Logo
Cybersecurity

Skills Gap Identity Security Ada di Balik Halaman Login

Login adalah bagian yang terlihat. Pekerjaan security yang lebih rumit dimulai dari apa yang dipercaya sistem setelahnya.

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Sep 23, 2026
Skills Gap Identity Security Ada di Balik Halaman Login

Kita cukup familiar dengan authentication. Masukkan credential, buktikan identitas lalu masuk ke aplikasi.

Sistem modern tetap bekerja setelah halaman login menghilang.

Aplikasi menggunakan identity dan access token untuk menentukan apa yang boleh dilakukan user maupun workload. Token mendukung single sign-on, federation dan API access. NIST menyebut token sebagai bagian utama dari access management infrastructure serta zero trust architecture.

Pada 15 September, NIST menyelesaikan IR 8587 dengan keterlibatan CISA. Panduan tersebut membahas perlindungan token dan assertion dari forgery, theft dan misuse, termasuk identity provider, authorization server, cryptographic key protection, token verification serta lifecycle control.

Di balik arsitektur tersebut ada kebutuhan skill yang semakin teknis.

Identity Security Sudah Menjadi Engineering Skill

IAM terkadang terdengar seperti pekerjaan administratif: membuat account, memberikan permission lalu mencabut akses ketika seseorang meninggalkan perusahaan.

Pekerjaan tersebut tetap ada. Cloud application, API dan machine identity menambahkan lapisan teknis yang lebih besar.

Tim cybersecurity semakin perlu memahami:

  • Bagaimana token diterbitkan, divalidasi, diperbarui dan dicabut
  • Bagaimana SSO dan federation memindahkan trust antar sistem
  • Cryptographic key apa yang melindungi token dan bagaimana key tersebut dikelola
  • Bagaimana permission API dibatasi
  • Perbedaan workload identity dengan human identity
  • Telemetry apa yang dapat menunjukkan token misuse
  • Bagaimana identity control bekerja di beberapa cloud service

Panduan final NIST secara khusus menambahkan pertimbangan workload identity dan mendorong penggunaan short-lived token daripada terus bergantung pada static credential dan secret.

Karena itu, identity security juga relevan untuk cloud engineer, application security, security architect dan SOC analyst.

Masalahnya Tidak Selalu Password yang Dicuri

Training perlu mencerminkan bagaimana serangan identity dapat berlangsung setelah proses authentication selesai.

Analyst yang menginvestigasi aktivitas cloud mencurigakan bisa menemukan bahwa attacker tidak pernah menggunakan password korban. Token yang dicuri atau dipalsukan berpotensi memberikan akses tanpa mengulangi authentication awal.

Investigasinya pun berbeda.

Tim perlu memeriksa token issuance, permission, signing infrastructure, session activity dan revocation. Application developer perlu memahami bagaimana sistem memvalidasi token. Architect harus merancang trust relationship dengan hati-hati. SOC membutuhkan telemetry untuk melihat penggunaan yang tidak normal.

Bahkan tombol logout ternyata memiliki cerita lebih panjang. Digital Identity Guidelines dari NIST menjelaskan bahwa access dan refresh token dapat tetap valid setelah authentication session awal berakhir.

Bawa Identity ke Lab

Identity security cocok untuk pembelajaran praktis karena hubungan antar sistem jauh lebih mudah dipahami ketika peserta melihatnya bekerja.

Berikan beberapa aplikasi, identity provider dan API dalam satu environment. Peserta dapat menelusuri authentication, memeriksa permission lalu melihat bagaimana token bergerak antar komponen. Setelah itu, masukkan misconfiguration atau compromised token dan minta peserta mencari akses apa yang menjadi mungkin.

Satu latihan dapat menghubungkan cloud security, application security dan incident response melalui identity chain yang sama.

Pendekatan tersebut relevan dengan ITSEC Cyber & AI Academy, tempat hands-on environment dapat membantu peserta memahami perilaku security control di sistem yang realistis daripada sekadar menghafal diagram IAM.

Password masih penting.

Sistem identity yang mengelilinginya sekarang jauh lebih luas.

Pelajari program cybersecurity dan AI berbasis praktik di ITSEC Cyber & AI Academy.

Referensi: NIST: Protecting Online Identity and Access Tokens From Misuse, 15 September 2026 · NIST IR 8587: Protecting Tokens and Assertions · NIST Digital Identity Guidelines · ENISA NIS Investments 2025

Share this post

You may also like

Bagaimana AI Membantu Mengurangi False Positive dalam Security Assessment?
Cybersecurity

Bagaimana AI Membantu Mengurangi False Positive dalam Security Assessment?

Tim keamanan siber modern menghadapi tantangan yang semakin besar. Jumlah aset terus bertambah, attack surface semakin luas dan berbagai tools keamanan menghasilkan ribuan temuan setiap harinya. Sekilas, semakin banyak temuan mungkin terdengar seperti hal yang positif. Namun dalam praktiknya, tidak semua alert benar-benar menunjukkan adanya risiko yang nyata. Banyak di antaranya merupakan false positive. Ketika tim keamanan harus menghabiskan waktu untuk menyelidiki temuan yang sebenarnya tidak berbahaya, sumber daya menjadi tidak efisien dan risiko yang lebih penting justru berpotensi terlewatkan. Karena pada akhirnya, cybersecurity bukan tentang menghasilkan lebih banyak alert, melainkan memahami risiko yang benar-benar penting. APA ITU FALSE POSITIVE DALAM CYBERSECURITY? False positive terjadi ketika sebuah tools atau assessment menandai sesuatu sebagai ancaman atau kerentanan, padahal temuan tersebut tidak memiliki dampak yang signifikan atau bahkan tidak dapat dieksploitasi sama sekali. False positive dapat berasal dari: * Vulnerability scanner. * Security monitoring tools. * SIEM platform. * Automated security assessment. * Threat detection system. * Konfigurasi atau rule yang kurang tepat. Meskipun tujuan tools tersebut adalah meningkatkan visibilitas, terlalu banyak false positive justru

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Jun 15, 2026 — 5 minutes read
Indonesia Makin Banyak Membeli Teknologi Keamanan Siber. Apakah SDM-nya Sudah Siap?
Cybersecurity

Indonesia Makin Banyak Membeli Teknologi Keamanan Siber. Apakah SDM-nya Sudah Siap?

Indonesia terus meningkatkan investasi di bidang keamanan siber seiring perusahaan semakin bergantung pada cloud, AI, dan layanan digital. Platform keamanan juga semakin canggih. Namun, kemampuan orang yang mengoperasikan teknologi tersebut harus berkembang dengan kecepatan yang sama. Kesenjangan ini semakin sulit diabaikan. Menurut 2025 ISC2 Cybersecurity Workforce Study, 95% profesional keamanan siber melaporkan adanya kebutuhan keterampilan tertentu di organisasi mereka. AI menjadi kebutuhan keterampilan terbesar dengan 41% responden, disusul cloud security sebesar 36%. Artinya, persoalannya bukan sekadar kekurangan tenaga keamanan siber. Organisasi membutuhkan SDM dengan keterampilan spesifik untuk mengamankan teknologi yang semakin kompleks. TEKNOLOGI BARU MEMBUTUHKAN KETERAMPILAN BARU Perusahaan yang memindahkan infrastrukturnya ke cloud membutuhkan profesional yang memahami arsitektur cloud, identity and access management, serta kerentanan khusus pada lingkungan cloud. Organisasi yang menggunakan AI membutuhkan SDM yang memahami cara mengamankan sistem AI sekaligus bagaimana teknologi tersebut dapat dimanfaatkan oleh penyerang. Tim keamanan yang menggunakan lebih banyak alat otomatisasi juga tetap membutuhkan analis yang mampu memeriksa alert dan membedakan serangan nyata dari false positive. Keterampilan yang semakin dibutuhkan organisasi antara lain: * AI dan AI security * Cloud security

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Agu 27, 2026 — 3 minutes read
Cybersecurity Indonesia: Ancaman Siber Meningkat dan Pentingnya Strategi Keamanan Digital yang Tepat
Cybersecurity

Cybersecurity Indonesia: Ancaman Siber Meningkat dan Pentingnya Strategi Keamanan Digital yang Tepat

cybersecurity indonesia
cyber security indonesia
cybersecurity di indonesia
cyber security di indonesia
cybersecurity in indonesia
cyber security in indonesia

Indonesia kini menghadapi peningkatan risiko ransomware, phishing, kebocoran data hingga eksploitasi infrastruktur digital yang dapat berdampak terhadap operasional bisnis, layanan publik dan kepercayaan pelanggan. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai sektor seperti pemerintahan, finansial, manufaktur, pendidikan hingga layanan digital menjadi target utama serangan siber. Sebagai perusahaan cybersecurity Indonesia, ITSEC Asia menghadirkan layanan keamanan siber untuk membantu organisasi meningkatkan cyber resilience dan menghadapi ancaman digital modern. -------------------------------------------------------------------------------- MENGAPA CYBERSECURITY INDONESIA MENJADI PRIORITAS NASIONAL? Cybersecurity Indonesia kini bukan lagi sekadar kebutuhan teknis. Keamanan siber telah menjadi bagian penting dari ketahanan bisnis dan ekosistem digital nasional. Pertumbuhan ekonomi digital Indonesia mendorong organisasi untuk mengadopsi teknologi secara lebih cepat. Namun di saat yang sama, ancaman siber juga berkembang melalui: * Serangan ransomware terhadap perusahaan dan institusi * Kebocoran data pelanggan dan data sensitif * Serangan phishing berbasis AI dan social engineering * Ancaman terhadap cloud infrastructure * Eksploitasi aplikasi web dan mobile * Serangan terhadap critical infrastructure Laporan global menunjukkan ransomware terus meningkat secara signifikan pada 2025 dengan banyak sektor industri menjadi target utama. Indonesia juga menghadapi tantangan besar

ITSEC AsiaITSEC Asia
|
Mei 07, 2026 — 3 minutes read

Receive weekly
updates on new posts

Subscribe