Logo
Cybersecurity

Standar Talenta Cybersecurity Pemula Mulai Berubah

Anak tangga pertama dalam karier cybersecurity mulai bergeser. Pemahaman keamanan AI kini perlahan masuk ke kemampuan yang perlu dimiliki sejak awal.

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Sep 03, 2026
Standar Talenta Cybersecurity Pemula Mulai Berubah

Dulu, jalur awal karier cybersecurity cukup mudah ditebak. Pelajari jaringan. Pahami access control. Kenali security operations. Setelah punya pengalaman, barulah masuk ke teknologi yang lebih baru dan rumit.

AI mulai mengacak urutan itu.

Pada 1 September 2026, ISC2 mulai menggunakan pembaruan materi untuk sertifikasi entry-level Certified in Cybersecurity, perubahan besar pertama sejak sertifikasi tersebut diluncurkan pada 2022. Konsep dasar AI kini masuk ke dalam materi, termasuk mengenali aset AI, ancaman otomatis dan tata kelola teknologi baru yang aman.

Panduan AI terbaru mereka juga menunjukkan arah yang sama. Profesional cybersecurity semakin perlu memahami AI governance, keamanan model, integritas data, prompt engineering, manajemen risiko AI dan keamanan sistem yang menggunakan AI.

Daftarnya lumayan panjang untuk topik yang belum lama ini masih dianggap spesialis.

Keamanan AI Mulai Turun ke Level Pemula

Alasannya cukup praktis.

Sistem berbasis AI mulai masuk ke operasional perusahaan sehari-hari. Di sisi lain, AI juga dapat digunakan untuk phishing, rekayasa sosial dan serangan yang semakin otomatis.

Indonesia sudah menghadapi perubahan tersebut. Pada 20 Agustus, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengingatkan bahwa AI telah mengubah cara kejahatan siber dilakukan, termasuk melalui deepfake dan rekayasa sosial berbasis AI. Ia mendorong pendekatan security by design, agar keamanan dipikirkan sejak teknologi mulai dikembangkan.

Bagi orang yang baru masuk ke dunia cybersecurity, standar dasarnya ikut berubah.

Seorang analis junior semakin mungkin menghadapi pertanyaan seperti: Data apa yang bisa diakses sistem AI ini? Apakah output-nya dapat membocorkan informasi sensitif? Apakah tindakan otomatisnya sesuai harapan? Apa yang terjadi jika input-nya dimanipulasi?

Kalau pertanyaan seperti itu sudah muncul di sistem sehari-hari, keamanan AI sulit terus dianggap sebagai materi “untuk nanti”.

Fundamental Tetap Fundamental

Ini bukan alasan untuk melewati dasar jaringan lalu langsung belajar prompt injection.

Access control tetap perlu dipahami. Network security tetap dibutuhkan. Incident response tetap membutuhkan orang yang mengerti apa yang sedang mereka lihat. Kerangka entry-level yang baru pun masih mencakup prinsip keamanan, business continuity, access control, network security dan security operations.

Yang berubah adalah lapisan di atasnya.

Analis junior ke depan membutuhkan fundamental tersebut sekaligus pemahaman AI yang cukup untuk mengetahui bagaimana prinsip keamanan diterapkan ketika software bisa menghasilkan konten, memberikan rekomendasi bahkan menjalankan tugas secara mandiri.

Di sinilah latihan praktis menjadi semakin relevan. Membaca contoh kegagalan keamanan AI tentu berguna. Namun mencari sendiri apa yang salah lalu menentukan respons biasanya jauh lebih membekas.

Di ITSEC Cyber & AI Academy, hubungan antara cybersecurity dan AI menjadi bagian dari pendekatan pembelajaran, didukung latihan praktis dan skenario yang lebih dekat dengan situasi di dunia kerja.

Posisi entry-level cybersecurity tidak hilang.

Deskripsi pekerjaannya saja mulai bertambah panjang.

Pelajari program cybersecurity dan AI berbasis praktik di ITSEC Cyber & AI Academy.

Referensi: Pembaruan kerangka entry-level ISC2, 6 Agustus 2026 · Panduan AI security ISC2, 1 September 2026 · Komdigi mengenai kejahatan siber berbasis AI dan security by design, 20 Agustus 2026

Share this post

You may also like

Mengapa Pen-Test Tahunan Sudah Tidak Lagi Cukup di Tengah Lanskap Ancaman Siber yang Terus Berubah
Cybersecurity

Mengapa Pen-Test Tahunan Sudah Tidak Lagi Cukup di Tengah Lanskap Ancaman Siber yang Terus Berubah

Tidak sedikit orang yang rutin melakukan medical check-up setiap tahun untuk memastikan kondisi kesehatannya tetap baik. Namun, tidak ada yang benar-benar berasumsi bahwa hasil pemeriksaan tersebut menjamin semuanya akan baik-baik saja selama setahun penuh. Kondisi tubuh bisa berubah. Pola hidup berubah. Risiko penyakit baru dapat muncul sewaktu-waktu. Karena itu, menjaga kesehatan bukan hanya soal melakukan pemeriksaan tahunan, tetapi juga soal pemantauan dan kebiasaan yang dilakukan secara berkelanjutan. Prinsip yang sama berlaku dalam dunia keamanan siber. Selama bertahun-tahun, penetration test tahunan telah menjadi praktik yang umum dilakukan perusahaan. Organisasi menjadwalkan assessment, menerima laporan, melakukan perbaikan, lalu mengulang proses yang sama pada tahun berikutnya. Pada masanya, pendekatan ini cukup memadai karena lingkungan teknologi belum berubah secepat sekarang. Namun situasinya berbeda saat ini. Cloud semakin banyak digunakan. API menjadi fondasi berbagai layanan digital. Tim pengembang merilis fitur baru secara berkala, sementara integrasi dengan pihak ketiga semakin kompleks. Dalam kondisi seperti ini, permukaan serangan sebuah organisasi juga berubah secara terus-menerus. Sebuah sistem yang dinyatakan aman enam bulan lalu bisa saja memiliki profil risiko yang sangat berbeda hari ini. Hal tersebut

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Jan 09, 2026 — 5 minutes read
Celah Keamanan yang Tidak Bisa Diabaikan oleh Institusi Keuangan Indonesia
Cybersecurity

Celah Keamanan yang Tidak Bisa Diabaikan oleh Institusi Keuangan Indonesia

PENDAHULUAN Antara akhir 2024 hingga 2025, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Indonesia Anti-Scam Center (IASC) mencatat sekitar 274.000 kasus penipuan dengan total kerugian masyarakat melebihi IDR 6 triliun. Angka itu belum mencakup gangguan operasional dan dampak reputasi dari insiden besar seperti kebocoran BI-Fast 2024, yang mendorong OJK melakukan inspeksi darurat terhadap bank pembangunan daerah di seluruh Indonesia. Sektor keuangan Indonesia tidak sedang menghadapi ancaman yang datang berkala. Ancaman itu beroperasi sepanjang waktu, dan memperlakukan validasi keamanan sebagai formalitas setahun sekali adalah salah satu asumsi paling berbahaya yang bisa dibuat oleh bank atau perusahaan fintech saat ini. Penetration test tahunan sudah menjadi norma industri, dan selama bertahun-tahun dianggap cukup. Logikanya masuk akal: uji sistem sebelum produksi, dokumentasikan temuan, perbaiki yang kritis, dan ulangi dua belas bulan kemudian. Model itu masuk akal ketika lingkungan relatif statis, ketika API belum menjadi tulang punggung setiap integrasi produk, dan ketika penyerang belum menjalankan alat otomatis secara terus-menerus di seluruh internet. Tidak satu pun dari kondisi itu yang berlaku hari ini. ITSEC Asia, perusahaan keamanan siber terkemuka di Indonesia

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Jun 30, 2026 — 6 minutes read
Mencari Talenta Cybersecurity Berpengalaman, Siapa yang Melatih Pemula?
Cybersecurity

Mencari Talenta Cybersecurity Berpengalaman, Siapa yang Melatih Pemula?

Bagi pencari kerja di bidang teknis, ada satu pertanyaan yang cukup membingungkan: bagaimana mendapatkan pengalaman jika sebagian lowongan sudah meminta pengalaman sebelumnya? Di bidang cybersecurity, persoalan ini menjadi tantangan tersendiri karena organisasi membutuhkan profesional yang mampu melindungi sistem, menyelidiki insiden dan mengelola risiko. Riset pemerintah Inggris memberikan gambaran mengenai persoalan tersebut. Dalam laporan Cyber Security Skills in the UK Labour Market 2026 yang diterbitkan pada 29 September 2026, jumlah lulusan cybersecurity meningkat 14% dari tahun akademik 2022/23 ke 2023/24, mencapai 7.950 orang. Namun, pendaftaran program apprenticeship khusus cybersecurity turun 15% antara tahun akademik 2023/24 dan 2024/25. Laporan yang sama memperkirakan pertumbuhan tenaga kerja cybersecurity Inggris hanya mencapai 2% dibandingkan tahun sebelumnya. GOV.UK [https://www.gov.uk/government/publications/cyber-security-skills-in-the-uk-labour-market-2026/cyber-security-skills-in-the-uk-labour-market-2026?utm_source=chatgpt.com] Artinya, bertambahnya jumlah lulusan belum otomatis menjamin tersedianya kandidat yang siap menjalankan pekerjaan operasional. Perusahaan membutuhkan bukti kemampuan praktis, sementara talenta pemula membutuhkan lingkungan untuk mengembangkan kemampuan tersebut. KETIKA MATERI PELATIHAN BELUM CUKUP Cybersecurity memiliki banyak spesialisasi. Analis security operations menyelidiki aktivitas mencurigakan, penetration tester menguji kelemahan sistem dalam lingkungan yang diizinkan, sedangkan spesialis governance menilai kontrol dan risiko. Masing-masing membutuhkan kombinasi pengetahuan,

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Okt 15, 2026 — 3 minutes read

Receive weekly
updates on new posts

Subscribe