Logo
Cybersecurity

Indonesia Makin Banyak Membeli Teknologi Keamanan Siber. Apakah SDM-nya Sudah Siap?

Ketika AI, cloud, dan otomatisasi mengubah cara organisasi menghadapi ancaman siber, Indonesia menghadapi kesenjangan antara teknologi yang digunakan dan kemampuan SDM untuk mengamankannya.

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Agt 27, 2026
Indonesia Makin Banyak Membeli Teknologi Keamanan Siber. Apakah SDM-nya Sudah Siap?

Indonesia terus meningkatkan investasi di bidang keamanan siber seiring perusahaan semakin bergantung pada cloud, AI, dan layanan digital. Platform keamanan juga semakin canggih. Namun, kemampuan orang yang mengoperasikan teknologi tersebut harus berkembang dengan kecepatan yang sama.

Kesenjangan ini semakin sulit diabaikan.

Menurut 2025 ISC2 Cybersecurity Workforce Study, 95% profesional keamanan siber melaporkan adanya kebutuhan keterampilan tertentu di organisasi mereka. AI menjadi kebutuhan keterampilan terbesar dengan 41% responden, disusul cloud security sebesar 36%.

Artinya, persoalannya bukan sekadar kekurangan tenaga keamanan siber. Organisasi membutuhkan SDM dengan keterampilan spesifik untuk mengamankan teknologi yang semakin kompleks.

Teknologi Baru Membutuhkan Keterampilan Baru

Perusahaan yang memindahkan infrastrukturnya ke cloud membutuhkan profesional yang memahami arsitektur cloud, identity and access management, serta kerentanan khusus pada lingkungan cloud.

Organisasi yang menggunakan AI membutuhkan SDM yang memahami cara mengamankan sistem AI sekaligus bagaimana teknologi tersebut dapat dimanfaatkan oleh penyerang.

Tim keamanan yang menggunakan lebih banyak alat otomatisasi juga tetap membutuhkan analis yang mampu memeriksa alert dan membedakan serangan nyata dari false positive.

Keterampilan yang semakin dibutuhkan organisasi antara lain:

  • AI dan AI security
  • Cloud security
  • Penetration testing
  • Threat detection dan incident response
  • Security operations
  • Application dan API security

World Economic Forum Global Cybersecurity Outlook 2026 menemukan bahwa 87% responden melihat kerentanan terkait AI sebagai risiko siber yang pertumbuhannya paling cepat sepanjang 2025.

Seiring penggunaan AI meningkat, profesional keamanan siber perlu memahami dua sisi teknologi ini: bagaimana AI dapat membantu pertahanan dan bagaimana AI dapat menciptakan peluang serangan baru.

Teknologi Keamanan Tidak Bisa Mengambil Semua Keputusan

Menambah perangkat keamanan dapat meningkatkan visibilitas, tetapi tidak menghilangkan kebutuhan terhadap keahlian manusia.

Vulnerability scanner dapat menemukan ratusan temuan. Profesional keamanan tetap harus menentukan kerentanan mana yang dapat dieksploitasi, sistem mana yang terekspos dan masalah mana yang harus segera ditangani.

SIEM dapat menghasilkan ribuan alert. Seseorang tetap harus melakukan investigasi, memahami konteks dan menentukan apakah organisasi benar-benar sedang diserang.

AI dapat mempercepat proses tersebut, tetapi keputusan keamanan tetap membutuhkan penilaian manusia.

Teknologi menyediakan:

  • Security alerts
  • Vulnerability findings
  • Threat intelligence
  • Automated analysis
  • Automated responses

Profesional keamanan siber menyediakan:

  • Investigasi
  • Konteks
  • Risk assessment
  • Prioritas
  • Pengambilan keputusan

2026 Fortinet Cybersecurity Skills Gap Report menemukan bahwa 71% organisasi percaya kesenjangan keterampilan keamanan siber menciptakan risiko tambahan.

Ini membuat keterampilan SDM menjadi bagian langsung dari keamanan sebuah organisasi.

Kesenjangan Pelatihan Juga Perlu Diperhatikan

Pendidikan dan pelatihan keamanan siber perlu mengikuti teknologi yang benar-benar digunakan oleh para profesional.

Memahami konsep keamanan tetap menjadi dasar. Namun, profesional juga membutuhkan pengalaman praktik. Mereka perlu memahami apa yang terjadi ketika kerentanan ditemukan, bagaimana sebuah insiden berkembang dan bagaimana berbagai teknologi keamanan bekerja bersama.

Pelatihan keamanan siber yang praktis perlu memberikan pengalaman dalam:

  • Penetration testing dan vulnerability assessment
  • Investigasi dan respons terhadap insiden
  • Security operations
  • Cloud security
  • AI security
  • Skenario serangan dan pertahanan yang realistis

Hal ini berlaku bagi profesional berpengalaman maupun mereka yang baru memasuki industri keamanan siber. Ketika teknologi terus berubah, peningkatan keterampilan perlu menjadi bagian dari perjalanan karier, bukan hanya dilakukan sekali di awal.

Membangun SDM di Balik Teknologi Keamanan Siber Indonesia

Investasi Indonesia di bidang keamanan siber akan terus berkembang. Namun, teknologi saja tidak cukup untuk menutup kesenjangan keamanan.

Organisasi membutuhkan orang yang memahami cara mengonfigurasi, mengoperasikan dan menguji sistem keamanan yang mereka gunakan. Mereka membutuhkan profesional yang mampu bekerja di persimpangan antara keamanan siber dan teknologi baru seperti AI.

Inilah yang menjadi fokus ITSEC Cyber & AI Academy.

Academy menggabungkan pendidikan cybersecurity dan AI dengan pendekatan yang berorientasi pada keterampilan praktis, membantu profesional dan calon talenta keamanan siber membangun kemampuan yang sesuai dengan teknologi dan ancaman yang berkembang.

Tantangan Indonesia berikutnya bukan hanya menyediakan teknologi keamanan siber yang lebih baik.

Kita juga perlu membangun orang-orang yang mampu menggunakannya.

Bangun keterampilan di balik teknologi.

Kembangkan kemampuan cybersecurity dan AI yang relevan dengan kebutuhan industri melalui ITSEC Cyber & AI Academy.

Kunjungi ITSEC Cyber & AI Academy

Share this post

You may also like

Mengajarkan Penggunaan AI Tanpa Keamanan Sama Saja Baru Setengah dari Pelajaran
Cybersecurity

Mengajarkan Penggunaan AI Tanpa Keamanan Sama Saja Baru Setengah dari Pelajaran

Sebanyak 750 ASN dan non-ASN di empat provinsi Kalimantan mulai mengikuti pelatihan AI pada 7 September. Program BLSDM Komdigi Banjarmasin bersama ASEAN Foundation tersebut membahas dasar AI, etika, implementasi dan satu materi yang layak mendapat perhatian khusus: keamanan data. Kombinasi itu masuk akal. Semakin banyak pekerja menggunakan AI untuk merangkum dokumen, menganalisis informasi, membuat materi dan membantu pekerjaan rutin. Banyak di antaranya bahkan tidak perlu memahami pemrograman. Namun setiap kemampuan baru membawa pertanyaan baru: sebenarnya data apa yang sedang kita berikan kepada AI? SKILL AI PUNYA SISI KEAMANAN Seseorang bisa sangat mahir membuat prompt tetapi tetap mengambil keputusan keamanan yang buruk. Bayangkan seorang karyawan harus merangkum laporan internal yang panjang. Memasukkan dokumen tersebut ke AI mungkin menghasilkan rangkuman yang sangat baik. Pertanyaan apakah dokumen itu boleh dimasukkan sejak awal adalah ujian yang berbeda. Karena itu, pengguna AI perlu memiliki literasi keamanan dasar untuk bertanya: * Informasi apa yang sedang saya masukkan? * Apakah ada data pribadi, rahasia perusahaan atau data pelanggan? * Platform AI mana yang sudah disetujui organisasi? * Bisakah output

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Sep 08, 2026 3 minutes read
Dalam Pelatihan Cybersecurity, Gagal Bisa Jadi Bagian dari Belajar
Cybersecurity

Dalam Pelatihan Cybersecurity, Gagal Bisa Jadi Bagian dari Belajar

Latihan cybersecurity yang semuanya berjalan sesuai rencana memang menenangkan. Mungkin justru terlalu menenangkan. Insiden sebenarnya jarang datang dengan petunjuk yang rapi. Alert yang terlihat sepele bisa berubah menjadi masalah serius. Informasi yang tersedia belum tentu lengkap. Seorang analis bisa mengikuti satu asumsi selama 20 menit sebelum sadar bahwa sejak awal ia melihat ke arah yang salah. Bagian yang berantakan seperti inilah yang perlu lebih sering muncul dalam pelatihan. NIST melalui National Initiative for Cybersecurity Education (NICE) mengangkat pendekatan tersebut dalam pembahasan terbaru mengenai kesiapan talenta siber. Salah satu fokusnya adalah realism-based training, termasuk bagaimana kegagalan dalam lingkungan yang terkontrol dapat digunakan sebagai data untuk melihat kesiapan seseorang. Nilai ujian bisa menunjukkan apakah seseorang menemukan jawaban. Proses menuju jawaban tersebut sering kali memberi informasi yang jauh lebih menarik. JAWABAN YANG SALAH BISA MENUNJUKKAN SKILL YANG KURANG Bayangkan dua analis SOC sedang menyelidiki aktivitas mencurigakan. Keduanya akhirnya menemukan sumber masalah. Analis pertama sampai ke sana melalui investigasi yang sistematis. Analis kedua mencoba lima teori, melewatkan satu petunjuk dan akhirnya menemukan jawabannya karena sedikit keberuntungan. Di atas kertas,

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Sep 04, 2026 3 minutes read
Keamanan Siber di Sektor Kesehatan Asia Tenggara: Mengapa Sistem Data Pasien Adalah Pertahanan Baru
Cybersecurity

Keamanan Siber di Sektor Kesehatan Asia Tenggara: Mengapa Sistem Data Pasien Adalah Pertahanan Baru

PENDAHULUAN Apa yang dibutuhkan seorang penyerang untuk mengompromikan data rekam medis pribadi 1,5 juta pasien, termasuk seorang perdana menteri yang sedang menjabat? Dalam kasus SingHealth pada 2018, jawabannya ternyata hanya satu celah kerentanan yang belum ditambal, sebuah email phishing, dan hampir satu tahun akses yang tidak terdeteksi sebelum ada yang menyadari sesuatu telah salah. Investigasi yang menyusul menemukan bahwa tidak ada penetration test yang pernah dilakukan, tidak ada autentikasi dua faktor yang diaktifkan pada sistem-sistem kritis, dan keamanan siber diperlakukan sebagai urusan manajemen IT semata bukan sebagai risiko organisasi. Komite Penyelidik mendeskripsikan kegagalan-kegagalan tersebut sebagai serangkaian peluang yang terlewat, yang bahkan seorang penyerang dengan kemampuan jauh lebih rendah pun bisa mengeksploitasi dengan cara yang sama. Itu terjadi pada 2018. Sejak saat itu, ancaman terhadap sistem layanan kesehatan di Asia Tenggara tidak berkurang. Ancaman itu justru terindustrialisasi. Serangan siber di kawasan ini berlipat ganda pada 2024 dibandingkan tahun sebelumnya, dengan sektor kesehatan secara konsisten masuk dalam daftar target utama bersama keuangan dan pemerintahan. Secara global, sektor kesehatan menyumbang 23% dari seluruh pelanggaran data pada

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Jun 30, 2026 8 minutes read

Receive weekly
updates on new posts

Subscribe