Logo
Cybersecurity

Karyawan Mau Meningkatkan Skill Cybersecurity. Cara Melatihnya Perlu Ikut Berubah.

Tidak semua karyawan perlu menjadi security analyst. Mereka perlu tahu apa yang harus dilakukan ketika sesuatu terasa tidak biasa dalam pekerjaan sehari-hari.

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Okt 02, 2026
Karyawan Mau Meningkatkan Skill Cybersecurity. Cara Melatihnya Perlu Ikut Berubah.

Cybersecurity training punya reputasi yang agak sulit.

Bagi sebagian karyawan, bentuknya masih berupa modul tahunan, beberapa peringatan yang sudah familiar lalu kuis yang jawabannya terasa sangat dekat dengan slide sebelumnya.

Sementara itu, situasi di tempat kerja sudah jauh lebih rumit.

Data terbaru ENISA untuk Cybersecurity Month menunjukkan 74% karyawan yang disurvei menerima email, pesan, panggilan suara atau link mencurigakan selama enam bulan terakhir. Phishing masih paling banyak ditemui, tetapi ada pula upaya pencurian data pribadi, password, AI-generated scam, malware dan ransomware. ENISA

Di sisi lain, hanya 45% responden mengatakan organisasinya rutin memberikan informasi atau update mengenai cybersecurity.

Masalahnya ternyata bukan karena orang tidak ingin belajar. Sebanyak 85% karyawan menyatakan tertarik meningkatkan skill cybersecurity mereka. ENISA

Ada gap antara kebutuhan, minat dan cara training diberikan.

Salah Satu Hambatan Terbesar Ternyata Waktu

Di antara responden yang melihat adanya hambatan dalam meningkatkan kemampuan cybersecurity, 26% menyebut sulitnya mencari waktu di tengah pekerjaan, lebih tinggi dibanding biaya training sebesar 16%. Hambatan lain adalah kurangnya informasi mengenai training serta dukungan employer. ENISA

Artinya, program cybersecurity harus bisa hidup berdampingan dengan pekerjaan yang memang harus selesai hari itu.

Training bisa diarahkan pada keputusan yang benar-benar dihadapi karyawan, misalnya:

  • Kapan sebuah permintaan tidak biasa perlu diverifikasi melalui channel lain
  • Informasi apa yang aman dimasukkan ke AI tool
  • Bagaimana melaporkan aktivitas mencurigakan dengan cepat
  • Apa yang harus dilakukan ketika proses login yang biasanya normal berubah
  • Bagaimana menangani customer data atau confidential information
  • Kapan permintaan dari atasan sekalipun tetap perlu diperiksa ulang

Ini bukan teori yang jauh dari pekerjaan. Situasinya bisa muncul di sela dua meeting biasa.

Role Berbeda, Risikonya Juga Berbeda

Finance, software developer dan communications team tidak selalu membutuhkan cybersecurity training yang persis sama.

Finance lebih sering berhadapan dengan payment fraud dan impersonation. Developer membutuhkan kebiasaan yang aman dalam menangani code, credential dan dependency. Communications team dapat menghadapi compromised account, permintaan media palsu atau file mencurigakan dari pihak eksternal.

Fundamental-nya tetap sama, tetapi skenarionya sebaiknya terasa dekat dengan pekerjaan peserta.

Program FISSEA dari NIST menggunakan arah serupa. Forum training 2026 mereka menempatkan employee behaviour dan practical learning sebagai bagian utama, termasuk micro-training dan pendekatan yang mendorong kebiasaan melakukan verifikasi dalam situasi kerja nyata. NIST

Targetnya menjadi lebih berguna daripada sekadar mengingat definisi phishing.

Latih Keputusannya

Workforce readiness akan lebih kuat kalau karyawan berlatih menentukan tindakan.

Berikan finance team contoh perubahan rekening pembayaran yang realistis. Peserta harus memeriksa permintaannya, melakukan verifikasi melalui channel lain lalu menentukan kapan masalah perlu dieskalasikan.

Untuk tim lain, berikan beberapa dokumen dengan tingkat sensitivitas berbeda dan sebuah AI tool. Peserta harus menentukan mana yang aman digunakan dan mana yang seharusnya tetap berada di luar prompt.

Pembelajaran berubah dari materi menjadi keputusan.

Untuk profesional cybersecurity yang membutuhkan latihan lebih dalam, prinsip yang sama dapat dilanjutkan melalui lingkungan praktis. ITSEC Cyber & AI Academy menghubungkan pembelajaran cybersecurity dan AI dengan hands-on exercise yang memberi peserta kesempatan menginvestigasi, menguji dan merespons.

Sebagian besar karyawan sudah tahu cybersecurity itu perlu.

Pertanyaan yang lebih berguna adalah apakah mereka tahu apa yang harus dilakukan ketika sesuatu yang sedikit aneh muncul pukul 15.47 di tengah hari yang sedang sibuk.

Pelajari program cybersecurity dan AI berbasis praktik di ITSEC Cyber & AI Academy.

Referensi: ENISA: Cybersecurity Month @ Work, 30 September 2026 · NIST FISSEA Spring Forum 2026 · NIST FISSEA Fall Forum 2026

Share this post

You may also like

What Is Cloud Security? A First Introduction for Modern Enterprises
Cybersecurity

What Is Cloud Security? A First Introduction for Modern Enterprises

INTRODUCTION: CLOUD ADOPTION IS ACCELERATING, SO ARE THE RISKS Cloud computing has been part of enterprise IT for years, but the risk landscape around it is changing faster than ever. As organizations embrace AI, remote work, and digital transformation, cloud environments have become the backbone of business operations and a prime target for attackers. Today, breaches are no longer limited to traditional data centers. Misconfigured cloud resources, stolen credentials, and unmanaged identities are now among the most common root causes of security incidents. This is why understanding what cloud security is and what it is not matters deeply for enterprises today. At its core, cloud security refers to the policies, technologies, configurations, and responsibilities that protect cloud-based systems, data, and services. This concept is inseparable from how cloud computing itself is defined:an on demand, shared,and externally managed computing model, as outlined in the NIST [https://csrc.nist.gov/pubs/sp/800/145/final]Cloud Computing Definition (SP 800-145), where responsibility is inherently distributed between the provider and the user. WHAT IS CLOUD COMPUTING? A SIMPLE ENTERPRISE PERSPECTIVE Cloud computing is not

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Feb 12, 2026 — 7 minutes read
Inilah Bagaimana Analisis Keamanan Informasi Melindungi Apa yang Tidak Bisa Dicegah
Cybersecurity

Inilah Bagaimana Analisis Keamanan Informasi Melindungi Apa yang Tidak Bisa Dicegah

PENDAHULUAN Organisasi di seluruh dunia kini berinvestasi lebih besar dalam keamanan siber dibandingkan kapan pun dalam sejarah, namun pelanggaran data semakin sering terjadi, semakin mahal, dan semakin merusak. Rata-rata biaya global dari sebuah pelanggaran data mencapai USD 4,88 juta pada tahun 2024, angka tertinggi yang pernah tercatat. Lebih mengkhawatirkan lagi, rata-rata waktu untuk mengidentifikasi pelanggaran adalah 194 hari, hampir setengah tahun aktivitas penyerang yang tidak terdeteksi di dalam jaringan sebelum siapa pun menyadari ada yang salah. Angka-angka ini mengajukan pertanyaan mendesak yang harus dijawab secara jujur oleh setiap pemimpin bisnis: jika seorang penyerang masuk ke jaringan Anda hari ini, berapa lama waktu yang dibutuhkan organisasi Anda untuk mengetahuinya? Dan setelah ditemukan, dapatkah Anda mengidentifikasi dengan tepat apa yang diakses, bagaimana penyerang bergerak, dan kerentanan apa yang memungkinkan hal itu terjadi? Bagi kebanyakan organisasi, jawaban jujurnya adalah: tidak cukup cepat, dan tidak dengan kepastian yang memadai. Kesenjangan itulah yang dirancang untuk ditutup oleh Analisis Keamanan Informasi (AKI). Pencegahan, termasuk firewall, antivirus, dan autentikasi multi-faktor, memang diperlukan tetapi tidak cukup. Ketika penyerang berhasil menembus pertahanan, organisasi

|
Mei 11, 2026 — 7 minutes read
Cybersecurity Network di Era AI: Membangun Arsitektur Zero Trust yang Tangguh untuk Enterprise
Cybersecurity

Cybersecurity Network di Era AI: Membangun Arsitektur Zero Trust yang Tangguh untuk Enterprise

Artificial Intelligence (AI) mempercepat transformasi digital di berbagai industri. Namun di saat yang sama, AI juga mempercepat evolusi ancaman siber. Dari phishing berbasis AI hingga automated vulnerability scanning, pelaku ancaman kini bergerak lebih cepat dan lebih presisi. Dalam konteks ini, cybersecurity network bukan lagi sekadar lapisan proteksi teknis. Ia menjadi fondasi ketahanan bisnis. Menurut tren industri, serangan modern semakin menargetkan celah pada identitas, konfigurasi cloud, serta lalu lintas internal jaringan (east-west traffic), bukan hanya perimeter tradisional. Bagi CISO, CTO, IT Manager, dan pengambil keputusan strategis, ini berarti arsitektur keamanan jaringan harus didesain ulang agar adaptif, berbasis risiko, dan selaras dengan tujuan bisnis. Apa Itu Cybersecurity Network? Cybersecurity network adalah kerangka terintegrasi yang mencakup teknologi, kebijakan, proses, dan kontrol yang dirancang untuk melindungi infrastruktur digital organisasi dari akses tidak sah, gangguan, maupun kebocoran data. Dalam lingkungan enterprise, cakupannya meliputi: * Infrastruktur on-premise * Hybrid dan multi-cloud environment * Aplikasi SaaS * Remote workforce * Sistem Operational Technology (OT) * Integrasi pihak ketiga Cybersecurity network bukan satu solusi tunggal, melainkan ekosistem keamanan yang terkoordinasi. Sumber

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Feb 20, 2026 — 4 minutes read

Receive weekly
updates on new posts

Subscribe