Logo
Cybersecurity

Pipeline Talenta Cybersecurity Membutuhkan Lebih dari Sekadar Lulusan Baru

Menarik minat orang terhadap cybersecurity hanyalah langkah pertama. Mereka juga membutuhkan akses ke training praktis, mentor dan jalur yang jelas menuju dunia kerja.

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Okt 09, 2026
Pipeline Talenta Cybersecurity Membutuhkan Lebih dari Sekadar Lulusan Baru

Cybersecurity punya banyak alasan untuk menarik talenta baru. Ada technical role, policy, incident response, digital forensics, security engineering, governance serta semakin banyak pekerjaan yang berhubungan dengan AI.

Namun akses terhadap jalur tersebut belum merata.

Program Her CyberTracks dari ITU memberikan gambaran yang cukup jelas. Perempuan hanya mencakup 22% workforce cybersecurity global pada 2025. ITU juga mengidentifikasi akses training yang tidak merata, kurangnya role model perempuan dan rendahnya awareness mengenai pilihan karier cybersecurity sebagai beberapa hambatan utama. ITU

Edisi keempat Her CyberTracks yang berlangsung hingga Oktober 2026 dirancang untuk menjawab sebagian persoalan tersebut. Programnya menggabungkan technical dan policy training dengan mentoring, networking serta practical exercise. Pelatihan regional Asia-Pacific dijadwalkan pada 12–16 Oktober di Bangkok. ITU

Ada pelajaran yang relevan untuk workforce planning: pengembangan talenta membutuhkan ekosistem di sekitar peserta belajar.

Training Membuka Pintu. Mentor Membantu Orang Terus Berjalan.

Sebuah course cybersecurity dapat mengajarkan bagaimana incident response bekerja. Namun course tersebut tidak otomatis menunjukkan seperti apa karier di bidang incident response enam bulan kemudian.

Di sinilah mentoring punya fungsi yang nyata.

Model Her CyberTracks dari ITU memasangkan technical education dan practical exercise dengan mentoring dari profesional senior. Incident Response CyberTrack 2026, misalnya, mencakup cyber drill preparation, incident response, digital forensics, threat intelligence serta communication skills. Kemampuan peserta juga dinilai melalui simulation dan group exercise. ITU Academy

Kombinasi tersebut membantu menjawab beberapa persoalan workforce sekaligus:

  • Peserta mendapatkan skill teknis untuk dipraktikkan
  • Mentor memberi konteks mengenai penggunaan skill tersebut di tempat kerja
  • Peserta melihat lebih banyak pilihan karier daripada satu gambaran tentang “pekerjaan cyber”
  • Peer network memudahkan peserta bertanya dan menemukan peluang
  • Practical exercise menunjukkan kemampuan di luar sertifikat

Poin terakhir cukup penting. CV dapat mengatakan seseorang pernah mempelajari incident response. Simulasi realistis bisa menunjukkan bagaimana orang tersebut mengambil keputusan ketika evidence belum lengkap dan waktu terus berjalan.

Keberagaman Juga Memengaruhi Talent Pool

Strategi workforce yang hanya mengambil talenta dari kelompok yang sempit pada akhirnya akan berhadapan dengan talent pool yang sempit.

Pendekatan ITU menggabungkan participation dengan capability. Programnya mencakup technical subject sekaligus communication, leadership, policy dan networking. Cyber & AI CyberTrack juga mencakup AI fundamentals, AI threats, governance, cyber readiness serta scenario planning. ITU Academy

Model tersebut sesuai dengan cara cybersecurity bekerja di dunia nyata. Tim security membutuhkan orang yang bisa menganalisis system, menjelaskan risiko, berkoordinasi ketika incident terjadi dan mengambil keputusan dalam tekanan.

Latar belakang yang berbeda tentu tidak otomatis menghasilkan keputusan security yang lebih baik. Namun ketika lebih sedikit orang mendapatkan akses ke training dan professional network, kesempatan untuk menemukan practitioner dengan kemampuan luar biasa juga ikut berkurang.

Buat Jalurnya Terlihat

Bagi educator dan employer, pertanyaannya adalah bagaimana mengubah ketertarikan menjadi progression.

Jalur yang jelas dapat menghubungkan:

  1. Exposure: memperkenalkan student dan career changer kepada berbagai cybersecurity role.
  2. Practice: menyediakan lab, simulation dan technical project.
  3. Mentorship: menghubungkan peserta dengan profesional yang sudah menjalankan pekerjaannya.
  4. Experience: menyediakan internship, apprenticeship atau supervised assignment.
  5. Progression: menjelaskan skill dan responsibility berikutnya dengan jelas.

Pendekatan tersebut sejalan dengan model ITSEC Cyber & AI Academy, yang menggabungkan skills assessment, structured learning dan practical cyber range untuk cybersecurity dan AI. Peserta dapat memahami posisi mereka, berlatih mengerjakan tugas dan melihat langkah berikutnya. ITSEC Academy

Workforce cybersecurity tidak bertambah hanya karena semakin banyak orang mengenal bidang ini.

Talenta bertambah ketika semakin banyak orang bisa melihat jalurnya dan benar-benar punya kesempatan untuk menempuhnya.

Pelajari program cybersecurity dan AI berbasis praktik di ITSEC Cyber & AI Academy.

Referensi

  1. International Telecommunication Union, “Her CyberTracks,” diperbarui 2026
  2. ITU Academy, “Her CyberTracks – Incident Response CyberTrack 2026,” 11 Mei–31 Oktober 2026
  3. ITU, “Her CyberTracks Regional Asia-Pacific Training,” 12–16 Oktober 2026
  4. ITU Academy, “Her CyberTracks – Cyber and AI CyberTrack 2026,” 11 Mei–31 Oktober 2026
  5. ITSEC Cyber & AI Academy, “ITSEC Cyber & AI Academy,” diakses Oktober 2026
Share this post

You may also like

Cybersecurity Roadmap: Mengapa Penting dalam Mengelola Risiko Enterprise Saat Ini
Cybersecurity

Cybersecurity Roadmap: Mengapa Penting dalam Mengelola Risiko Enterprise Saat Ini

PENDAHULUAN Banyak organisasi telah berinvestasi besar pada berbagai tools keamanan, namun tetap kesulitan menjelaskan postur keamanan mereka secara menyeluruh. Hal ini sering kali bukan disebabkan oleh kurangnya teknologi, melainkan karena tidak adanya arah yang jelas. Seiring semakin kompleksnya lingkungan digital, keputusan keamanan kini tersebar di berbagai area mulai dari cloud platform, endpoint jarak jauh, integrasi pihak ketiga, hingga sistem berbasis AI. Berdasarkan temuan yang disoroti oleh World Economic Forum [https://www.weforum.org/], risiko siber saat ini bukan lagi soal satu celah keamanan, melainkan akumulasi dari upaya keamanan yang terfragmentasi di lingkungan yang saling terhubung. Tanpa perencanaan yang jelas, inisiatif keamanan cenderung bersifat reaktif. Kontrol keamanan ditambahkan sebagai respons terhadap insiden, audit, atau rekomendasi vendor, bukan sebagai bagian dari strategi yang terkoordinasi. Di sinilah Cybersecurity Roadmap menjadi sangat krusial. Roadmap menyediakan kerangka terstruktur untuk menetapkan prioritas, menyusun tahapan peningkatan keamanan, serta menyelaraskan keamanan dengan risiko bisnis. Panduan industri seperti NIST Cybersecurity Framework (CSF) [https://www.nist.gov/cyberframework] menekankan bahwa pendekatan ini membantu organisasi beralih dari tindakan keamanan yang terisolasi menuju postur pertahanan yang terpadu dan resilien. APA ITU CYBERSECURITY ROADMAP? Cybersecurity Roadmap adalah

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Jan 22, 2026 — 5 minutes read
Standar Talenta Cybersecurity Pemula Mulai Berubah
Cybersecurity

Standar Talenta Cybersecurity Pemula Mulai Berubah

Dulu, jalur awal karier cybersecurity cukup mudah ditebak. Pelajari jaringan. Pahami access control. Kenali security operations. Setelah punya pengalaman, barulah masuk ke teknologi yang lebih baru dan rumit. AI mulai mengacak urutan itu. Pada 1 September 2026, ISC2 mulai menggunakan pembaruan materi untuk sertifikasi entry-level Certified in Cybersecurity, perubahan besar pertama sejak sertifikasi tersebut diluncurkan pada 2022. Konsep dasar AI kini masuk ke dalam materi, termasuk mengenali aset AI, ancaman otomatis dan tata kelola teknologi baru yang aman. Panduan AI terbaru mereka juga menunjukkan arah yang sama. Profesional cybersecurity semakin perlu memahami AI governance, keamanan model, integritas data, prompt engineering, manajemen risiko AI dan keamanan sistem yang menggunakan AI. Daftarnya lumayan panjang untuk topik yang belum lama ini masih dianggap spesialis. KEAMANAN AI MULAI TURUN KE LEVEL PEMULA Alasannya cukup praktis. Sistem berbasis AI mulai masuk ke operasional perusahaan sehari-hari. Di sisi lain, AI juga dapat digunakan untuk phishing, rekayasa sosial dan serangan yang semakin otomatis. Indonesia sudah menghadapi perubahan tersebut. Pada 20 Agustus, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengingatkan bahwa AI telah mengubah

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Sep 03, 2026 — 3 minutes read
Celah Keamanan yang Tidak Bisa Diabaikan oleh Institusi Keuangan Indonesia
Cybersecurity

Celah Keamanan yang Tidak Bisa Diabaikan oleh Institusi Keuangan Indonesia

PENDAHULUAN Antara akhir 2024 hingga 2025, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Indonesia Anti-Scam Center (IASC) mencatat sekitar 274.000 kasus penipuan dengan total kerugian masyarakat melebihi IDR 6 triliun. Angka itu belum mencakup gangguan operasional dan dampak reputasi dari insiden besar seperti kebocoran BI-Fast 2024, yang mendorong OJK melakukan inspeksi darurat terhadap bank pembangunan daerah di seluruh Indonesia. Sektor keuangan Indonesia tidak sedang menghadapi ancaman yang datang berkala. Ancaman itu beroperasi sepanjang waktu, dan memperlakukan validasi keamanan sebagai formalitas setahun sekali adalah salah satu asumsi paling berbahaya yang bisa dibuat oleh bank atau perusahaan fintech saat ini. Penetration test tahunan sudah menjadi norma industri, dan selama bertahun-tahun dianggap cukup. Logikanya masuk akal: uji sistem sebelum produksi, dokumentasikan temuan, perbaiki yang kritis, dan ulangi dua belas bulan kemudian. Model itu masuk akal ketika lingkungan relatif statis, ketika API belum menjadi tulang punggung setiap integrasi produk, dan ketika penyerang belum menjalankan alat otomatis secara terus-menerus di seluruh internet. Tidak satu pun dari kondisi itu yang berlaku hari ini. ITSEC Asia, perusahaan keamanan siber terkemuka di Indonesia

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Jun 30, 2026 — 6 minutes read

Receive weekly
updates on new posts

Subscribe