektif organisasi dapat mencegah, mendeteksi, dan merespons insiden siber. Artikel ini membahas mengapa cybersecurity awareness penting, tantangan yang dihadapi organisasi dalam membangunnya, serta bagaimana awareness mendukung keamanan siber yang lebih kuat. APA ITU CYBERSECURITY AWARENESS? Cybersecurity awareness merujuk pada kemampuan individu dalam sebuah organisasi untuk mengenali risiko siber dan bertindak secara aman saat berinteraksi dengan sistem digital, data, dan teknologi. Pada konteks enterprise, cybersecurity awareness tidak hanya menjadi tanggung jawab tim IT atau keamanan. Awareness berlaku bagi seluruh karyawan, mitra, dan pemangku kepentingan yang memiliki akses ke sumber daya organisasi atau menangani informasi sensitif. Cybersecurity awareness umumnya mencakup: ● Mengenali

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Jan 19, 2026 — 4 minutes read

Receive weekly
updates on new posts

Subscribe