Logo
Cybersecurity

Mengajarkan Penggunaan AI Tanpa Keamanan Sama Saja Baru Setengah dari Pelajaran

Skill AI mulai dibutuhkan jauh di luar tim teknologi. Pemahaman untuk menggunakannya secara aman perlu ikut menyebar.

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Sep 08, 2026
Mengajarkan Penggunaan AI Tanpa Keamanan Sama Saja Baru Setengah dari Pelajaran

Sebanyak 750 ASN dan non-ASN di empat provinsi Kalimantan mulai mengikuti pelatihan AI pada 7 September. Program BLSDM Komdigi Banjarmasin bersama ASEAN Foundation tersebut membahas dasar AI, etika, implementasi dan satu materi yang layak mendapat perhatian khusus: keamanan data.

Kombinasi itu masuk akal.

Semakin banyak pekerja menggunakan AI untuk merangkum dokumen, menganalisis informasi, membuat materi dan membantu pekerjaan rutin. Banyak di antaranya bahkan tidak perlu memahami pemrograman.

Namun setiap kemampuan baru membawa pertanyaan baru: sebenarnya data apa yang sedang kita berikan kepada AI?

Skill AI Punya Sisi Keamanan

Seseorang bisa sangat mahir membuat prompt tetapi tetap mengambil keputusan keamanan yang buruk.

Bayangkan seorang karyawan harus merangkum laporan internal yang panjang. Memasukkan dokumen tersebut ke AI mungkin menghasilkan rangkuman yang sangat baik. Pertanyaan apakah dokumen itu boleh dimasukkan sejak awal adalah ujian yang berbeda.

Karena itu, pengguna AI perlu memiliki literasi keamanan dasar untuk bertanya:

  • Informasi apa yang sedang saya masukkan?
  • Apakah ada data pribadi, rahasia perusahaan atau data pelanggan?
  • Platform AI mana yang sudah disetujui organisasi?
  • Bisakah output membocorkan informasi yang seharusnya tidak dibagikan?
  • Kapan hasil AI perlu diverifikasi sebelum digunakan untuk mengambil keputusan?

Karyawan tidak perlu berubah menjadi cybersecurity specialist. Mereka perlu tahu batas antara praktis dan berisiko.

Program AI Ready ASEAN dari ASEAN Foundation bergerak dengan prinsip serupa dalam skala regional. Program tersebut menargetkan 5,5 juta orang di Asia Tenggara untuk mendapatkan kemampuan AI dengan penekanan pada penggunaan yang bertanggung jawab dan etis.

Tim Cybersecurity Juga Perlu Belajar AI

Pertukaran kemampuan tersebut berjalan dua arah.

Program NICE dari NIST membahas perubahan pekerjaan, skill dan karier cybersecurity akibat AI dalam webinar tenaga kerja pada Juli lalu. Pesannya cukup jelas: profesional cybersecurity yang sudah bekerja maupun yang baru masuk perlu beradaptasi ketika AI mengubah teknologi yang mereka lindungi sekaligus cara mereka bekerja.

Dua kebutuhan pelatihan akhirnya bertemu.

Pengguna umum membutuhkan pengetahuan keamanan agar dapat menggunakan AI dengan bertanggung jawab. Profesional cybersecurity membutuhkan pemahaman AI agar mampu mengenali cara kerja sistem tersebut, titik lemahnya dan risiko baru yang muncul.

Area pertemuannya cukup luas, mulai dari pengelolaan data, access control, keamanan aplikasi dan model, ancaman berbasis AI hingga governance.

Menambahkan kata “AI” pada nama pelatihan tentu belum otomatis mengajarkan semuanya. Sayangnya, kurikulum masih belum bisa diperbaiki dengan prompt satu baris.

Latih Momen Sebelum Tombol Upload Ditekan

Pelatihan keamanan AI akan lebih berguna ketika menggunakan situasi konkret.

Berikan skenario yang melibatkan dokumen pelanggan, informasi keuangan internal atau source code lalu minta peserta menentukan data mana yang aman untuk digunakan. Untuk peserta cybersecurity, gunakan workflow berbasis AI dan minta mereka mencari titik risiko pada data, identity dan access.

Latihan seperti ini menghubungkan literasi AI dengan keputusan yang benar-benar dibuat di tempat kerja.

Pendekatan tersebut juga relevan dengan ITSEC Cyber & AI Academy, tempat pembelajaran cybersecurity dan AI dapat dikembangkan sebagai kemampuan yang saling berhubungan, bukan dua topik teknologi yang berjalan sendiri-sendiri.

Mengetahui cara memberikan pertanyaan yang tepat kepada AI tentu berguna. Mengetahui informasi apa yang sebaiknya tidak diberikan bisa menghindarkan organisasi dari masalah yang jauh lebih panjang.

Pelajari program cybersecurity dan AI berbasis praktik di ITSEC Cyber & AI Academy.

Referensi: BLSDM Komdigi Banjarmasin: 750 Aparatur Ikuti Pelatihan AI, 7 September 2026 · NIST NICE: Shaping the Future of the Cyber Workforce in the Age of AI · ASEAN Foundation: AI Ready ASEAN

Share this post

You may also like

Fraud Management in Digital Era: How to Detect, Prevent, and Respond Before Losses Escalate
Cybersecurity

Fraud Management in Digital Era: How to Detect, Prevent, and Respond Before Losses Escalate

INTRODUCTION In 2025, a large-scale fraud operation uncovered by INTERPOL revealed how sophisticated Business Email Compromise (BEC) scams have become. A transnational criminal group targeted a Japanese company by impersonating a legitimate business partner through hacked or spoofed email accounts. The communication looked completely normal with the same tone, same format, and same context. The attackers sent updated banking details for a supposed transaction, convincing the company to transfer funds to a fraudulent account based in Thailand. Because the email matched ongoing business conversations, there was no immediate suspicion. By the time the fraud was detected, millions had already been moved across multiple accounts. Fraud is no longer just about stolen wallets or obvious scams. In today’s digital world, it has evolved into something far more sophisticated, quiet, convincing, and often invisible. Powered by advanced technologies like Deepfake Technology and automated systems, modern fraud can replicate voices, mimic identities, and blend seamlessly into everyday digital interactions. What makes it dangerous is not just the technology, but how naturally it fits into

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Apr 10, 2026 6 minutes read
Yang Harus Ditanyakan CISO Sebelum Memilih Penyedia Jasa Penetration Testing di 2026
Cybersecurity

Yang Harus Ditanyakan CISO Sebelum Memilih Penyedia Jasa Penetration Testing di 2026

PENDAHULUAN Berapa persen dari laporan pentest terakhir Anda yang benar-benar terbukti dapat dieksploitasi, dan berapa persen yang hanya daftar temuan hasil scanner otomatis yang tidak pernah divalidasi siapa pun? Sebagian besar CISO tidak bisa menjawab pertanyaan ini dengan yakin, dan itulah masalahnya. Buyers guide yang terbit tahun ini menunjukkan pola yang layak direnungkan. Jika penawaran penetration testing datang dengan harga empat sampai lima ribu dolar atau kurang, kemungkinan besar itu adalah automated vulnerability scan yang dibungkus label pentest, bukan pekerjaan manual yang dilakukan tester berpengalaman. Kesenjangan antara apa yang dijual sebagai penetration test dan apa yang sebenarnya diberikan inilah yang membuat proses seleksi jauh lebih penting daripada yang biasanya diperlakukan oleh tim procurement. ITSEC Asia, perusahaan keamanan siber terkemuka di Indonesia, bekerja sama dengan organisasi di Indonesia, Singapura, Australia, dan UAE yang telah melalui proses evaluasi seperti ini, dan pertanyaan yang membedakan engagement yang benar-benar berguna dari sekadar checkbox exercise yang mahal jauh lebih spesifik daripada yang biasanya ditanyakan dalam RFP. Sumber: Six Questions to Ask a Penetration Testing Vendor [https://www.drummondgroup.com/blog/six-questions-to-ask-a-penetration-testing-vendor/] PERTANYAAN YANG SEBENARNYA

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Jul 17, 2026 5 minutes read
Pelatihan Cybersecurity yang Baik Perlu Membiarkan Peserta Salah
Cybersecurity

Pelatihan Cybersecurity yang Baik Perlu Membiarkan Peserta Salah

SOC analyst menerima beberapa alert lalu memilih yang salah untuk diinvestigasi lebih dulu. Penetration tester melewatkan sebuah vulnerability. Seseorang membuat asumsi yang membawa investigasi insiden ke arah yang keliru. Di lingkungan nyata, kesalahan seperti itu bisa mahal. Di lingkungan latihan yang terkontrol, kesalahan tersebut justru memberikan data yang berguna. Webinar NICE dari NIST pada 16 September membahas persiapan talenta cyber melalui reality based education dan pengalaman hands on. Salah satu prinsip yang dibawa cukup menarik: kegagalan dapat menjadi data untuk membaca kesiapan tenaga kerja. Pembahasannya melihat bagaimana pendidikan dan perusahaan dapat menggunakan controlled realism agar peserta mengembangkan kemampuan kerja yang sebenarnya. Ada perbedaan besar antara berhasil menyelesaikan soal dan menunjukkan bagaimana seseorang bekerja. JAWABAN BENAR BELUM MENCERITAKAN SELURUH PROSES Asesmen tradisional cukup bagus untuk menjawab satu pertanyaan: apakah peserta mengetahui jawabannya? Operasi cybersecurity membutuhkan informasi lebih banyak. Bayangkan dua analyst akhirnya menemukan compromised account yang sama. Analyst pertama langsung melihat authentication pattern yang aneh. Analyst kedua menghabiskan 40 menit memeriksa aktivitas lain sebelum mencapai kesimpulan serupa. Keduanya mungkin sama sama mendapatkan tanda centang untuk “berhasil menemukan insiden.” Kemampuannya belum

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Sep 16, 2026 3 minutes read

Receive weekly
updates on new posts

Subscribe