Logo
Cybersecurity

Mengamankan Infrastruktur Kritis Membutuhkan Cara Berpikir yang Berbeda

Ketika sistem digital mengendalikan operasi fisik, profesional cybersecurity harus memahami dampak di luar jaringan. Mereka membutuhkan kombinasi kemampuan teknis, pengetahuan operasional dan pertimbangan keselamatan.

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Okt 13, 2026
Mengamankan Infrastruktur Kritis Membutuhkan Cara Berpikir yang Berbeda

Sebuah koneksi mencurigakan terdeteksi di jaringan perusahaan. Tim security melakukan investigasi, mengisolasi sistem terdampak dan memulai remediasi. Dalam lingkungan IT konvensional, langkah tersebut mungkin masuk akal.

Sekarang bayangkan sistem yang sama mengendalikan bagian dari gardu listrik, fasilitas pengolahan air atau lini produksi industri. Mengisolasi sistem tanpa memahami konsekuensi operasionalnya justru bisa mengganggu proses yang harus tetap berjalan dengan aman dan stabil.

Inilah salah satu tantangan utama operational technology (OT) security. Panduan NIST menjelaskan bahwa sistem OT berinteraksi dengan lingkungan fisik dan memiliki kebutuhan khusus terkait performa, keandalan serta keselamatan. Keputusan security harus mempertimbangkan kebutuhan tersebut bersama perlindungan data dan integritas sistem.

NIST

+1

Bagi pengembangan talenta cybersecurity, kebutuhan ini mengubah pendekatan training yang diperlukan.

Memahami Jaringan Saja Tidak Cukup

Lingkungan OT mencakup industrial control system, supervisory control and data acquisition (SCADA), building automation dan berbagai sistem lain yang memantau atau mengendalikan proses fisik. Persyaratan operasionalnya bisa sangat berbeda dari IT yang digunakan untuk pekerjaan kantor.

NIST

Praktisi security perlu memahami lebih dari sekadar suspicious IP address atau indikator malware. Mereka harus mengetahui hubungan aktivitas digital dengan peralatan fisik dan dampak intervensi terhadap operasional.

Skill OT cybersecurity yang dibutuhkan antara lain:

  • Industrial architecture: memahami control system, network segmentation dan hubungan antara enterprise IT dengan jaringan operasional.

  • Asset dan communication mapping: mengenali perangkat kritis, fungsi masing-masing perangkat dan koneksi yang mendukungnya.

  • Incident response yang mempertimbangkan keselamatan: mengevaluasi pilihan containment bersama engineer dan operator sebelum melakukan perubahan yang berdampak pada proses fisik.

  • Vulnerability dan change management: menilai risiko dengan mempertimbangkan maintenance window, perangkat lama dan batasan operasional.

  • Komunikasi lintas fungsi: menerjemahkan temuan teknis menjadi keputusan yang bisa ditindaklanjuti oleh tim engineering, operations dan manajemen.

Kemampuan ini tidak cukup dikembangkan hanya melalui lab IT konvensional. Peserta membutuhkan skenario yang mencerminkan cara lingkungan industri benar-benar bekerja.

Industri Semakin Memperhatikan Kesiapan Menghadapi Insiden

Pada 8 Oktober, European Union Agency for Cybersecurity (ENISA) bersama sejumlah organisasi energi Eropa mengadakan Cybersecurity Energy Forum ke-9 dengan tema ketahanan dan kesiapan jaringan listrik menghadapi serangan siber. Pembahasannya mencerminkan perubahan sistem energi, termasuk distributed generation, smart technology, ketergantungan supply chain dan ketegangan geopolitik yang memperumit perlindungan infrastruktur kritis.

ENISA

+1

NIST juga menerbitkan draft revisi panduan OT security, SP 800-82 Rev. 4, pada 21 September 2026. Masa penyampaian komentar publik berlangsung hingga 30 November 2026. Organisasi dapat memanfaatkan pembaruan ini untuk meninjau kembali praktik keamanan OT sesuai risiko dan kebutuhan operasional terkini.

CSRC

+1

Implikasinya bagi workforce cukup jelas: organisasi membutuhkan profesional yang mampu menghubungkan security control dengan kondisi nyata di lingkungan industri.

Latih Pengambilan Keputusan, Bukan Hanya Deteksi

Latihan OT yang berguna perlu memberikan peserta skenario industri yang realistis, diagram jaringan, informasi aset dan bukti aktivitas mencurigakan. Tugas mereka adalah menginvestigasi insiden, mengidentifikasi komponen terdampak dan mengusulkan containment tanpa menganggap bahwa mematikan seluruh sistem selalu menjadi pilihan paling aman.

Engineer dan praktisi security perlu menyelesaikan skenario bersama. Latihan tersebut harus menguji kemampuan mereka menjelaskan risiko, menyepakati prioritas dan menjaga keselamatan operasional selama penanganan insiden.

Pendekatan praktik ini sejalan dengan tujuan ITSEC Cyber & AI Academy untuk membantu peserta membangun kemampuan cybersecurity melalui pembelajaran terstruktur dan hands-on practice. OT security juga membutuhkan lingkungan latihan khusus serta panduan dari praktisi yang memahami sistem industri.

Tujuannya adalah mempersiapkan profesional mengambil keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan ketika keamanan siber dan kelangsungan operasional saling berkaitan.

Pelajari program cybersecurity dan AI di ITSEC Cyber & AI Academy.

Referensi

  1. European Union Agency for Cybersecurity (ENISA). “9th E.DSO – EE-ISAC – ENCS – ENISA Cybersecurity Energy Forum”. 8 Oktober 2026.

  2. National Institute of Standards and Technology (NIST). “Guide to Operational Technology (OT) Security, SP 800-82 Rev. 3”. September 2023.

  3. NIST. “Operational Technology Security Publications”. Termasuk draft SP 800-82 Rev. 4 yang diterbitkan 21 September 2026.

  4. European Network for Cyber Security (ENCS). “Register for the 9th E.DSO–EE-ISAC–ENCS–ENISA Cybersecurity Energy Forum”. 14 Juli 2026.

Share this post

You may also like

Mengapa Cybersecurity Awareness Penting bagi Organisasi Modern
Cybersecurity

Mengapa Cybersecurity Awareness Penting bagi Organisasi Modern

PENDAHULUAN Seiring organisasi terus mengadopsi layanan cloud, model kerja jarak jauh, dan teknologi berbasis AI, risiko siber tidak lagi terbatas pada kerentanan teknis semata. Penyerang kini semakin berfokus pada manusia memanfaatkan perilaku, kepercayaan, dan alur kerja sehari-hari untuk mendapatkan akses tidak sah ke sistem dan data. Serangan phishing, social engineering, dan teknik impersonasi semakin canggih, bahkan mampu melewati kontrol keamanan yang sudah maju. Dalam lanskap ancaman yang terus berkembang ini, cybersecurity awareness menjadi faktor krusial dalam menentukan seberapa efektif organisasi dapat mencegah, mendeteksi, dan merespons insiden siber. Artikel ini membahas mengapa cybersecurity awareness penting, tantangan yang dihadapi organisasi dalam membangunnya, serta bagaimana awareness mendukung keamanan siber yang lebih kuat. APA ITU CYBERSECURITY AWARENESS? Cybersecurity awareness merujuk pada kemampuan individu dalam sebuah organisasi untuk mengenali risiko siber dan bertindak secara aman saat berinteraksi dengan sistem digital, data, dan teknologi. Pada konteks enterprise, cybersecurity awareness tidak hanya menjadi tanggung jawab tim IT atau keamanan. Awareness berlaku bagi seluruh karyawan, mitra, dan pemangku kepentingan yang memiliki akses ke sumber daya organisasi atau menangani informasi sensitif. Cybersecurity awareness umumnya mencakup: ● Mengenali

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Jan 19, 2026 — 4 minutes read
Keamanan Siber di Sektor Kesehatan Asia Tenggara: Mengapa Sistem Data Pasien Adalah Pertahanan Baru
Cybersecurity

Keamanan Siber di Sektor Kesehatan Asia Tenggara: Mengapa Sistem Data Pasien Adalah Pertahanan Baru

PENDAHULUAN Apa yang dibutuhkan seorang penyerang untuk mengompromikan data rekam medis pribadi 1,5 juta pasien, termasuk seorang perdana menteri yang sedang menjabat? Dalam kasus SingHealth pada 2018, jawabannya ternyata hanya satu celah kerentanan yang belum ditambal, sebuah email phishing, dan hampir satu tahun akses yang tidak terdeteksi sebelum ada yang menyadari sesuatu telah salah. Investigasi yang menyusul menemukan bahwa tidak ada penetration test yang pernah dilakukan, tidak ada autentikasi dua faktor yang diaktifkan pada sistem-sistem kritis, dan keamanan siber diperlakukan sebagai urusan manajemen IT semata bukan sebagai risiko organisasi. Komite Penyelidik mendeskripsikan kegagalan-kegagalan tersebut sebagai serangkaian peluang yang terlewat, yang bahkan seorang penyerang dengan kemampuan jauh lebih rendah pun bisa mengeksploitasi dengan cara yang sama. Itu terjadi pada 2018. Sejak saat itu, ancaman terhadap sistem layanan kesehatan di Asia Tenggara tidak berkurang. Ancaman itu justru terindustrialisasi. Serangan siber di kawasan ini berlipat ganda pada 2024 dibandingkan tahun sebelumnya, dengan sektor kesehatan secara konsisten masuk dalam daftar target utama bersama keuangan dan pemerintahan. Secara global, sektor kesehatan menyumbang 23% dari seluruh pelanggaran data pada

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Jun 30, 2026 — 8 minutes read
7 Kriteria Utama Managed Security Services Providers Berkualitas yang Wajib Diketahui Perusahaan
Cybersecurity

7 Kriteria Utama Managed Security Services Providers Berkualitas yang Wajib Diketahui Perusahaan

PENDAHULUAN Ancaman siber tidak lagi menunggu perusahaan lengah. Serangan terjadi setiap saat, lintas sektor, dan semakin sulit dideteksi tanpa sistem pemantauan yang terintegrasi. Menurut Gartner, 90% anggota dewan direksi non-eksekutif tidak memiliki keyakinan atas nilai yang diperoleh organisasi mereka dari investasi keamanan siber, sebuah kesenjangan yang semakin melebar antara harapan kepemimpinan dan kapasitas tim internal.  Di sinilah Managed Security Services (MSS) berperan. Namun tidak semua penyedia layanan memberikan perlindungan yang setara. Banyak perusahaan baru menyadari kelemahan vendor mereka justru ketika insiden sudah terjadi. Artikel ini membahas tujuh kriteria yang harus menjadi acuan evaluasi sebelum Anda menandatangani kontrak dengan penyedia Managed Security Services. Sumber: gartner.com [http://gartner.com], issglobal.com [https://issglobal.com/perspectives/what-are-managed-security-services/] MENGAPA PEMILIHAN MSS YANG TEPAT SANGAT KRITIS? Sepanjang 2024 hingga 2025, perusahaan di sektor kesehatan, otomotif, keuangan, pertahanan, dan teknologi mengalami pelanggaran besar yang menelan kerugian miliaran dolar, mengekspos jutaan data, dan melumpuhkan operasional selama berbulan-bulan.  [https://www.manageengine.com/products/desktop-central/blog/the-security-gaps-that-caused-2025s-biggest-breaches.html] Pola yang ditemukan cukup mengejutkan: insiden-insiden ini bukan serangan canggih yang tak bisa dicegah, melainkan mengeksploitasi kelemahan yang sebenarnya bisa dihindari seperti kerentanan yang tidak ditambal, miskonfigurasi, kredensial yang dicuri, kontrol identitas yang lemah,

|
Apr 30, 2026 — 6 minutes read

Receive weekly
updates on new posts

Subscribe