Logo
Cybersecurity

Skills Gap Cybersecurity Bisa Berawal dari Job Design yang Keliru

Kalau satu lowongan meminta incident response, cloud architecture, penetration testing, compliance dan threat intelligence sekaligus, mungkin masalahnya bukan sekadar kandidat sulit ditemukan.

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Sep 22, 2026
Skills Gap Cybersecurity Bisa Berawal dari Job Design yang Keliru

Job description cybersecurity kadang cukup ambisius.

Perusahaan membutuhkan seseorang yang memahami cloud security, mampu menginvestigasi insiden, menguji aplikasi, mengelola risk, memahami regulasi, mengatur security tools dan kalau terjadi masalah bisa menjelaskannya kepada manajemen.

Pengalaman lima tahun lebih disukai.

Kandidat seperti itu tentu menarik. Proses mencarinya mungkin sedikit panjang.

European Cybersecurity Skills Framework dari ENISA memberikan gambaran yang lebih realistis. Framework tersebut membagi pekerjaan cybersecurity menjadi 12 professional profile, termasuk Cyber Incident Responder, Cybersecurity Architect, Penetration Tester, Cybersecurity Risk Manager, Digital Forensics Investigator dan Cyber Threat Intelligence Specialist.

Setiap profile memiliki task, knowledge dan competency yang berbeda. Pada saat yang sama, mereka saling bergantung.

Cara melihat skills gap pun perlu ikut berubah.

Periksa Pekerjaannya Sebelum Menyalahkan Talent Pool

Beberapa role tentu bisa overlap, terutama dalam tim yang lebih kecil. User manual ECSF sendiri dibuat fleksibel agar organisasi dapat menyesuaikan pembagian tanggung jawab dengan kebutuhan mereka.

Masalah muncul ketika overlap berubah menjadi tumpukan pekerjaan.

Sebelum membuka lowongan, organisasi bisa memeriksa:

  • Task mana yang memang harus dimiliki role tersebut?
  • Kemampuan mana yang seharusnya berada pada anggota tim lain?
  • Skill apa yang wajib tersedia sejak hari pertama?
  • Skill apa yang masih bisa dikembangkan melalui training?
  • Role tersebut bergantung pada architect, responder, tester atau risk specialist yang mana?
  • Apakah kita sedang mencari satu role atau diam-diam menulis tiga pekerjaan?

Pertanyaan terakhir bisa menghemat waktu rekrutmen cukup banyak.

Cybersecurity Bekerja sebagai Sistem

ENISA menempatkan 12 profile tersebut dalam siklus yang mencakup planning, implementation, operations dan improvement. Strategy, architecture dan risk mendukung tahap perencanaan. Implementer dan educator membangun capability. Incident response, forensics dan threat intelligence mendukung operasi. Penetration testing, research dan audit membantu menemukan kelemahan serta memperbaikinya.

Pembagian tersebut menunjukkan bahwa pekerjaan cybersecurity saling terhubung.

Penetration tester dapat menemukan vulnerability. Seseorang tetap perlu menilai dampaknya terhadap risk. Architect mungkin perlu merancang perubahan. Implementer harus menerapkannya. Auditor kemudian bisa memeriksa apakah control tersebut benar-benar bekerja.

Meminta satu orang mengerjakan seluruh siklus belum tentu menghasilkan tim yang efisien. Bisa jadi hanya menghasilkan hari Selasa yang sangat panjang.

Role yang Jelas Membuat Training Lebih Tepat

Job design yang lebih jelas juga membuat pengembangan skill lebih terarah.

Daripada mengirim seluruh security team ke kurikulum yang sama, perusahaan dapat menyesuaikan training dengan tanggung jawab. Incident responder berlatih investigation dan containment. Penetration tester memperdalam application, API dan infrastructure testing. Architect mengasah secure design. Risk professional belajar menerjemahkan technical finding menjadi konsekuensi bisnis.

ENISA menyebut ECSF dapat membantu HR dan pihak non-teknis dalam resource planning, recruitment dan career development. Framework tersebut juga membantu penyedia training menghubungkan pembelajaran dengan kebutuhan pekerjaan.

Prinsip yang sama relevan dengan pembelajaran praktis di ITSEC Cyber & AI Academy. Hands-on training akan lebih berguna ketika capability yang dituju sudah jelas lalu dilatih melalui skenario yang sesuai dengan role peserta.

Cybersecurity memang masih membutuhkan lebih banyak orang dengan skill yang tepat.

Mungkin kita juga perlu lebih sedikit lowongan yang mencari satu orang untuk menjadi satu departemen security sekaligus.

Pelajari program cybersecurity dan AI berbasis praktik di ITSEC Cyber & AI Academy.

Referensi: ENISA: European Cybersecurity Skills Framework, diperbarui 21 September 2026 · ENISA: ECSF Role Profiles · ENISA: ECSF User Manual

Share this post

You may also like

Masalah Talenta Keamanan Siber Indonesia Bukan Lagi Sekadar Jumlah
Cybersecurity

Masalah Talenta Keamanan Siber Indonesia Bukan Lagi Sekadar Jumlah

Indonesia membutuhkan lebih banyak profesional keamanan siber. Itu sudah jelas. Yang mulai perlu dipertanyakan adalah apakah masalah terbesar kita masih sebatas jumlah. Laporan 2026 SANS | GIAC Cybersecurity Workforce Research Report menemukan bahwa 60% organisasi yang disurvei merasa tim mereka belum memiliki kemampuan yang tepat untuk menghadapi ancaman saat ini. Bahkan, 27% responden melaporkan insiden keamanan yang berkaitan langsung dengan kesenjangan kemampuan. Jadi, punya tim keamanan saja belum cukup. Sebuah perusahaan bisa memiliki banyak tools, dashboard penuh alert dan teknologi yang mahal. Pertanyaan berikutnya jauh lebih sederhana: apakah orang yang menggunakannya tahu apa yang harus dilakukan ketika sesuatu benar-benar terjadi? PEKERJAAN KEAMANAN SIBER BERGERAK CEPAT AI membuat pertanyaan itu semakin relevan. Saat ini AI sudah dapat membantu menganalisis alert, memprioritaskan kerentanan dan menangani sebagian pekerjaan investigasi yang berulang. Pelaku serangan juga dapat menggunakan teknologi yang sama untuk mempercepat dan memperluas serangan. Pada Agustus 2026, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengingatkan bahwa perkembangan agentic AI dapat membuat serangan siber berjalan dengan lebih sedikit keterlibatan manusia secara langsung. Ia juga menyoroti ancaman seperti harvest now,

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Sep 01, 2026 — 3 minutes read
Cybersecurity Indonesia: Ancaman Siber Meningkat dan Pentingnya Strategi Keamanan Digital yang Tepat
Cybersecurity

Cybersecurity Indonesia: Ancaman Siber Meningkat dan Pentingnya Strategi Keamanan Digital yang Tepat

cybersecurity indonesia
cyber security indonesia
cybersecurity di indonesia
cyber security di indonesia
cybersecurity in indonesia
cyber security in indonesia

Indonesia kini menghadapi peningkatan risiko ransomware, phishing, kebocoran data hingga eksploitasi infrastruktur digital yang dapat berdampak terhadap operasional bisnis, layanan publik dan kepercayaan pelanggan. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai sektor seperti pemerintahan, finansial, manufaktur, pendidikan hingga layanan digital menjadi target utama serangan siber. Sebagai perusahaan cybersecurity Indonesia, ITSEC Asia menghadirkan layanan keamanan siber untuk membantu organisasi meningkatkan cyber resilience dan menghadapi ancaman digital modern. -------------------------------------------------------------------------------- MENGAPA CYBERSECURITY INDONESIA MENJADI PRIORITAS NASIONAL? Cybersecurity Indonesia kini bukan lagi sekadar kebutuhan teknis. Keamanan siber telah menjadi bagian penting dari ketahanan bisnis dan ekosistem digital nasional. Pertumbuhan ekonomi digital Indonesia mendorong organisasi untuk mengadopsi teknologi secara lebih cepat. Namun di saat yang sama, ancaman siber juga berkembang melalui: * Serangan ransomware terhadap perusahaan dan institusi * Kebocoran data pelanggan dan data sensitif * Serangan phishing berbasis AI dan social engineering * Ancaman terhadap cloud infrastructure * Eksploitasi aplikasi web dan mobile * Serangan terhadap critical infrastructure Laporan global menunjukkan ransomware terus meningkat secara signifikan pada 2025 dengan banyak sektor industri menjadi target utama. Indonesia juga menghadapi tantangan besar

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Mei 07, 2026 — 3 minutes read
Perlindungan Data dan Hukum Cybersecurity di Wilayah Asia-Pasifik
Cybersecurity

Perlindungan Data dan Hukum Cybersecurity di Wilayah Asia-Pasifik

Info

Selain untuk penjualan dan perdagangan, sebagian besar pengguna internet menggunakannya untuk bersosialisasi dan berinteraksi dengan rekan-rekan secara online, misalnya, ada 3,80 miliar pengguna jaringan media sosial pada Januari 2020, jumlah ini telah meningkat sekitar 9 persen sejak tahun lalu. Kemajuan internet dan teknologi komunikasi terkait memungkinkan akses mudah ke informasi dari mana saja di muka bumi ini, misalnya, pedagang online yang beroperasi di Thailand dapat menawarkan layanannya kepada pelanggan yang tinggal di Uni Eropa dan Amerika Serikat. Untuk menangani penyebaran informasi pribadi baik berupa informasi keuangan, medis, dan jenis informasi pribadi lainnya di seluruh dunia melalui internet, peraturan hukum yang sesuai harus diselesaikan untuk melindungi data pribadi warga negara dan aset digital organisasi saat bekerja online. Menyusul implementasi Peraturan Perlindungan Data Umum (General Data Protection Regulation/GDPR) di Uni Eropa (mulai berlaku pada 25 Mei 2018), yang mengatur perlindungan data dan privasi di negara-negara Uni Eropa serta mengatur transfer data pribadi di luar wilayah Uni Eropa dan EEA , semakin banyak negara di dunia mulai meninjau dan memperkuat undang-undang perlindungan data dan

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Jul 10, 2023 — 11 minutes read

Receive weekly
updates on new posts

Subscribe